Khutbah Idul Fitri: Menebar Kebaikan dan Kasih Sayang untuk Semua
NU Online · Jumat, 20 Maret 2026 | 21:05 WIB
Khoirul Anwar
Kolomnis
Idul Fitri bukan sekadar hari raya yang menandai berakhirnya Ramadhan. Lebih dari itu, hari ini merupakan momen penting bagi setiap Muslim untuk meningkatkan ketakwaan, berbagi kebahagiaan, dan menebar kasih sayang kepada sesama.
Naskah Khutbah Idul Fitri dengan judul, “Khutbah Idul Fitri: Menebar Kebaikan dan Kasih Sayang untuk Semua”. Untuk mengunduh dan mencetak naskah khutbah Idul Fitri ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat!
Khutbah I
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَ عِبَادَهُ بِالْإِحْسَانِ إِلَى الضُّعَفَاءِ وَالْمَسَاكِيْنِ، وَأَشَادَ ذِكْرَهُمْ وَرَفَعَ قَدْرَهُمْ فِيْ كِتَابِهِ الْمُبِيْنِ، وَأَمَرَ عَبْدَهُ وَرَسُوْلَهُ مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَدْنُوَ مِنْهُمْ وَيَجْعَلَهُمْ إِلَيْهِ مِنَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَجَعَلَهُمْ فِيْ الدَّارِ الْأَخِرَةِ إِلَى النَّعِيْمِ مِنَ السَّابِقِيْنَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَاةً مُسْتَمِرَّةً إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّاهِرِيْنَ الطَّيِّبِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَ. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ، وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وللهِ الحمدُ
Jamaah shalat Idul Fitri yang Berbahagia
Pada pagi hari Idul Fitri, ketika kita sudah dilarang untuk berpuasa sebagai tanda berakhirnya bulan suci Ramadhan, mari kita manfaatkan momen ini untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Ketakwaan itu tercermin dalam kemampuan kita menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, bukan hanya selama Ramadhan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.
Puasa di bulan Ramadhan diwajibkan dengan tujuan mulia, yaitu agar kita, umat Islam, senantiasa bertakwa kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Baqarah ayat 183:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya; Karena itu, dengan berakhirnya ibadah puasa yang dikerjakan selama satu bulan penuh diharapkan berdampak pada tingkat ketakwaan.
Jamaah Shalat Idul Fitri yang Berbahagia
Ibadah puasa telah memberikan pelajaran kepada kita, bahwa lapar dan dahaga bukanlah kondisi yang mengenakkan. Keduanya adalah keadaan yang tidak disenangi oleh hawa nafsu yang ada di dalam setiap diri manusia, tapi karena puasa menjadi kewajiban yang diperintahkan oleh Allah maka kita pun menjalankannya meski kita memiliki harta yang cukup untuk membeli makan dan minum.
Kita bisa membayangkan bagaimana saudara-saudara kita yang setiap saat selalu dihadapkan dengan kondisi lapar dan dahaga karena terpaksa tidak ada sesuatu yang bisa dimakan, tidak memiliki uang untuk sekedar membeli makanan dan minuman, tentu mereka merasa berat sekali di dalam menjalani kehidupan ini.
Karena itu, salah satu pelajaran dari puasa yang perlu kita tanamkan di hati terdalam yaitu puasa mengajarkan kepada kita untuk berempati kepada mereka yang selalu lapar dan dahaga karena kemiskinan, empati kepada mereka yang belum beruntung secara ekonomi di dalam menjalani kehidupan di dunia ini.
Jamaah Shalat Idul Fitri yang Berbahagia
Empati terhadap fakir miskin dan mereka yang lemah secara ekonomi salah satunya diwujudkan melalui kewajiban membayar zakat fitrah. Zakat fitrah diwajibkan bagi setiap muslim dan diberikan kepada orang-orang yang secara ekonomi belum beruntung. Dalam Al-Qur’an, delapan golongan penerima zakat fitrah atau ashnaf disebutkan, yaitu:
1) fakir, 2) miskin, 3) amil, 4) mualaf, 5) riqab atau para budak supaya merdeka, 6) gharim atau orang yang terlilit hutang dan tidak mampu membayar, 7) orang-orang yang berjuang di jalan Allah (fi sabilillah) seperti sedang jihad dan berdakwah, dan 8) ibnu as-sabil atau orang-orang yang sedang menempuh perjalanan dan kehabisan biaya seperti sedang mencari ilmu.
