NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Nasional

Gus Yahya: NU Tak Bisa Lagi Mengisolasi Diri dari Realitas Masyarakat Global

NU Online·
Gus Yahya: NU Tak Bisa Lagi Mengisolasi Diri dari Realitas Masyarakat Global
Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dalam agenda Halaqah Road Map 25 Tahun NU (2027-2052) di Makassar, Sabtu (24/1/2026). (Foto: Tangkapan layar Youtube TVNU)
Bagikan:

Jakarta, NU Online

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menegaskan, NU tidak bisa lagi memiliki ruang untuk mengisolasi diri dari realitas masyarakat, baik di tingkat nasional maupun global.

Hal tersebut menjadi refleksi mendasar yang harus disadari bersama dalam menyusun peta jalan organisasi NU untuk 25 tahun ke depan.

Pernyataan itu disampaikan Gus Yahya dalam agenda Halaqah Roadmap 25 Tahun NU (2027-2052) dan Konsolidasi Organisasi yang digelar di Makassar, Sulawesi Selatan, pada Sabtu (24/1/2026).

Menurutnya, keterhubungan NU dengan dinamika sosial yang terus berubah merupakan fondasi utama yang tidak bisa diabaikan.

“Menurut saya, pertama-tama harus kita sadari bahwa Nahdlatul Ulama ini tidak mungkin lagi mengisolasi diri dari keseluruhan realitas masyarakat bahkan realitas dunia yang lebih luas,” ujar Gus Yahya yang ditayangkan di kanal Youtube TVNU, dikutip NU Online pada Rabu (28/1/2026).

Ia menilai bahwa hingga kini masih ada sebagian pengurus maupun warga Nahdliyin yang memandang NU sebagai entitas yang berbeda dan terpisah dari masyarakat luas. Padahal, cara pandang tersebut bersifat sementara dan tidak lagi relevan dengan kondisi kekinian.

Gus Yahya kemudian mengulas situasi pada dekade 1990-an, ketika kehidupan pesantren dan NU masih memiliki batas-batas kultural yang relatif jelas dengan dunia luar. Pada masa itu, Presiden Ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) bahkan merumuskan teori pesantren sebagai subkultur.

Dalam konteks tersebut, para kiai memainkan peran penting sebagai cultural broker atau pialang budaya. Mereka berfungsi menyaring berbagai pengaruh eksternal sebelum masuk ke lingkungan pesantren dan komunitas NU. Santri dan jamaah NU kala itu cenderung menjadikan kiai sebagai rujukan utama dalam menentukan mana budaya yang boleh diadopsi dan mana yang harus dihindari.

“Dulu kaum santri dan jamaah NU kalau ada apa-apa yang diperkenalkan oleh dunia luar ini bertanya dulu kepada kiai. Kiai menentukan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, mana yang bisa ditiru dan mana yang tidak boleh ditiru,” kenangnya.

Namun, realitas tersebut kini telah berubah secara drastis. Gus Yahya mencontohkan fenomena sekelompok perempuan santri dari pelosok daerah yang membentuk grup band metal dan mampu tampil di panggung internasional. Bagi dia, fakta ini menegaskan bahwa batas-batas kultural antara pesantren, NU, dan dunia luar telah runtuh.

“Sekarang ini runtuh semua tembok. Orang bisa bergaul sendiri, bisa berpikir sendiri. Inilah yang harus kita sadari,” tegasnya.

Lebih jauh, Gus Yahya menilai bahwa teori pesantren sebagai subkultur kini hampir tidak lagi ditemukan dalam kenyataan sosial. Dunia bergerak menuju satu peradaban global yang saling bercampur dan berkelindan (a single interfused global civilization). Berbeda dengan masa lalu ketika peradaban besar seperti Romawi, Mesir, Persia, Cina, dan lainnya tumbuh secara terpisah, kini batas-batas itu nyaris lenyap.

Dalam situasi tersebut, ia melihat generasi muda termasuk generasi Z cenderung memandang agama dengan cara yang relatif serupa, meskipun berasal dari latar belakang keyakinan yang berbeda-beda.

Meski bukan satu-satunya, tantangan inilah yang menurut Gus Yahya harus dijawab NU secara serius dalam merumuskan arah dan peran strategisnya di masa depan.

Artikel Terkait

Gus Yahya: NU Tak Bisa Lagi Mengisolasi Diri dari Realitas Masyarakat Global | NU Online