Khutbah

Khutbah Jumat: Menjadi Pembelajar Sejati di Tengah Era AI

NU Online  ·  Jumat, 19 Juni 2026 | 08:40 WIB

Khutbah Jumat: Menjadi Pembelajar Sejati di Tengah Era AI

Ilustrasi menggunakan laptop. Sumber: Canva.

Perkembangan teknologi hari ini berjalan sangat cepat, terutama dengan hadirnya Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Kehadirannya memang dapat membantu banyak urusan manusia. Namun, kita tetap perlu sadar bahwa AI hanyalah alat. Manusia tetap harus menjadi pembelajar sejati, sebab Allah telah menganugerahkan akal, hati, rasa, dan tanggung jawab moral yang tidak dimiliki oleh mesin.


Teks khutbah Jumat berikut ini berjudul: “Menjadi Pembelajar Sejati di Tengah Arus Kecerdasan Buatan”. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di bagian atas atau bawah artikel ini pada tampilan desktop. Semoga bermanfaat. (Redaksi)


Khutbah I

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ جَعَلَ حُبَّهُ أَشْرَفَ الْمَكَاسِبِ، وَأَعْظَمَ الْمَوَاهِبِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَأَشْكُرُهُ عَلَى نِعْمَةِ الْمَطَاعِمِ وَالْمَشَارِبِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَزَّهُ عَنِ النَّقَائِصِ وَالْمَعَائِبِ، خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ مَاءٍ دَافِقٍ يَخْرُجُ مِنْ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَائِبِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِيْ إِلَى الْهُدَى وَالنُّوْرِ وَطَهَارَةِ النَّفْسِ مِنَ الْمَثَالِبِ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.


فَيَا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ، فهي سبيلُ النجاة والفلاح، قال الله تعالى: بِسْمِ اللّٰهِ الرّٰحْمَنِ الرّٰحِيْمِ، اَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ اٰنَاۤءَ الَّيْلِ سَاجِدًا وَّقَاۤىِٕمًا يَّحْذَرُ الْاٰخِرَةَ وَيَرْجُوْا رَحْمَةَ رَبِّهٖۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِ


Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.

Mengawali khutbah Jumat ini, khatib mengajak diri khatib pribadi dan seluruh jamaah sekalian untuk senantiasa meningkatkan iman dan takwa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Takwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya sesuai dengan kemampuan kita. Takwa bukan hanya ucapan, tetapi bukti kepatuhan seorang hamba kepada Tuhannya. Allah berfirman dalam surah Ali ‘Imran:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa kepada-Nya. Dan janganlah kamu mati kecuali mati dalam keadaan Islam.” (QS. Ali ‘Imran: 102)


Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.

Hari ini kita hidup di zaman yang serba mudah dan cepat. Teknologi tidak lagi hanya menjadi alat komunikasi, tetapi sudah masuk ke hampir seluruh ruang kehidupan manusia. Salah satu lompatan besar yang kita rasakan sekarang adalah hadirnya Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan.


Kecerdasan buatan dapat membantu banyak pekerjaan manusia. Ia bisa membantu menggambar, membuat video yang tampak nyata, menerjemahkan bahasa asing, menyusun tulisan, bahkan menjawab berbagai persoalan yang rumit. Di beberapa bidang, kita juga melihat pekerjaan yang mulai tergantikan oleh teknologi ini. Dari sinilah muncul kekhawatiran: apakah di masa depan tenaga manusia masih dibutuhkan? Bagaimana nasib generasi mendatang?


Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.

Islam tidak pernah alergi terhadap perkembangan teknologi. Justru umat Islam diajarkan untuk membaca perubahan zaman dan mengambil manfaat daripadanya. Sejarah mencatat banyak ilmuwan Muslim yang menguasai sains dan teknologi. Ada Ibnu Sina yang dikenal dalam bidang kedokteran, Al-Khawarizmi dalam bidang aljabar, dan Ibnu Al-Haytam dalam bidang optik.


Dalam menghadapi perkembangan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, ada satu kaidah yang sangat relevan dan masyhur di kalangan Nahdliyin:


اَلْمُحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِحِ وَالْأَخْذُ بِالْجَدِيْدِ الْأَصْلَحِ


Artinya: “Menjaga tradisi terdahulu yang baik dan mengadopsi inovasi baru yang lebih baik.”


Kaidah ini mengajarkan bahwa umat Islam tidak boleh menutup diri dari hal-hal baru. Namun pada saat yang sama, kita juga tidak boleh kehilangan pijakan, nilai, adab, dan prinsip-prinsip agama. Teknologi boleh berubah, tetapi akhlak, ilmu, dan tanggung jawab tetap harus dijaga.


