Khutbah Jumat: Meneladani Kerendahan Hati Rasulullah
Rasulullah SAW sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Maulid Al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji, adalah sosok yang sangat rendah hati atau tawadhu’.
Temukan semua artikel keislaman terbaru
Rasulullah SAW sebagaimana dikisahkan dalam Kitab Maulid Al-Barzanji, karya Syaikh Ja’far bin Husin bin Abdul Karim bin Muhammad Al-Barzanji, adalah sosok yang sangat rendah hati atau tawadhu’.
Jum’at termasuk hari yang dimuliakan dalam Islam. Bahkan, dalam hadits riwayat Ibnu Majah disebutkan, “Hari Jum’at adalah hari raya yang dijadikan Allah SWT untuk umat Islam.” Ada banyak keutamaan dan manfaat bila mengerjakan amaliyah sunah Jum’at. Sebab itu, Rasulullah menganjurkan memperbanyak ibadah dan melakukan amalan sunah di hari Jum’at.
Suatu saat beliau bertandang ke rumah salah seorang pemilik perusahaan rokok di kota itu. Ia bernama Turaikhan. Kiai Asnawi mendatangi rumah Turaikhan dengan pakaian biasa layaknya orang umum, tidak berpakaian yang seperti biasa beliau pakai.
Banyak orang berdoa agar Allah SWT memberinya rezeki yang luas sehingga memiliki banyak harta alias menjadi orang kaya; sementara Nabi Muhammad SAW sendiri berdoa agar dihidupkan dan diwafatkan dalam keadaan miskin. Kedua hal yang bertolak belakang ini kadang menimbulkan kebingungan di sebagian kalangan umat Islam sehingga memunculkan pertanyaan sebagaimana judul di atas.
Tiba-tiba saja ada seseorang tergopoh sowan kepada Mbah Kiai Jablawi. Ternyata, saudara orang tersebut sedang mengalami masa kritis di ruang ICU sebuah rumah sakit. Ia mengutarakan bahwa seluruh dokter—baik umum maupun spesialis—telah menyatakan pasrah akan kondisi saudaranya tersebut.
Mengingat begitu pentingnya air dalam beribadah fiqih Islam mengatur sedemikian rupa perihal air, dari membaginya dalam berbagai macam kategori hingga menentukan hukum-hukumnya. Di dalam madzhab Imam Syafi’i para ulama membagi air menjadi 4 (empat) kategori masing-masing beserta hukum penggunaannya dalam bersuci.
Dalam perjalanan hijrah yang menegangkan dan mengharukan, Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan sahabatnya Abu Bakar al-Shiddiq singgah di Quba, kota kecil berjarak kira-kira tujuh kilometer dari kota Madinah. Di kota kecil yang banyak ditumbuhi pohon kurma yang menghijau itu, Nabi tinggal selama empat hari, menurut riwayat lain disebutkan empat belas hari.
Imam Ibrahim bin Adham mendapatkan pelajaran berharga dari hamba sahaya itu. Pengetahuannya tentang menjadi hamba bertambah, bahwa seorang hamba harus menerima apa pun yang ditetapkan tuannya. Namun, tetap saja ada perbedaan besar antara hubungan hamba dengan Tuhan dan hamba dengan tuan (manusia).
Pengalaman batin kerap kali dirasakan mereka pada suasana genting di mana hajat mereka kepada Allah menguat. Saat melewati masa-masa genting, manusia kerap merasakan kedekatan dengan Allah dibanding ketika ibadah formal seperti shalat, puasa, zakat, atau haji. Hal ini disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah RA pada hikmah berikut ini.
Tidak heran bila Imam al-Ghazali dalam kitab kitab Bidâyatul Hidâyah untuk tetap menjaga kerendahan hati tatkala berhubungan dengna siapa pun, baik anak-anak, orang tua, orang berilmu, orang bodoh, bahkan orang kafir. Menurut Imam al-Ghazali, kebaikan final hanya ada di akhirat dan tak seorang pun yang tahu nasib akhir seseorang kecuali Allah.
Suatu hari Rasulullah didatangi seorang perempuan, “Wahai nabi, sesungguhnya aku memiliki ‘dlarrah (sesama istri lain dari sang suami). Apakah aku bersalah jika aku menunjukkan rasa kecukupan pada suamiku itu, padahal ia tidak memberikan hal yang cukup padaku?”
Pujian orang lain terhadap kita semacam permen, manis tapi bisa bikin sariawan. Pujian manusia bisa meruntuhkan atau meningkatkan martabat seseorang di sisi Allah. Tetapi pujian hanya menghasilkan rasa malu bagi mereka yang merasa tidak pantas menerima pujian tersebut.