Tafsir

Tafsir Surat Ali 'Imran Ayat 139–140 yang Dibacakan saat Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei

NU Online  ·  Jumat, 10 Juli 2026 | 20:00 WIB

Tafsir Surat Ali 'Imran Ayat 139–140 yang Dibacakan saat Pemakaman Ayatullah Ali Khamenei

Tafsir Surat Ali 'Imran Ayat 139–140 (Magnific)

Perang boleh saja mereda. Dentuman senjata bisa berhenti. Namun, pesan politik sering kali tetap berjalan, hanya medianya yang berubah. Ada yang disampaikan lewat pidato, ada yang melalui isyarat diplomatik, dan ada pula yang dibisikkan melalui lantunan ayat suci Al-Qur'an.

 

Setelah ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel mulai mereda, Iran akhirnya menggelar prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatullah Ali Khamenei yang dikabarkan wafat beberapa bulan sebelumnya akibat agresi militer ke wilayah Iran. 

 

Prosesi yang berlangsung sejak awal Juli itu menjadi salah satu momen paling emosional dalam sejarah Republik Islam Iran. Jutaan pelayat memadati lokasi pemakaman, sementara delegasi dari berbagai negara dan organisasi datang untuk menyampaikan penghormatan terakhir.

 

Namun, perhatian publik ternyata tidak hanya tertuju pada besarnya prosesi pemakaman itu. Ada satu hal yang justru lebih menarik. Setiap delegasi yang datang disambut dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Yang unik, ayat yang dibacakan tidak selalu sama.

 

Di sinilah berbagai tafsir mulai bermunculan. Banyak yang menduga pemilihan ayat itu bukan sekadar bagian dari rangkaian seremonial. Setiap ayat diyakini membawa pesan tertentu, bahkan menjadi isyarat tentang bagaimana Iran memandang hubungan diplomatiknya dengan delegasi yang hadir.

 

Salah satu yang menyita perhatian adalah ketika delegasi Hizbullah memasuki arena penghormatan. Untuk menyambut mereka, dibacakan surat Ali 'Imran ayat 139–140. Sepintas, mungkin itu hanya lantunan ayat yang mengiringi prosesi duka. Namun, benarkah demikian? Ataukah ada pesan yang sengaja disampaikan melalui ayat tersebut? Pertanyaan inilah yang menarik untuk ditelusuri lebih jauh.

 

Bunyi ayatnya adalah sebagai berikut:


{وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (139) إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ} [آل عمران: 139، 140]


Artinya: “Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin. Jika kamu (pada Perang Uhud) mendapat luka, maka mereka pun (pada Perang Badar) mendapat luka yang serupa. Masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan Allah mengetahui orang-orang beriman (yang sejati) dan sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Allah tidak menyukai orang-orang zalim.

 

Tafsir Surat Ali Imran Ayat 139-140: Larangan Berputus Asa

 

Ayat ini turun sebagai pelipur lara dan penyemangat dari Allah Swt. kepada pasukan Islam dalam peristiwa Perang Uhud. Sebagaimana sudah maklum dalam catatan sejarah bahwa ketika Perang Uhud, kaum muslim mengalami kekalahan dan menderita banyak kerugian. Bahkan tidak sedikit para sahabat yang gugur dalam perang tersebut.


Karena itulah, Allah Swt. menurunkan ayat ini untuk menghibur serta menguatkan kembali semangat pasukan muslim yang sempat goyah ketika itu. Dalam Tafsir ath-Thabari, Imam Ibnu Jarir ath-Thabari mengutip keterangan dari Az-Zuhri sebagai berikut:

 

عن الزهري قال: كثر في أصحاب محمد صلى الله عليه وسلم القتل والجراح، حتى خلص إلى كل امرئ منهم البأس، فأنزل الله عز وجل القرآن، فآسى فيه المؤمنين بأحسن ما آسى به قوما من المسلمين كانوا قبلهم من الأمم الماضية، فقال:"ولا تهنوا ولا تحزنوا وأنتم الأعلون إن كنم مؤمنين" إلى قوله:"لبرز الذين كتب عليهم القتل إلى مضاجعهم".