Kehadiran AI dalam kehidupan tidak bisa menggantikan peran manusia. Pada dasarnya, kecerdasan buatan diciptakan untuk membantu manusia, bukan menjadi tujuan akhir yang membuat manusia bergantung sepenuhnya padanya. AI seharusnya digunakan untuk hal-hal yang membawa maslahat, bukan untuk menjerumuskan manusia kepada kemudaratan.


Maka, ada satu kunci utama agar kita tidak terjerumus dalam ketergantungan pada AI, yaitu tetap mengoptimalkan akal dan terus belajar sepanjang hayat. Hal ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:


طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ، وَوَاضِعُ الْعِلْمِ عِنْدَ غَيْرِ أَهْلِهِ كَمُقَلِّدِ الْخَنَازِيرِ الْجَوْهَرَ وَاللُّؤْلُؤَ وَالذَّهَبَ


Artinya: “Mencari ilmu itu wajib bagi setiap muslim, dan orang yang meletakkan ilmu kepada orang yang bukan ahlinya itu seperti orang yang mengalungkan babi dengan permata, mutiara, dan emas.” (HR. Ibnu Majah)


Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.

Dalam konteks hari ini, menyerahkan urusan ilmu sepenuhnya kepada AI, apalagi urusan agama, bisa menjadi bentuk kekeliruan yang serius. AI memang dapat membantu mencari informasi. Namun, ia bukan guru, bukan ulama, bukan kiai, dan bukan ahli yang memiliki sanad keilmuan. Jawaban yang dihasilkan AI bisa benar, tetapi juga bisa keliru, tidak lengkap, tidak bersumber, atau tidak dapat dipertanggungjawabkan.


Contoh sederhananya adalah ketika seseorang menanyakan persoalan agama kepada AI lalu langsung mempercayainya tanpa mengecek kepada guru atau rujukan yang jelas. Ini berbahaya. Seorang Muslim yang menggunakan akalnya tidak akan mudah menerima informasi begitu saja. Ia akan memeriksa kembali, meneliti sumbernya, dan memastikan kebenarannya.


Kewajiban menuntut ilmu tidak dibatasi oleh ruang, waktu, maupun perkembangan zaman. Justru di zaman yang serba cepat ini, manusia semakin dituntut untuk belajar. Dengan ilmu, kita bisa menyaring informasi dengan lebih bijak. Dengan ilmu, kita bisa membedakan mana berita yang benar dan mana yang salah. Dengan ilmu pula, kita dapat meningkatkan kemampuan, memperbaiki diri, dan beradaptasi dengan perubahan zaman.


Karena itu, di tengah derasnya perkembangan kecerdasan buatan, kecerdasan manusia tetap memiliki kedudukan yang lebih mulia. Sebab manusia diberi akal, hati, nurani, tanggung jawab, dan kemampuan untuk membedakan antara baik dan buruk.


Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.

Menjadi manusia adalah nikmat yang luar biasa. Allah menciptakan manusia sebagai makhluk yang mulia dan menganugerahinya akal untuk berpikir. Setinggi dan secanggih apa pun Artificial Intelligence atau AI, ia tetaplah kecerdasan buatan. Ia hanya alat. Ia tidak memiliki empati, kebijaksanaan, rasa spiritual, dan tanggung jawab moral sebagaimana manusia.


Manusia memiliki hati. Manusia bisa merasa sedih, bahagia, takut, berharap, menyesal, dan bertobat. Manusia juga bisa mendidik dirinya agar menjadi lebih baik. Di sinilah letak kemuliaan manusia dibandingkan dengan mesin.


Oleh karena itu, ada tiga sikap utama yang perlu dipegang oleh seorang Muslim di era AI ini. Pertama, bertabayyun dan memverifikasi setiap informasi


Maraknya berita hoaks saat ini sangat membahayakan kehidupan umat. Banyak orang terkena fitnah dan framing buruk akibat berita bohong yang menyebar dengan cepat. Bahkan saat ini, berita palsu bisa dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan, baik dalam bentuk tulisan, gambar, suara, maupun video yang tampak nyata.


Karena itu, Islam mengajarkan kita untuk bertabayyun, yaitu memeriksa dan meneliti kebenaran berita sebelum mempercayai dan menyebarkannya. Allah berfirman dalam surah Al-Hujurat ayat 6:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا ۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika seorang fasik datang kepadamu membawa berita penting, maka telitilah kebenarannya agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena ketidaktahuanmu yang berakibat kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)


Ayat ini sangat relevan dengan kehidupan kita hari ini. Jangan mudah percaya pada informasi yang beredar. Jangan mudah menyebarkan berita hanya karena terlihat menarik. Sebelum membagikan sesuatu, pastikan dulu kebenarannya. Sebab satu berita palsu bisa merusak nama baik, memecah persaudaraan, bahkan menimbulkan permusuhan.


Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.