Delapan golongan (ashnaf) penerima zakat ini semuanya masuk dalam kategori orang-orang yang membutuhkan biaya hidup. Kewajiban zakat salah satunya bertujuan untuk meringankan beban hidup mereka supaya tercipta kesejahteraan sosial.
Dalam fiqih dijelaskan, zakat fitrah wajib ditunaikan maksimal sebelum shalat Idul Fitri. Hal ini bisa kita pahami supaya semua umat Islam memasuki pagi yang mulia ini dapat merasakan kebahagiaan. Orang-orang miskin, fakir, musafir, dan orang-orang yang selama ini berada di dalam kesulitan ekonomi dapat ikut serta merasakan kebahagiaan di hari raya Idul Fitri ini.
Jamaah Shalat Idul Fitri yang Berbahagia
Diceritakan oleh Anas bin Malik RA, suatu ketika Nabi Muhammad SAW keluar rumah untuk mengimami salat Idul Fitri, semua anak kecil asik bermain kecuali ada satu bocah dengan pakaian lusuh duduk termenung dan menangis menyaksikan teman-temannya yang sedang asik bermain.
Nabi SAW bertanya: “Wahai anak kecil, apa yang menjadikanmu menangis? Kenapa kamu tidak ikut bermain bersama mereka?” Anak kecil yang ditanya tidak tahu kalau seorang lelaki yang bertanya adalah seorang utusan Allah (Rasulullah SAW).
Anak kecil itu menjawab: “Wahai lelaki, ayahku sudah wafat, sedangkan ibuku menikah lagi. Ibuku menguasai harta benda peninggalan ayahku, dan suaminya mengusirku dari rumah. Aku tidak punya makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal.
Pada hari ini ketika aku melihat anak-anak yang masih memiliki orang tua bermain dengan riang gembira, aku jadi teringat musibah yang menimpa ayahku dan menjadikan aku begini (merasa kesusahan). Karena alasan inilah, aku menangis.”
Lalu Rasulullah SAW merangkulnya sembari bersabda: “Wahai anak kecil, apakah engkau berkenan jika aku menjadi ayahmu, ‘Aisyah menjadi ibumu, Ali sebagai paman mu, Hasan dan Husain menjadi saudara lelakimu, dan Fathimah menjadi saudara perempuan mu?”
Mendengar tawaran tersebut, anak kecil yang sebelumnya sangat terluka hatinya itu menjadi tahu bahwa sosok lelaki di depannya itu adalah Rasulullah SAW. Bocah itu memberikan jawaban: Kalau begitu bagaimana aku tidak setuju ya Rasulullah?
Lalu Nabi Muhammad SAW membawa anak kecil itu ke rumahnya. Nabi SAW memberinya pakaian bagus, memberi makan, dan mendandaninya hingga terlihat bersih dan gagah.
Anak kecil itu keluar dari rumah Rasulullah SAW dalam keadaan tertawa bahagia.
Melihat anak yang sebelumnya sendirian dan menangis berubah menjadi bahagia, teman-temannya bertanya: “Kenapa sekarang kamu menjadi bahagia padahal sebelumnya menangis dan bersedih?”
Anak itu menjawab: “Sebelumnya saya lapar, sekarang saya kenyang. Sebelumnya saya tidak punya pakaian, sekarang saya berpakaian. Sebelumnya saya tidak punya ayah dan ibu, sekarang saya punya ayah Rasulullah SAW, memiliki ibu Aisyah, punya saudara laki-laki Hasan dan Husain, punya paman Ali, dan punya saudara perempuan Fathimah. Bagaimana saya tidak bahagia?”
