NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Tafsir

Pohon Kapur Barus Sumatra: Disebut dalam Al-Qur’an dan Hadits, Berkhasiat dan Menjaga Ekosistem

NU Online·
Pohon Kapur Barus Sumatra: Disebut dalam Al-Qur’an dan Hadits, Berkhasiat dan Menjaga Ekosistem
Ilustrasi pohon Kapur Barus. Sumber: Canva/NU Online.
Bagikan:

Banyaknya kayu gelondongan yang hanyut terbawa banjir di Sumatera mengingatkan kita bahwa hutan di wilayah tersebut merupakan penghasil beragam jenis kayu. Di antara pohon besar yang tumbuh di pegunungan Sumatera Utara dan Aceh, ada satu jenis yang sangat khas karena manfaatnya bagi kesehatan sekaligus perannya menjaga ekosistem hutan, yaitu pohon Kapur Barus.

Apa saja keistimewaan pohon kapur hingga disebut dalam Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW? Apa manfaatnya bagi kesehatan? Dan bagaimana perannya dalam menjaga keseimbangan lingkungan hutan?

Dalam kitab Ath-Thibbun Nabawi, Al-Hafiz Adz-Dzahabi menjelaskan bahwa kafur adalah Kapur Barus, salah satu bahan wewangian yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Allah menyebut Kapur Barus dalam Surat Al-Insan ayat 5:

اِنَّ الْاَبْرَارَ يَشْرَبُوْنَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُوْرًاۚ

Innal-abrâra yasyrabûna ming ka'sing kâna mizâjuhâ kâfûrâ

Artinya, "Sesungguhnya orang-orang yang berbuat kebajikan akan minum (khamar) dari gelas yang campurannya air kafur.

Air kafur adalah cairan yang keluar langsung dari batang pohon Kapur Barus saat disadap. Air ini bisa diminum secara langsung maupun dicampur dengan bahan lain sebagai ramuan obat. Aromanya yang wangi dan sifatnya yang menyejukkan membuat air kafur juga sering dimanfaatkan dalam berbagai produk kosmetik.

Menurut Kitab Ath-Thibbun Nabawi, Kapur Barus memiliki sifat sejuk dan kering. Ketika kulit batangnya disadap, akan keluar semacam cairan yang kemudian mengeras menjadi kristal. Kristal inilah yang dikenal sebagai Kapur Barus (kamper), yang banyak dimanfaatkan sebagai bahan farmasi, wewangian, maupun untuk keperluan istijmar. (Al-Hafiz Adz-Dzahabi, Thibbun Nabawi, [Beirut, Dar Ihyail Ulum: 1990], halaman 70).

Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa Rasulullah SAW menggunakan bukhur yang terdiri dari kristal Kapur Barus untuk dibakar sebagai bahan istijmar.

عَنْ نَافِعٍ قَالَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ إِذَا اسْتَجْمَرَ اسْتَجْمَرَ بِالْأَلُوَّةِ غَيْرِ مُطَرَّاةٍ وَبِكَافُوْرٍ يَطْرَحُهُ مَعَ الْأَلُوَّةِ ثُمَّ قَالَ هَكَذَا كَانَ يَسْتَجْمِرُ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ

Artinya: Dari Nafi’, beliau berkata bahwa Ibnu ‘Umar radliyallahu ‘anhuma beristijmar dengan Al-Uluwwah tanpa campuran minyak wangi, atau dengan kafur (Kapur Barus) yang dicampur dengan Al-Uluwwah, kemudian beliau berkata, “Seperti inilah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam melakukan istijmar.” (HR. Muslim dan An-Nasa’i).

Barus adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan asal muasal pohon kapur. Barus juga dikenal sebagai Fansur, salah satu pelabuhan kuno yang terletak di Pantai Barat Sumatera. Kota ini dikenal dengan salah satu komoditasnya yang mendunia sejak zaman Mesir Kuno, yaitu kafur. Oleh karena itu, kafur yang berasal dari daerah ini disebut sebagi Kafur dari Barus atau Kapur Barus.

