Nasional

Indonesia Berpotensi Hadapi Kemarau Panjang, BRIN Soroti Fenomena 'Godzilla' El Nino

NU Online  ·  Jumat, 20 Maret 2026 | 22:00 WIB

Indonesia Berpotensi Hadapi Kemarau Panjang, BRIN Soroti Fenomena 'Godzilla' El Nino

Ilustrasi musim kemarau. (Foto: Freepik)

Jakarta, NU Online

Indonesia berpotensi menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dan kering pada 2026 seiring munculnya fenomena yang disebut “Godzilla” El Nino. Istilah ini merujuk pada penguatan ekstrem El Nino yang berdampak signifikan terhadap pola cuaca global, termasuk di Indonesia.


Periset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menegaskan bahwa penyampaian informasi ini bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan sebagai langkah antisipasi dini. Pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat mempersiapkan diri menghadapi potensi perubahan iklim ekstrem.


Ia menjelaskan, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik ekuator yang memengaruhi distribusi cuaca secara global. Dalam kondisi tertentu, intensitasnya dapat meningkat tajam hingga dijuluki “Godzilla”.


“Berdasarkan model global yang dirilis Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), sinyal kemunculan El Nino telah terdeteksi sejak April 2026. Kondisi ini diperkirakan diperkuat oleh Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang terjadi secara bersamaan,” ujarnya, dikutip NU Online, Jumat (20/3/2026).


Kombinasi kedua fenomena tersebut berpotensi mengubah distribusi awan secara signifikan. Pembentukan awan dan hujan diprediksi lebih terkonsentrasi di wilayah Pasifik, sementara Indonesia mengalami penurunan curah hujan.


“Fenomena El Nino, termasuk potensi variasi kuat (Godzilla), menyebabkan musim kemarau di Indonesia menjadi lebih panjang dan kering,” katanya.


Erma menjelaskan, pada periode April hingga Oktober 2026, kondisi ini diperkirakan akan mendominasi musim kemarau di Indonesia. Model prediksi musim yang dikembangkan BRIN menunjukkan wilayah selatan Indonesia akan merasakan dampak paling awal dan signifikan.


“Untuk April hingga Juli 2026, kemarau kering diprediksi terjadi di sebagian besar Pulau Jawa hingga Nusa Tenggara Timur,” ujarnya.


Namun, pola cuaca tidak terjadi secara merata. Sejumlah wilayah di Indonesia bagian timur justru diperkirakan masih mengalami curah hujan tinggi.


“Wilayah Sulawesi, Maluku, dan Halmahera sebagian besar masih akan mengalami curah hujan tinggi,” jelasnya.


Menurutnya, perbedaan ini membuat dampak yang muncul menjadi kompleks. Wilayah selatan berpotensi mengalami kekeringan yang mengancam sektor pertanian, terutama di sentra produksi pangan nasional.


“Di sisi lain, terdapat potensi banjir di wilayah timur laut Indonesia akibat curah hujan tinggi selama musim kemarau, seperti di Sulawesi, Halmahera, dan Maluku,” ujarnya.


Ia juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan, meskipun bagian utara kedua pulau tersebut masih berpeluang mengalami hujan tinggi.


“Dampak karhutla berpotensi terjadi di sebagian wilayah Sumatra dan Kalimantan, meskipun bagian utara kedua pulau ini tetap berpeluang mengalami curah hujan tinggi,” ucapnya.


Di tengah potensi risiko tersebut, terdapat peluang yang bisa dimanfaatkan, salah satunya optimalisasi produksi garam di wilayah yang lebih kering.


“Mengoptimalkan produksi garam untuk mencapai swasembada pada 2026–2027, khususnya di wilayah selatan Indonesia,” ujarnya.


Erma menekankan pentingnya kesiapan lintas sektor dalam menghadapi situasi ini. Pemerintah diminta tidak hanya fokus pada ancaman kekeringan, tetapi juga potensi bencana lain yang muncul secara bersamaan.


“Pemerintah perlu mewaspadai dampak kekeringan yang dapat mengancam lumbung pangan nasional di wilayah Pantura Jawa. Selain itu, potensi karhutla di Kalimantan dan Sumatra juga harus dimitigasi,” ujarnya.


“Di saat yang sama, pemerintah juga perlu menyiapkan strategi untuk menangani kelebihan curah hujan di wilayah Sulawesi, Halmahera, dan Maluku,” pungkasnya.