Nasional

Cuaca Ekstrem April, Petani Nilai Ada Perpanjangan Masa Tanam

NU Online  ·  Rabu, 15 April 2026 | 19:00 WIB

Cuaca Ekstrem April, Petani Nilai Ada Perpanjangan Masa Tanam

Ilustrasi petani sedang mencangkul di sawah. (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

Kondisi cuaca yang tidak menentu pada April 2026 dinilai sebagian petani justru membawa keuntungan, terutama dalam memperpanjang pola dan masa tanam. Situasi ini memungkinkan hasil panen lebih banyak dibandingkan kondisi normal.


Miftahur Rohim, petani asal Tayu, Kabupaten Pati, Jawa Tengah mengungkapkan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara cuaca tahun ini dengan tahun sebelumnya.


Menurutnya, petani tadah hujan masih mampu melakukan panen hingga tiga kali meski di tengah cuaca yang tergolong ekstrem.


“Tidak ada perbedaan cuaca dari tahun sebelumnya. Beberapa petani tadah hujan tetap memperoleh tiga kali masa panen walaupun dengan cuaca ekstrem,” ujar Rohim kepada NU Online, Rabu (15/4/2026).


Ia menambahkan, ketidakpastian musim di bulan April tidak menjadi hambatan berarti. Dalam kondisi normal, masa tanam biasanya dilakukan dua kali dalam setahun, namun kondisi saat ini justru membuka peluang tambahan.


Meski demikian, Rohim mengaku tetap mengalami kerugian, tetapi bukan disebabkan oleh faktor cuaca. Ia menyebut serangan hama tikus sebagai penyebab utama gagal panen di sejumlah lahannya.


“Kalau ditanya pernah rugi, tentu pernah. Namun bukan karena cuaca, melainkan serangan hama tikus yang cukup parah. Saat ini saja enam petak sawah saya habis,” ungkapnya.


Dalam menghadapi kondisi tersebut, petani terkadang mengacu pada informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), meski sebagian besar masih mengandalkan pengalaman dan kebiasaan.


Selain itu, kebutuhan akan pestisida untuk mengendalikan hama juga menjadi perhatian penting.


Rohim berharap kondisi cuaca yang tidak menentu segera berakhir agar ada kepastian masa tanam, serta diiringi dengan pengendalian hama yang lebih baik.


Di sisi lain, keberadaan koperasi yang menyediakan pupuk bersubsidi disambut positif oleh petani. Rohim berharap akses terhadap pupuk dapat semakin mudah.


“Harapannya stok pupuk mencukupi. Namun jika terbatas, kami berusaha menyesuaikan dengan yang tersedia,” katanya.


Sementara itu, Abdul Azhim, petani asal Sulang, menilai terdapat perbedaan kondisi cuaca pada tahun ini. Menurutnya, April yang biasanya memasuki musim kemarau justru masih diwarnai hujan deras dengan durasi singkat.


“Memang hujannya sebentar, tetapi deras. Ini cukup membingungkan bagi petani tradisional seperti saya,” ujarnya.


Ia menjelaskan, kondisi tersebut berdampak pada meluapnya aliran sungai dan terganggunya jadwal pengolahan lahan.


Tanah yang masih basah membuat proses tanam, terutama untuk komoditas tembakau dan palawija, menjadi tertunda. “Untuk mengolah saja belum selesai, apalagi untuk tanam,” imbuhnya.


Secara ekonomi, Azhim mengaku belum mengalami kerugian signifikan. Namun, hujan deras sempat menyebabkan bunga mangga miliknya rontok, meski kini mulai berbunga kembali. Sementara itu, tanaman lain masih dalam tahap pembenihan.


Ia juga menyoroti dampak bagi petani lain yang telah menanam palawija, di mana kondisi cuaca dapat meningkatkan biaya perawatan, seperti penyemprotan fungisida, serta meningkatkan risiko kerusakan tanaman.


Lebih lanjut, Azhim menekankan pentingnya informasi cuaca yang lebih akurat dan mudah dipahami oleh petani. Menurutnya, petani membutuhkan data ramalan cuaca jangka pendek hingga tahunan yang disertai penjelasan sederhana.


“Kebutuhan ramalan cuaca untuk pertanian berbeda dengan nelayan. Petani memerlukan informasi yang rasional dan mudah dipahami, bukan sekadar perkiraan,” tegasnya.


Selain itu, ia juga berharap adanya data komoditas tanaman yang valid secara nasional untuk mencegah kelebihan produksi yang dapat menyebabkan harga jatuh. Ia menilai hal tersebut dapat diwujudkan melalui pemberdayaan penyuluh pertanian lapangan (PPL).


Untuk mendukung ketahanan petani, Azhim juga mengusulkan adanya dana perlindungan sebagai “sabuk pengaman” bagi petani yang mengalami kerugian akibat kondisi tak terduga.


Dengan berbagai dinamika tersebut, para petani berharap adanya dukungan yang lebih konkret dari pemerintah, baik dalam bentuk penyediaan informasi, sarana produksi, maupun perlindungan terhadap risiko pertanian.