Khutbah

Khutbah Jumat: Dua Adab Berkomentar di Media Sosial dalam Islam

NU Online  ·  Sabtu, 8 Agustus 2026 | 17:00 WIB

Khutbah Jumat: Dua Adab Berkomentar di Media Sosial dalam Islam

Ilustrasi media sosial. Sumber: Canva.

Teks khutbah Jumat ini mengajak jamaah untuk menjaga adab ketika berkomentar di media sosial. Di antaranya dengan memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya serta menjaga lisan dan ketikan tangan dari ujaran kebencian.


Teks khutbah Jumat berikut berjudul “Khutbah Jumat: Dua Adab Berkomentar di Media Sosial dalam Islam”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini pada tampilan desktop. Semoga bermanfaat.


Khutbah I

الْحَمْدُ لِلهِ. الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْإِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ الْبَيَانَ، وَأَمَرَهُ بِحِفْظِ اللِّسَانِ وَصِيَانَةِ الْجَنَانِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ


قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Marilah kita senantiasa memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah swt. Berkat rahmat dan karunia-Nya, pada siang hari ini kita masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk berkumpul menunaikan ibadah shalat Jumat.


Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw, kepada keluarga, para sahabat, dan semoga juga melimpah kepada kita semua sebagai umatnya. Amin ya Rabbal alamin.


Khatib berwasiat kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita terus meningkatkan ketakwaan kepada Allah swt dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Salah satu bentuk ketakwaan yang penting kita jaga pada zaman sekarang adalah menjaga lisan dan ketikan tangan agar tidak menyakiti orang lain. Jika dahulu seseorang dapat menyakiti orang lain terutama melalui ucapan, sekarang media sosial membuat hal serupa dapat dilakukan melalui tulisan. Satu komentar yang ditulis dalam beberapa detik terkadang dapat melukai hati orang lain, merusak nama baiknya, bahkan menyebar kepada ribuan orang.


Karena itu, menjaga lisan agar tidak mengucapkan keburukan dan menjaga ketikan tangan agar tidak menuliskan komentar buruk di media sosial juga merupakan bagian dari ketakwaan kita kepada Allah.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Dalam salah satu riset disebutkan bahwa setidaknya ada tiga bentuk komentar jahat yang sering ditemukan di media sosial. Pertama, komentar berupa hinaan terhadap fisik atau body shaming, misalnya mengejek bentuk tubuh, warna kulit, atau penampilan seseorang.


Kedua, komentar yang mengarah pada pencemaran nama baik, seperti memberikan tuduhan atau pernyataan yang merusak reputasi seseorang. Ketiga, komentar yang meremehkan kemampuan seseorang dengan nada menjatuhkan


Mirisnya, komentar-komentar semacam itu terkadang muncul hanya karena seseorang ikut-ikutan komentar orang lain, terdorong oleh rasa iri atau tidak suka, atau sekadar ingin meluapkan ketidaksenangan tanpa memikirkan dampaknya.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi adab dan kehormatan sesama manusia. Karena itu, Rasulullah saw berkali-kali mengingatkan umatnya agar menjaga ucapan.


Dalam salah satu hadits, Rasulullah SAW menjelaskan bahwa di antara ciri orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir adalah berbicara dengan perkataan yang baik. Jika tidak mampu berkata baik, maka diam menjadi pilihan yang lebih selamat.


Rasulullah SAW bersabda:


وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ


Artinya: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya ia berbicara baik atau diam.” (HR. Bukhari Muslim).


Hadits yang baru saja khatib bacakan dengan tegas mengajarkan kepada kita untuk menjaga lisan dari perkataan yang dapat menyakiti orang lain. Dalam kehidupan sekarang, pesan hadits ini tentu tidak hanya berlaku pada ucapan yang keluar dari mulut. Ia juga berlaku pada tulisan yang kita ketik melalui telepon genggam, komputer, maupun berbagai platform media sosial.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Karena itu, dalam bermedia sosial, setidaknya ada dua adab penting yang perlu kita perhatikan sebelum memberikan komentar. Pertama, tidak asal menuduh dan memastikan informasi apa pun yang kita terima. Tidak sedikit komentar buruk bermula dari informasi yang sebenarnya belum jelas kebenarannya.

