Nasional

El Nino dan Pemanasan Global Perparah Panas di Indonesia, BMKG Serukan Kesiapsiagaan

NU Online  ·  Jumat, 10 Juli 2026 | 19:30 WIB

El Nino dan Pemanasan Global Perparah Panas di Indonesia, BMKG Serukan Kesiapsiagaan

Ilustrasi pemanasan global. (Foto: Magnific)

Jakarta, NU Online

Fenomena El Nino yang mulai berkembang di tengah tren pemanasan global diperkirakan akan memperparah kondisi panas di Indonesia sepanjang 2026. Meski peluang terjadinya gelombang panas (heatwave) seperti di Eropa dinilai relatif kecil, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan bahwa peningkatan suhu yang berlangsung secara bertahap tetap berpotensi memicu berbagai gangguan kesehatan sehingga membutuhkan kesiapsiagaan masyarakat dan pemerintah.


Data BMKG menunjukkan suhu rata-rata Indonesia pada Mei 2026 mencapai 27,5 derajat atau sekitar 0,5 derajat lebih tinggi dibandingkan rata-rata periode klimatologi 1991-2020. Kenaikan yang tampak kecil tersebut tetap dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama ketika disertai kelembapan udara yang tinggi dan aktivitas fisik di luar ruangan.


Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengatakan kombinasi El Nino dan tren pemanasan global akan membuat hari-hari panas semakin sering terjadi. Berbeda dengan Eropa yang mengalami gelombang panas, Indonesia memiliki karakteristik iklim tropis yang membuat suhu udara relatif stabil sepanjang tahun.


Ia menyampaikan bahwa wilayah laut yang mengelilingi Indonesia berfungsi sebagai penyangga alami sehingga lonjakan suhu ekstrem seperti di kawasan subtropis sulit terjadi.


“Sampai saat ini, kita masih melihat peluang terjadinya gelombang panas seperti yang terjadi di Eropa atau Amerika relatif kecil karena karakteristik atmosfer Indonesia berbeda. Namun, bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi dampak panas terhadap kesehatan,” ucapnya dalam Webinar Panduan Menjaga Kesehatan Keluarga di Musim Ekstrem El Nino, Kamis (9/7/2026).


Meski peluang heatwave kecil, data BMKG menunjukkan tren pemanasan di Indonesia terus meningkat. Ardhasena menjabarkan suhu rata-rata nasional tercatat naik sekitar 0,13-0,14 derajat setiap dekade. Bulan Juni 2026 tercatat sebagai bulan terpanas sejak periode klimatologi 1991-2020.


“Jumlah hari panas maupun malam yang tetap hangat atau yang disebut sebagai tropical nights juga terus mengalami peningkatan, terutama di wilayah pesisir,” katanya.


Ardhasena menyampaikan bahwa kondisi tersebut berpotensi semakin memburuk seiring perkembangan El Nino yang diperkirakan mencapai kategori kuat.


“El Nino 2026 telah aktif dan berpotensi mencapai intensitas kuat. Waspada peningkatan risiko kekeringan dan dampak turunannya, suhu ekstrem, dan heatstroke, serta potensi penurunan kualitas udara akibat kondisi kering yang dapat meningkatkan risiko karhutla dan akumulasi polutan yang berdampak pada kesehatan,” tegasnya.


Ia menegaskan ancaman utama bagi Indonesia bukanlah gelombang panas seperti yang melanda Eropa, melainkan paparan suhu tinggi yang berlangsung terus-menerus dan diperparah kelembapan udara tinggi sehingga meningkatkan beban panas yang dirasakan tubuh.


“Peluang terjadinya gelombang panas seperti di Eropa memang kecil. Tetapi bukan berarti kita tidak perlu mengantisipasi kondisi panas tinggi yang berlangsung secara berkelanjutan, diiringi kelembapan yang tinggi, dan bagaimana dampaknya terhadap tubuh manusia,” ucapnya.