Artinya: “Dari az-zuhri, ia berkata: Korban jiwa dan luka-luka dari kalangan sahabat nabi makin banyak, sehingga setiap orang dari mereka mengalami penderitaan dan kesengsaraan. Kemudian, Allah swt menurunkan Al-Qur’an untuk menghibur orang-orang mukmin dengan sebaik-baiknya, sebagaimana Ia telah menghibur kaum muslim dari umat-umat terdahulu sebelum mereka. 


Allah swt berfirman, “Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin”, sampai kepada firmany-Nya, “Seandainya kamu ada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditetapkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh.” (Ibnu Jarir at-Thabari, Jami'ul Bayan, [Muassasah ar-Risalah, 2000], juz VII, hal. 234)

 

Ayat ini bukan sekadar larangan untuk bersedih. Kesedihan adalah sesuatu yang manusiawi. Yang dilarang adalah tenggelam dalam kesedihan hingga kehilangan harapan dan semangat untuk bangkit. 

 

Seorang mukmin dituntut tetap teguh menghadapi setiap ujian, sebab kehidupan memang tidak pernah berjalan pada satu keadaan. Hari ini seseorang berada di puncak kemenangan, esok bisa saja berada dalam kesempitan. Demikianlah sunatullah yang berlaku bagi seluruh manusia.

 

Sunatullah itu tidak hanya berlaku bagi orang-orang beriman. Mereka yang ingkar kepada Allah pun dapat menikmati masa-masa kejayaan. Dalam sejarah peperangan maupun perebutan kekuasaan, tidak jarang kelompok yang berada di pihak kebatilan tampak lebih unggul. Namun, keunggulan itu tidak bersifat abadi. Sejarah terus berputar, dan pada akhirnya kebenaranlah yang akan menemukan jalannya untuk menang.

 

Makna inilah yang ditegaskan oleh Imam Fakhruddin al-Razi ketika menafsirkan ayat tersebut. Menurutnya, sejarah umat-umat terdahulu menunjukkan bahwa para pengikut kebatilan, sekalipun pernah menguasai kekuatan dan kekuasaan, pada akhirnya akan mengalami kemunduran. 


Sebaliknya, kekuasaan yang dibangun di atas kebenaran akan tetap tegak. Karena itu, kekalahan kaum Muslimin dalam Perang Uhud tidak boleh membuat mereka kehilangan keberanian dan harapan. Justru mereka diperintahkan untuk tetap tegar, sebab kemenangan akan kembali berpihak kepada mereka. 

 

Simak penjelasan Imam Fakhruddin ar-Razi berikut:

 

إذا بحثتم عن أحوال القرون الماضية علمتم أن أهل الباطل وإن اتفقت لهم الصولة، لكن كان مآل الأمر إلى الضعف والفتور، وصارت دولة أهل الحق عالية، وصولة أهل الباطل مندرسة، فلا ينبغي أن تصير صولة الكفار عليكم يوم أحد سببا لضعف قلبكم ولجبنكم وعجزكم، بل يجب أن يقوى قلبكم فإن الاستعلاء سيحصل لكم والقوة والدولة راجعة إليكم


Artinya: “Ketika mengkaji kondisi umat-umat terdahulu, kalian akan mengetahui bahwa para pengikut kebatilan, meskipun mereka memiliki kekuatan dan kekuasaan, pada akhirnya mereka akan mengalami kelemahan dan kemunduran. Karenanya, kekuasaan ahlul haq akan tetap tegak dan tinggi, sedangkan kekuasaan ahlul bathil akan sirna. 

 

Oleh karena itu, tidak sepantasnya kemenangan orang-orang kafir atas kalian pada perang uhud menjadi penyebab lemahnya hati, timbulnya rasa takut dan hilangnya semangat dalam diri kalian. Sebaliknya, hati kalian harus kuat. Karena kemenangan akan segera kalian peroleh dan kekuatan serta kekuasaan akan kembali kepada kalian. (Fakhruddin al-Razi, Mafatihul Ghaib, [Beirut: Dar Ihya at-Turats al-‘Arabi, 1420 H.], juz IX, hal 371).

