Nasional

Kebakaran Hutan dan Kekeringan Semakin Meluas, Tata Kelola Ekosistem DInilai Berantakan

NU Online  ·  Jumat, 3 Juli 2026 | 17:00 WIB

Kebakaran Hutan dan Kekeringan Semakin Meluas, Tata Kelola Ekosistem DInilai Berantakan

Ilustrasi kebakaran hutan. (Foto: Magnific)

Jakarta, NU Online

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat hingga Kamis (2/7/2026), bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah terjadi sedikitnya di 11 provinsi, yakni Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Selatan, Jambi, Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Nusa Tenggara Barat, dan Banten.


Sementara, bencana kekeringan telah melanda enam provinsi, yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur, dan Nusa Tenggara Barat.


Pengkampanye Pangan dan Ekosistem Esensial Eksekutif Nasional Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Musdalifah menilai bahwa meningkatnya karhutla dan kekeringan tidak semata-mata dipicu oleh kondisi cuaca.


Ia menambahkan bahwa terdapat persoalan mendasar dalam pengelolaan sumber daya alam yang turut memperbesar risiko bencana.


“Situasi yang hari ini tidak hanya terjadi karena faktor cuaca, tetapi ada kontribusi negara, pemerintah, dalam mengelola, dalam konteks tata kelola negaranya yang berantakan. Baik dari segi alamnya, termasuk hutan, lahan pertanian, pesisir, pulau-pulau kecil, dan ekosistem penting lainnya,” ujarnya saat ditemui NU Online di Jakarta, Kamis (2/7/2026).


Menurutnya, terdapat sejumlah faktor yang mendorong munculnya kebakaran, terutama praktik pembukaan lahan untuk kepentingan industri, pertambangan, maupun pembangunan infrastruktur.


“Ada situasi atau proses pembukaan lahan (industri) yang dilakukan dengan cara dibakar hutannya,” katanya.


Musdalifah mengungkapkan bahwa kerusakan ekosistem gambut dapat memperparah kondisi. Kerusakan kawasan gambut membuat wilayah tersebut semakin rentan terbakar, bahkan api sering kali membakar lapisan bawah tanah sehingga hanya asap tebal yang tampak di permukaan.


“Padahal gambut memiliki fungsi penting sebagai penyimpan air saat musim hujan dan penyedia cadangan air ketika musim kemarau,” katanya.


Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa bencana kekeringan berkaitan dengan adanya fenomena Godzilla El Nino yang diperkirakan berlangsung lebih panjang dibandingkan biasanya. Menurutnya, kondisi tersebut juga dipengaruhi oleh meningkatnya emisi gas rumah kaca akibat aktivitas industri sehingga memperkuat dampak krisis iklim.


"Walhi memprediksi Godzilla El Nino terjadi mulai dari bulan Maret, dan puncaknya akan di Agustus sampai bulan November. Walhi sendiri melihat bahwa Indonesia saat ini sedang menghadapi krisis multidimensi," tuturnya.


Ia mengatakan bahwa Indonesia kini menghadapi krisis iklim yang berlangsung bersamaan dengan krisis lingkungan hidup yang bersih dan aman.


Musdalifah menegaskan bahwa kerusakan lingkungan tidak boleh terus dibiarkan karena akan memperbesar risiko kekeringan di berbagai wilayah.


“Kerusakan lingkungan hidup tidak boleh terus-menerus dibiarkan begitu saja, karena akan berkontribusi pada kekeringan di Indonesia,” tegasnya.