Kedua, menjaga keberkahan ilmu melalui sanad. Pada zaman sekarang, kita sering melihat orang yang tiba-tiba merasa menjadi ahli agama hanya karena pandai mengutip dalil dari internet, ChatGPT, atau aplikasi AI lainnya. Padahal belajar agama tidak cukup hanya melalui mesin pencari. Ilmu agama membutuhkan bimbingan guru, adab, dan sanad yang jelas.


Belajar agama memerlukan talaqqi, yaitu belajar langsung kepada guru. Duduk di majelis ilmu bersama ulama, kiai, ustadz, dan guru yang memiliki sanad keilmuan merupakan bagian penting dalam menuntut ilmu. Sebab dari seorang guru, kita tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga adab, akhlak, keteladanan, dan keberkahan.


Hal-hal seperti inilah yang tidak bisa diberikan oleh aplikasi kecerdasan buatan apa pun. AI mungkin bisa menyusun jawaban, tetapi ia tidak bisa menanamkan adab. AI mungkin bisa menjelaskan teori, tetapi ia tidak bisa menjadi teladan akhlak. AI mungkin bisa mengutip dalil, tetapi ia tidak bisa menggantikan keberkahan majelis ilmu.


Pentingnya sanad pernah disampaikan oleh Imam Abdullah bin Mubarak:


فقال الإمام عبد الله بن المبارك رحمه الله: الإسناد من الدين، ولولا الإسناد لقال من شاء: ما شاء


Artinya: “Imam Abdullah Mubarak berkata, semoga Allah memberikan kasih sayang kepadanya: Sanad adalah bagian dari agama. Apabila seseorang menyampaikan suatu ilmu tanpa sanad, maka dia akan menyampaikan sesuai dengan kehendak pribadinya.”


Karena itu, mari kita gunakan teknologi sebagai alat bantu, bukan sebagai satu-satunya sumber ilmu. Untuk urusan agama, tetaplah belajar kepada guru yang ilmunya jelas, adabnya jelas, dan sanadnya jelas.


Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.

Ketiga, mengasah akal dan mendidik akhlakul karimah. Hal yang membedakan manusia dari AI adalah hati dan akhlak. AI dapat membantu pekerjaan administratif, menyusun data, menerjemahkan bahasa, atau menjawab pertanyaan teknis. Namun, AI tidak bisa menggantikan pendidikan akhlak yang diberikan oleh orang tua, guru, dan lingkungan yang baik.


Manusia memiliki perasaan. Manusia bisa sedih, senang, bahagia, marah, dan menyesal. Semua itu menjadi tanda bahwa manusia memiliki ruang batin yang harus dididik. Dengan akal, manusia belajar membedakan benar dan salah. Dengan hati, manusia belajar merasakan kebaikan. Dengan akhlak, manusia belajar menempatkan diri secara mulia di hadapan Allah dan sesama.


Karena itu, di era AI ini, kita tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Kita harus menjadi manusia yang terus belajar, berpikir kritis, berakhlak, dan bertanggung jawab.


Jamaah shalat Jumat rahimakumullah.

Mari kita jadikan perkembangan teknologi bukan ancaman, melainkan pengingat. Jika mesin saja dapat berkembang begitu cepat, mengapa kita sebagai manusia yang Allah muliakan justru malas belajar, malas membaca, malas memperbaiki diri, dan enggan meningkatkan kemampuan?


Dari khutbah ini, kita perlu melahirkan generasi yang mampu menguasai teknologi, tetapi tetap memahami batas-batasnya. Generasi yang cerdas menggunakan AI, tetapi tidak bergantung padanya. Generasi yang maju dalam ilmu, tetapi tetap kokoh dalam akhlak dan agama.


Sebab pada akhirnya, Artificial Intelligence diciptakan oleh manusia untuk membantu kehidupan manusia, bukan untuk menggantikan peran manusia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang berilmu, bertakwa, berakhlak mulia, dan selamat dari fitnah zaman. Amin ya Rabbal ‘alamin.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ بِاْلُقْرءَانِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ ِبمَا ِفيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ, فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهٗ هُوَ اْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ


Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، َأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ الله تعالى: يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى الْمَجٰلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللّٰهُ لَكُمْۚ وَاِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللّٰهُ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْۙ وَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍۗ وَاللّٰهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ


اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّم عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ


اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، وَ يَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ. للهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمَ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ بَارِكْ فِيْ أَوْلَادِنَا، وَارْزُقْنَا بِرَّهُمْ، وَاجْعَلْهُمْ مِمَّنْ يَسْمَعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ أَحْسَنَهُ. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ


إِنَّ اللهَ يَأْمُرُنَا بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَر


Ustadz Ahmad Iban Abid Nugroho. Penulis adalah alumni kelas menulis NU Online.