82 Tahun Hayat NU, Dihancurkan
Oleh Arief Musthofifin
Kebesaran Nahdlatul Ulama (NU) sebagai artefak sejarah yang masih hidup mendadak bagai kenangan lama. Sekadar nama besar “NU”. Sebuah perkumpulan massa (mayoritas), tetapi tertindas dan dihancurkan di berbagai sendi hidupnya. Di sisi lain, ada fakta eksternal lebih dominan yang berperan kuat menghancurkan sendi-sendi kehidupan, sosio-politik, bisnis, hingga mentalitas kader dan warga NU. Fakta eksternal itu dikenal dengan “politik genosida NU” (strategi penghancuran NU).
Banyak instrumen kekuatan NU yang hancur, dipangkas agar tidak eksis, dikerdilkan, dimatikan sampai tingkat basis, dan embrionya dimumikan. Melihat ulang fakta sejarah, di awal abad ke-20, dalam kurun 10 tahun, KH Wahab Chasbullah (1888-1971), kiai berjiwa muda, intelektual, dan dinamis ini mensolidkan barisan Islam tradisional. Didukung tokoh kharismatik, KH Hasyim Asy’ari (1871-1947), Kiai Wahab membuat titik-titik kekuatan Islam tradisional sebagai sendi perlawanan kolonialisme dan untuk merubah nasib bangsa.
Ahad, 20 Januari 2008 | 23:00 WIB