Internasional

Kala Dzikir Dzikrul Ghafilin Menggema di Masjid Al Muhajirin Pyeongtaek, Korsel

NU Online  ·  Sabtu, 21 Maret 2026 | 10:00 WIB

Kala Dzikir Dzikrul Ghafilin Menggema di Masjid Al Muhajirin Pyeongtaek, Korsel

Jamaah Masjid Al Muhajirin Pyeongtaek Korsel pada Ramadhan 1447 (Foto: PCINU Korsel)

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan para pekerja migran di Korea Selatan, denyut spiritualitas umat Muslim Indonesia tetap terjaga. Komunitas Muslim Indonesia (KMI), sebuah organisasi sosial keumatan yang berbasis di negeri ginseng, mencatat setidaknya terdapat 57 masjid dan mushala yang tersebar di berbagai wilayah Korea Selatan. Jaringan ini terbagi dalam lima zona, yakni FKMWU (Forum Komunikasi Masjid Wilayah Utara), KMJJ (Komunitas Muslim Jeollabuk-do, Jeollanam), FKMID (Forum Komunikasi Masyarakat Indonesia Daegu), Mitra Pumita, dan Pulau Jeju.


Mayoritas masjid di Korea Selatan mengamalkan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah Annahdliyah. Setiap akhir pekan, berbagai kegiatan keislaman rutin digelar, mulai dari kajian hingga amaliyah yang bernafaskan nilai-nilai Aswaja. Namun, di antara rutinitas tersebut, ada satu amalan yang terasa istimewa dan berbeda: Dzikrul Ghafilin di Masjid Al Muhajirin Pyeongtaek, yang menjadi bagian dari FKMWU.

 

Selama menjalankan tugas dakwah Ramadhan 1447 H di Korea Selatan, saya menyaksikan langsung bagaimana amalan ini dijaga dan dilestarikan. Dzikrul Ghafilin terbilang jarang dijumpai di masjid-masjid lain di Korea. Justru di sinilah letak keistimewaannya, menjadi oase spiritual yang tumbuh di tengah kesibukan para perantau.

 

Menurut Kang Kusnandi, salah satu Dewan Syuro Masjid Al Muhajirin, dzikir ini pertama kali digagas oleh Kang Nurmansyah dan Kang Anwar, keduanya alumni pesantren di Jawa Timur. Gagasan tersebut muncul dalam pertemuan rutin akhir pekan, dengan tujuan menguatkan dimensi spiritual jamaah agar tidak larut dalam kelalaian.

 

“Atas persetujuan seluruh dewan syuro, pengurus, dan jamaah, dzikir ini kemudian dilaksanakan secara rutin setiap minggu kedua,” ujarnya saat perbincangan di pertengahan Maret 2026.

 

Pada awalnya, amalan ini dijalankan berdasarkan pengalaman pribadi para penggagas. Namun, untuk memastikan adanya mata rantai keilmuan yang jelas dan transmisi yang sah, pengurus kemudian menghubungi Agus Fery, cucu Gus Miek, putra dari Gus Tsabut Pronoto Projo, guna meminta ijazah. Permohonan tersebut disambut baik, sehingga Dzikrul Ghafilin di masjid ini memiliki legitimasi dari sisi thariqah dan dapat diamalkan secara luas.

 

Setiap bulan, tepatnya pada minggu kedua, jamaah berkumpul untuk melaksanakan dzikir secara berjamaah. Kegiatan ini dipimpin secara bergantian oleh para jamaah, dilanjutkan dengan pengajian kitab kuning serta sesi tanya jawab. Suasana yang terbangun terasa hangat dan akrab.

 

“Suasana kebersamaan dalam setiap minggunya terasa seperti kumpul bersama keluarga,” ungkap Kang Lukman.


Rutinitas akhir pekan di masjid ini dimulai sejak malam Sabtu. Para jamaah berkumpul, melaksanakan shalat berjamaah, serta mengikuti berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Kehidupan spiritual di lingkungan masjid pun terasa semakin hidup.

 

Bagi para jamaah yang sebagian besar merupakan pekerja migran Indonesia di Pyeongtaek, kegiatan ini menjadi penyejuk di tengah padatnya aktivitas kerja di pabrik-pabrik sekitar. Dzikrul Ghafilin bukan sekadar rangkaian bacaan, melainkan ruang untuk menenangkan jiwa sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah.

 

“Dzikir ini menjadikan kami tenang batin kami dan tidak lalai kewajiban kami sebagai hamba Allah yang senantiasa berupaya mendekatkan diri kepada-Nya,” ungkap Kang Bagus, pria asal Tulungagung.

 

Ketua Takmir Masjid Al Muhajirin Pyeongtaek berharap, melalui pelaksanaan dzikir berjamaah ini, para jamaah semakin dekat dengan Allah Swt dan memperoleh ketenangan batin. Tak hanya kegiatan keagamaan, masjid ini juga aktif menggelar berbagai aktivitas lain, seperti olahraga bersama, tadabbur alam, hingga makan bersama di warung Indonesia di Korea Selatan, sebagai upaya mempererat persaudaraan di perantauan.

 

Melalui Dzikrul Ghafilin, Masjid Al Muhajirin Pyeongtaek diharapkan terus menjadi pusat pembinaan spiritual bagi Muslim Indonesia di Korea Selatan. Lebih dari itu, ia menjadi ruang bertemunya rindu kampung halaman, persaudaraan, dan ikhtiar menjaga nilai-nilai keislaman di negeri rantau.

 

Moh. Fathurrozi Dai Go Global 2026 dengan penugasan ke Korea Selatan, Ketua Prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir IAI Al Khoziny Buduran.