Anak-anak kecil yang sebelumnya bermain dengan riang gembira itu menjadi berbalik sedih dan iri. Mereka berkata: “Andai saja ayah kami juga sahid meninggal dunia di jalan Allah, pasti kami pun kini akan bernasib seperti engkau, yakni diangkat menjadi anak Rasulullah SAW.”
Ketika Rasulullah SAW wafat bocah yang diangkat menjadi anak Rasulullah SAW itu sangat terpukul hatinya. Ia berkata: “Kini aku kembali menjadi orang asing yang tidak memiliki kedua orang tua.” Lalu anak itu diadopsi oleh Abu Bakar Ash-Shidiq Radliyallahu Anhu.
Jamaah shalat Idul Fitri yang Dimuliakan Allah
Dua hal tersebut, kewajiban membayar zakat fitrah bagi mereka yang sangat membutuhkan, dan kisah Nabi Muhammad SAW yang membahagiakan anak yatim miskin pada hari raya, memberikan makna mendalam tentang Idul Fitri sebagai hari kebahagiaan (yaum al-farah).
Kebahagiaan Idul Fitri tidak hanya sekadar rasa gembira karena kita telah berbuka, menyelesaikan ibadah puasa, atau memperoleh pahala besar di akhirat kelak. Lebih dari itu, kebahagiaan sejati tercipta ketika kita menebar kebaikan dan berbagi kepada sesama, terutama bagi mereka yang selama ini hidup dalam kesulitan, kelaparan, atau kemiskinan.
Dengan menunaikan zakat fitrah dan membantu yang membutuhkan, setiap Muslim ikut serta dalam menebar sukacita, sehingga Idul Fitri menjadi hari raya yang membahagiakan diri sendiri sekaligus orang lain. Inilah inti dari semangat sosial dan kepedulian yang diajarkan Nabi SAW, menjadikan hari raya lebih dari sekadar perayaan, tetapi juga momentum untuk menyebarkan kasih sayang dan kesejahteraan bagi seluruh umat.
Semoga semangat Idul Fitri yang mendorong setiap orang untuk berbagi melalui kewajiban zakat fitrah terus melekat kepada semua orang di dalam menjalani hari-hari berikutnya untuk terus melakukan kebaikan, berbagi kasih sayang dan kebahagiaan kepada sesama dalam berbagai bentuknya; materi, tenaga, pikiran, tegur sapa, dan ketenangan, serta memberi rasa aman kepada semua.
أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ: قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى، وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى، بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا، وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى. بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ
Khutbah II
اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَتَمَّ لَنَا شَهْرَ الصِّيَامِ، وَأَعَانَنَا فِيْهِ عَلَى الْقِيَامِ، وَخَتَمَهُ لَنَا بِيَوْمٍ هُوَ مِنْ أَجَلِّ الْأَيَّامِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ الواحِدُ الأَحَدُ أَهْلُ الْفَضْلِ وَالْإِنْعَامِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ إلَى جَمِيْعِ الْأَنَامِ، صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ التَّوْقِيْرِ وَالْاِحْتِرَامِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ. إنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى فِيْهِ بِمَلَائِكَتِهِ، فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
وقالَ رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً. اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الْاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.
-------
Khoirul Anwar, Pengasuh Ponpes Al-Insaniyyah Salatiga, Wakil Sekretaris PWNU Jawa Tengah
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Istiqamah Pasca-Ramadhan, Tanda Diterimanya Amalan
2
Muslim Arab dan Eropa Rayakan Idul Fitri 1447 H pada Hari Jumat, 20 Maret 2026
3
Khutbah Jumat: Anjuran Membaca Takbir Malam Idul Fitri
4
Khutbah Idul Fitri 2026: Makna Kemenangan dan Kembali Ke Fitrah
5
Khutbah Idul Fitri Bahasa Arab 2026: Jadilah Hamba Sejati, Bukan Hamba Musiman: Konsistensi dalam Ketaatan Setelah Ramadhan
6
Khutbah Idul Fitri Bahasa Jawa: Idul Fitri Dinten Ganjaran lan Kabingahan
Terkini
Lihat Semua