 

Kekalahan, dalam pandangan Al-Qur'an, bukanlah akhir dari segalanya. Ia justru menjadi cermin untuk mengoreksi diri sekaligus titik tolak untuk bangkit kembali. Karena itu, setelah melarang kaum mukmin larut dalam kesedihan, Allah Swt. segera mengingatkan bahwa roda kehidupan tidak pernah berhenti berputar.

 

Melalui ayat ke-140 Surat Ali 'Imran, Allah mengingatkan bahwa orang-orang kafir pun pernah merasakan pahitnya kekalahan dalam Perang Badar, bahkan dengan kekalahan yang jauh lebih telak daripada yang dialami kaum Muslim pada Perang Uhud. Artinya, kemenangan dan kekalahan bukanlah keadaan yang menetap. Ia silih berganti sesuai dengan sunatullah yang berlaku dalam kehidupan manusia.

 

Karena itu, ayat ini bukan sekadar penghibur bagi mereka yang sedang berduka. Lebih dari itu, ia adalah suntikan semangat agar kaum beriman tidak berhenti berjuang. Kekalahan tidak boleh melahirkan keputusasaan, apalagi membuat seseorang hanya meratapi nasib tanpa melakukan apa-apa. Sebaliknya, setiap kegagalan harus diubah menjadi pelajaran, lalu dijadikan pijakan untuk melangkah lebih kuat dalam memperjuangkan kebenaran.


Simak penjelasan Imam Maraghi;

 

إنه لا يسوغ لكم التقاعد عن الجهاد، وليس لكم العذر فيه لأجل أن مسكم قرح، فان أعداءكم قد مسهم مثله قبلكم وهم على باطلهم لم يفتروا فى الحرب ولم يهنوا، فأنتم أجدر بصدق العزيمة لمعرفتكم بحسن العاقبة، وتمسككم بالحق.
 

Artinya: “Sesungguhnya, tidak boleh bagi kalian (umat Islam) untuk berhenti dari jihad (perjuangan), dan tidak ada alasan bagi kalian untuk tidak berjihad hanya karena tertimpa luka atau kekalahan.
 

Sesungguhnya, musuh-musuh kalian pernah mendapat kekalahan yang sama sebelmnya. Meskipun berada dalam kebatilan, mereka tetap tidak menjadi lemah dan surut semangatnya untuk berperang. Maka seharusnya kalian lebih pantas untuk memilki keteguhan tekad.

 

Hal itiu karena kalian mengetahui happy ending (hanya untuk orang-orang yang berada pada kebenara), dan kalian sendiri berpegang teguh pada kebenaran itu. (Ahmad bin Musthafa al-Maraghi, Tafsir Maraghi, [Mesir: Mathbaah Musthafa al-Babil Halabi, 1946), juz IV, hal. 79)

 


Dengan demikian, surat Ali 'Imran ayat 139–140 mengandung pesan yang sangat kuat bagi siapa pun yang sedang menghadapi ujian, kegagalan, atau masa-masa sulit. Ayat ini mengajarkan bahwa kekalahan bukanlah akhir dari perjalanan, melainkan bagian dari sunatullah yang dapat menjadi sarana untuk memperbaiki diri dan menguatkan keteguhan dalam memperjuangkan kebenaran.

 

Lebih dari itu, kedua ayat tersebut mengingatkan bahwa kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari dinamika kehidupan yang silih berganti. Karena itu, seorang mukmin tidak sepatutnya larut dalam kesedihan atau kehilangan harapan ketika menghadapi keadaan yang tidak menguntungkan. 

 

Sebaliknya, setiap ujian hendaknya dijadikan sebagai pelajaran untuk bangkit dengan iman yang lebih kokoh, ikhtiar yang lebih sungguh-sungguh, dan keyakinan bahwa Allah Swt. senantiasa bersama orang-orang yang bersabar dan istiqamah.

 

Untuk itu, pesan utama ayat ini bersifat universal. Ia tidak hanya relevan dengan peristiwa tertentu dalam sejarah Islam, tetapi juga menjadi pedoman bagi setiap Muslim dalam menyikapi berbagai dinamika kehidupan. Harapan tidak boleh padam hanya karena ujian datang silih berganti, sebab di balik setiap kesulitan selalu terbuka peluang untuk bangkit dan meraih kebaikan. Wallāhu a'lam bi al-ṣawāb.


------
Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.