Luka Psikologis Usai Bencana Perlu Mendapat Perhatian
NU Online · Ahad, 11 Oktober 2026 | 19:00 WIB
Rikhul Jannah
Kontributor
Jakarta, NU Online
Penanganan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan logistik dan pemulihan fisik. Luka psikologis, kecemasan berlebih, hingga trauma berkepanjangan yang dialami penyintas juga membutuhkan perhatian serius agar proses pemulihan berlangsung secara menyeluruh.
Psikolog Rizqi Solekhah mengungkapkan bahwa dinamika respons psikologis penyintas mengacu pada model DeWolfe dan SAMHSA. Tahapannya meliputi fase pra-bencana, dampak, honeymoon, kekecewaan, hingga rekonstruksi.
Baca Juga
Doa untuk Kesehatan Mental
"Pada fase dampak, penyintas biasanya mengalami syok hingga panik. Namun, durasi fase ini umumnya paling singkat. Tantangan sebenarnya muncul ketika memasuki fase kekecewaan, di mana kelelahan emosional, kelelahan bantuan, dan kekecewaan fisik maupun mental mulai melanda," ujarnya dalam webinar berteman Memahami Bencana, Memahami Manusia, pada Sabtu (10/10/2026).
Ia menjelaskan bahwa respons krisis dapat diamati melalui tiga ranah utama, yakni emosional, kognitif, dan perilaku. Secara emosional, penyintas dapat mengalami ketakutan mendalam, kemarahan, serta perubahan emosi yang tidak menentu. Dari sisi kognitif, mereka berpotensi mengalami penurunan konsentrasi hingga kesulitan mengambil keputusan.
"Reaksi perilaku juga terlihat sangat menonjol saat krisis. Ada yang cenderung menarik diri, mengalami gangguan tidur, hingga panik mencari informasi. Namun, di sisi lain, dorongan untuk saling tolong-menolong dan bergotong royong juga muncul secara alami di tengah masyarakat," tuturnya.
Untuk membantu meredakan krisis emosional, Rizqi menekankan pentingnya Psychological First Aid (PFA) atau pertolongan pertama psikologis. Pendekatan ini mengedepankan tiga langkah praktis yang menghormati martabat manusia, yakni Look, Listen, dan Link.
"Langkah awal PFA adalah Look, yaitu memastikan kondisi lokasi aman dan mengenali siapa yang paling membutuhkan bantuan mendesak. Selanjutnya Listen, hadir mendengarkan keluhan dengan penuh hormat tanpa memaksa mereka bercerita. Terakhir Link, yakni menghubungkan penyintas dengan kebutuhan dasar, keluarga, serta layanan profesional jika diperlukan," ungkapnya.
Ia berharap dengan adanya pendampingan yang tepat dapat membantu penyintas membangun pertumbuhan pascatrauma, memperkuat ketahanan diri, mempererat hubungan sosial, serta menata kembali arah kehidupan.
"Kesiapsiagaan mental masyarakat di Indonesia masih tergolong rendah. Kita perlu memperkuat jejaring dukungan sosial, mulai dari lingkungan keluarga hingga komunitas terdekat. Gotong royong dan informasi yang tepercaya adalah fondasi utama dalam membangun ketahanan masyarakat pascabencana," katanya.
Terpopuler
1
Mengenal Enam A’wan PBNU 2026-2031 dari Kalangan Guru Besar dan Rektor Perguruan Tinggi
2
Khutbah Jumat: Keutamaan Mendoakan Keluarga yang Sudah Meninggal pada Hari Jumat
3
Khutbah Jumat: Sedekah Jumat Berkah, Menghidupkan Hari Mulia dengan Kebaikan
4
Khutbah Jumat: Menjaga Diri dari Maksiat Digital di Era Media Sosial
5
PBNU Sosialisasikan AD/ART Baru, Konferensi PWNU, PCNU, dan PCINU Dimulai 1 November 2026
6
Khutbah Jumat: Peran Masyarakat, Pemerintah dan Keluarga dalam Menciptakan Lingkungan Bebas Perundungan
Terkini
Lihat Semua