Saat ini, pohon Kapur Barus di daerah Barus sudah tidak sebanyak dahulu. Para peneliti mendeteksi bahwa hutan yang masih banyak memiliki pohon Kapur Barus saat ini justru ada Kabupaten Pakpak Bharat, Tapanuli Tengah. Namun, sejak tahun 2022 para peneliti pohon Kapur Barus sudah menyadari bahwa hutan tersebut terancam keberadaannya karena berbagai faktor, salah satunya adalah pembukaan lahan sawit.

Pohon Kapur Barus (Dryobalanops aromatica) merupakan salah satu spesies pohon tropis yang memiliki nilai ekologis, ekonomis, dan historis tinggi di Indonesia. Tanaman ini dikenal menghasilkan senyawa Kapur Barus (kamper) yang sejak dahulu digunakan dalam pengobatan, pengawetan, dan sebagai bahan pewangi. 

Pohon Kapur Barus juga memainkan peran penting dalam konservasi ekosistem hutan hujan tropis, terutama dalam menjaga keberlanjutan siklus hidrologi dan kualitas sumber daya air. Dengan sistem perakaran yang kuat dan dalam, pohon ini berperan sebagai penyerap air tanah, memperkuat struktur tanah, dan mencegah erosi, sehingga turut menjaga kestabilan daerah aliran sungai (DAS).

Pohon Kapur Barus juga berkaitan erat dengan pengelolaan sumber daya air yang berkelanjutan. Hutan Sumatera, terutama yang dihuni oleh pohon-pohon besar seperti Kapur Barus, berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang esensial. Dalam skema pengelolaan DAS, keberadaan pohon ini membantu meningkatkan infiltrasi air hujan ke dalam tanah, mengurangi limpasan permukaan, serta menjaga debit aliran sungai di musim kemarau.

Penelitian Pratiwi dan timnya juga telah membuktikan keunikan pohon Kapur Barus sebagai tanaman yang dapat digunakan untuk konservasi lingkungan. Tanah yang semula rusak bekas tambang dapat diperbaiki kualitasnya dengan tanaman pohon Kapur Barus (Pratiwi dkk, 2021, Managing and Reforesting Degraded Post-Mining Landscape in Indonesia: A Review, Jurnal Land: halaman 14).

Di habitat aslinya, pohon Kapur Barus dapat tumbuh di kondisi tanah yang beragam. Tanah yang miring maupun tanah yang datar dapat ditumbuhi oleh pohon ini. Di habitat aslinya, peneliti menemukan bahwa tanah miring berbatu yang terkena cahaya matahari dalam jumlah yang cukup menjadi tempat tumbuh biji dari pohon Kapur Barus. Oleh karena kemampuannya tumbuh di tanah yang miring disertai dengan akarnya yang tunggang menjadikan pohon ini potensial sebagai pencegah longsor.

Buahnya dapat terbang dibawa angin hingga berjarak 80-100 meter dari pohon induknya. Uniknya, buah ini memiliki sayap sehingga dapat tersebar dengan perantaraan udara untuk sampai di tanah tempat tumbuhnya kelak. Penelitian Itoh dari Universitas Kyoto menyebutkan bahwa tanaman ini dapat tumbuh di tanah yang pernah mengalami longsor (Itoh, 1995, Regeneration Processes and Coexistence Mechanisms of Two Bornean Emergent Dipterocarp Species, Universitas Kyoto, Jepang: halaman 7-8).

Berdasarkan manfaat dari pohon Kapur Barus, selayaknya masyarakat di Indonesia memberikan perhatian khusus pada hutan di Sumatera. Kelestarian hutan beserta pohon Kapur Barus bisa memiliki manfaat ganda, yaitu untuk kesehatan manusia dan menjaga ekosistem alam serta mencegah bencana. Wallahu a’lam bis shawab.

Ustadz Yuhansyah Nurfauzi, apoteker dan peneliti farmasi.

Artikel Terkait