 

Seseorang membaca sebuah unggahan, melihat potongan video, atau memperoleh pesan dari orang lain, lalu langsung mengambil kesimpulan dan memberikan komentar. Padahal, boleh jadi informasi tersebut tidak lengkap, dipotong dari konteksnya, atau bahkan tidak benar.


Karena itu, ketika menerima informasi dari sumber yang belum jelas, kita tidak semestinya langsung mempercayai dan menyebarkannya. Terlebih apabila informasi tersebut menyangkut kehormatan dan nama baik orang lain.


Islam telah mengajarkan pentingnya melakukan tabayun atau memeriksa kebenaran informasi sebelum mengambil sikap. Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 6:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuan(-mu) yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6).


Ayat ini menjadi pengingat bagi kita semua agar tidak terburu-buru dalam menerima maupun menanggapi sebuah informasi. Jangan sampai karena sebuah informasi yang belum jelas, kita ikut menuduh, mencela, atau menyebarkan keburukan tentang seseorang. Sebab, ketika informasi itu ternyata keliru, penyesalan sering kali datang setelah kerugian terjadi.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Kedua, menghindari ujaran kebencian dan tindakan perundungan. Selain memastikan kebenaran informasi, adab berikutnya adalah menjaga diri dari komentar yang menghina, merendahkan, atau menyakiti orang lain.


Misalnya, menghina profesi seseorang, merendahkan bentuk fisiknya, mencela karena perbedaan pilihan politik, mengejek warna kulit, memberikan julukan buruk, ataupun menuliskan komentar yang sengaja dibuat untuk mempermalukan seseorang.


Perbedaan pendapat tentu tidak dilarang. Kita boleh tidak setuju dengan orang lain. Kita juga boleh mengkritik sebuah pendapat. Namun, perbedaan pendapat tidak harus disampaikan dengan penghinaan dan kebencian. Islam mengajarkan agar kehormatan manusia tetap dijaga.


Allah Ta’ala berfirman dalam Surat Al-Hujurat ayat 11:


يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَى أَنْ يَكُوْنُوْا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَى أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوْا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْأَلْقَابِ, بِئْسَ الاِسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْإِيْمَانِ, وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُوْنَ


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok).

 

Janganlah kamu saling mencela satu sama lain dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barangsiapa tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang zalim.” (QS. Al-Hujurat: 11).


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Dalam Tafsirul Munir, juz 26, halaman 252, Syekh Wahbah Az-Zuhaili menjelaskan bahwa ayat tersebut merupakan peringatan kepada umat Islam agar menjaga diri dari menyakiti dan merendahkan orang lain, baik melalui ucapan, perbuatan, maupun isyarat. 


Jika dahulu penghinaan dapat dilakukan dengan ucapan atau isyarat secara langsung, maka pada zaman sekarang penghinaan juga dapat dilakukan dengan komentar, unggahan, gambar, maupun tulisan di media sosial.


Karena itu, sebelum menekan tombol “kirim”, ada baiknya kita bertanya kepada diri sendiri: apakah komentar ini benar? Apakah bermanfaat? Apakah cara penyampaiannya baik? Dan apakah kita siap mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah swt?


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Demikian khutbah Jumat pada kesempatan kali ini. Marilah kita berusaha menjadi Muslim yang bijak dalam menggunakan media sosial. Jangan mudah mempercayai informasi yang belum jelas, jangan mudah menuduh, dan jangan menggunakan jari-jari kita untuk menulis sesuatu yang dapat menyakiti orang lain.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ


Khutbah II

الْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَمَرَ عِبَادَهُ بِالْخَيْرِ وَحَذَّرَهُمْ مِنَ الشَّرِّ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الظَّاهِرَةِ وَالْبَاطِنَةِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنَ الذُّنُوْبِ وَالزَّلَّاتِ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ عَمَلٍ لَا يُرْضِيْهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ


أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ.


اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. 


عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ


Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu.