Opini

Cinta kepada NU: Lutut Soekarno dan Lutut Saya di Muktamar

NU Online  ·  Rabu, 16 September 2026 | 09:30 WIB

Cinta kepada NU: Lutut Soekarno dan Lutut Saya di Muktamar

Ilustrasi sebuah sesi dalam muktamar NU (Foto: AI)

"Saya sangat cinta sekali kepada NU. Saya sangat gelisah jika ada orang yang mengatakan bahwa dia tidak cinta kepada NU. Meski harus merayap, saya akan tetap datang ke muktamar ini, agar orang tidak meragukan kecintaan saya kepada NU!"


Begitu ketegasan Presiden Soekarno pada pembukaan Muktamar NU ke-23 di Surakarta, 28 Desember 1962. "Merayap" dalam kalimat itu tentu bukan kondisi lutut Bung Karno yang sesungguhnya—itu pengandaian, cara paling ekstrem yang beliau temukan untuk mengukur seberapa besar cintanya kepada NU.


Saya justru mengalami versi paling literalnya, tanpa diminta dan tanpa direncanakan, dalam perjalanan menuju Muktamar NU ke-35 di Tambakberas, Jombang—muktamar pertama yang saya hadiri langsung sejak mengenal NU pada 1994.


Perkenalan saya dengan NU dimulai lewat majalah Panji Masyarakat, dari tulisan tiga sosok: Gus Dur, Amien Rais, dan Cak Nur. Belakangan saya tahu, praktik keagamaan yang saya warisi dari ayah—alumnus PP Albaqiyatussolihat Cibogo-Cibarusah asuhan KH. Ma'mun Nawawi—sejalan lurus dengan NU.


Ketika Gus Dur menjadi presiden, ayah langsung menyebut beliau cucu KH. Hasyim Asy'ari, guru dari KH. Ma'mun Nawawi sendiri. Garis itu mengantar saya masuk PKB di awal reformasi, mendirikan NU Kecamatan Jonggol bersama kakak, lalu menapaki jalur struktural: LSNU Jonggol, Lakpesdam Depok, P3M, GP Ansor, Ketua Tanfidziyah MWCNU Jonggol, hingga Jatman Kabupaten Bogor.


Anehnya, sepanjang jalur struktural itu saya justru tak pernah datang ke muktamar—termasuk Muktamar ke-34 di Lampung, akhir 2021. Bukan karena tak ingin, tapi tak ada yang mengajak, bekal pas-pasan, dan belum ada dorongan yang cukup kuat.


Dorongan itu baru datang menjelang Muktamar ke-35. Entah karena polemik tambang di media sosial, kabar konflik di PBNU, dukungan istri yang bertugas di stan NU-HAC, atau sekalian niat menjenguk anak yang mondok di Trensains Jombok—semua melebur jadi satu.


Yang pasti, ada rasa khawatir saya warga NU yang tidak sempat bahkan tak pernah menghadiri muktamar. Alasan itu cukup membuat saya dan istri memesan tiket kereta awal Juli 2026, dengan rencana ziarah dulu ke Sunan Ampel sebelum masuk arena muktamar.


Lutut yang Tiba-Tiba Berulah
Kami naik KA Airlangga dari Pasar Senen menuju Pasar Turi—bukan rute langsung ke Jombang karena tiketnya sudah habis. Dari Pasar Turi kami Gocar dulu ke Masjid Ampel, berziarah ke makam Sunan Ampel, KH Mas Mansyur, Mbah Sonhaji, Mbah Soheh, hingga KH Hasan Gipo, Ketua Tanfidziyah NU pertama.


Sambil menunggu kereta pukul 03.55 ke Jombang, kami rehat sejenak di masjid bersejarah itu. Di situlah masalah dimulai: bangun dari rehat, lutut saya tiba-tiba tak stabil dan nyeri setiap melangkah.


Istri saya menyindir sambil tertawa: "Bung Karno saja bilang mau merayap, ini masih bisa jalan." Sindiran itu justru menohok—karena bagi Bung Karno itu cuma andai-andai, sementara kaki saya sungguh-sungguh tak bisa diajak kompromi pagi itu.


Robert Sternberg, dalam teori cintanya, menyebut komitmen sebagai unsur cinta yang justru diuji lewat kesediaan bertahan meski berat. Kalau Bung Karno mengukur cintanya lewat pengandaian, boleh jadi lutut saya pagi itu justru memberi ujian yang lebih sungguhan untuk hal yang sama: kecintaan kepada NU.


Dengan menahan sakit, saya tetap melangkah meninggalkan komplek makam Ampel, naik gocar ke Stasiun Gubeng, lalu kereta Doho menuju Jombang, tiba pukul 05.40 WIB.


Tiba di Tambakberas
Kamis, 27 Agustus 2026, kami tiba di PP Bahrul Ulum, lokasi Muktamar ke-35, setelah singgah istirahat di rumah sepupu istri di Candi Mulyo. Sempat menyesal tidak ikut bedah buku dan temu PCINU di Universitas Darul Ulum yang dihadiri Prof. Nadirsyah Hosen—saat itu saya justru tertidur kelelahan.


Tapi nyeri di lutut seolah tak terasa lagi begitu larut dalam suasana perhelatan lima tahunan NU ini. Tempat pertama yang kami sambangi adalah makam KH Abdul Wahab Chasbullah, Pahlawan Nasional yang menggagas berdirinya Jam'iyyah Nahdlatul Ulama.


Berdiri di depan makam itu, saya teringat lagi pidato Bung Karno di Muktamar ke-23. Selain menegaskan cintanya kepada NU, Bung Karno juga memuji peran Rais Aam KH Wahab Hasbullah dalam usaha merebut Irian Barat—advis beliau agar Indonesia "jangan politik keling" terhadap Belanda menjadi salah satu dasar dijalankannya Trikora. Rasanya pas, ziarah pertama saya di bumi Tambakberas justru ke makam kiai yang namanya disebut langsung oleh sang proklamator.


Datang ke arena muktamar bagi warga NU yang tidak memiliki hak pilih punya bahasanya sendiri—"Romli" (Rombongan Liar), "Romlah" (Rombongan Lillahi Ta'ala). Di sebuah warung, saya mengobrol dengan pengunjung asal Sukabumi soal isu yang sedang hangat.


Kata teman ngobrol itu, LPJ Gus Yahya diperkirakan aman, tapi tata tertib persidangan dan mekanisme pemilihan Rais Aam serta Ketua Umum akan jadi titik panas. Perkiraan itu benar—pemilihan Ahwa dan Ketua Umum memang sempat tertunda karena perbedaan usulan teknis dari para muktamirin.


Malam itu kami menginap di basecamp NU-HAC PBNU, menyiapkan rencana esok: ziarah ke komplek makam Pesantren Tebuireng—tempat bersemayam Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, KH Abdul Wahid Hasyim, KH Abdurrahman Wahid—sekaligus menjenguk anak kami di Trensains Jombok.


Di sepanjang arena, semua kalangan memeriahkan muktamar dengan caranya sendiri: pembagian buku Qanun Asasi karya KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin)—yang belakangan terpilih Ketua Umum Tanfidziyah PBNU 2026-2031—pembagian buku NU Transformatif dari Unisma, hingga hiburan Pasha Ungu menyanyikan "Andai Ku Tahu."


Ada juga deretan tenda pedagang pernak-pernik berlogo NU, termasuk—dengan santai—teman-teman "Wahabi" yang ikut berdagang di sana. Begitulah NU: semua bisa mengambil manfaat, sejalan dengan syiar Islam rahmatan lil alamin.


Muktamar bagi saya juga jadi ajang silaturahmi. Saya mampir ke basecamp NU Online, tempat para wartawan NU memproduksi berita muktamar teraktual dan menyeluruh, lalu ke stan UNUSIA menemui dosen saya, Dr. Hasan Basri.


Sebagai warga Nahdliyin biasa, saya hanya ikut bergembira—termasuk saat sepupu saya, Endan Baung dari rombongan resmi PCNU Kota Bekasi, menyebut kami pengunjung "amatir" yang datang tanpa undangan struktural.


Manuskrip dan Warisan yang Dirawat
Sabtu malam, 29 Agustus 2026, kami hendak menuju gedung serba guna untuk menyaksikan proses pemilihan pimpinan PBNU. Di tengah jalan, tak sengaja kami melihat papan penunjuk klinik Turots—pameran manuskrip yang dikelola Nahdlatut Turots.


Kebetulan di tas saya ada buku catatan peninggalan buyut saya, Abdul Mutolib, berisi Kanzul Arasy dan Salawat Kabir. Saya meminta bantuan preservasi: proses deasidifikasi untuk menurunkan kadar keasaman kertas, sebelum dijilid ulang dan didigitalisasi.


Ada kesamaan antara buku warisan itu dan diri saya sendiri di muktamar ini: sama-sama datang dalam kondisi ringkih, lalu dirawat pelan-pelan agar tetap bisa "berjalan" dan diwariskan.


Pulang, dengan Lutut yang Sudah Berdamai
Ahad, 30 Agustus 2026, kami pulang naik KA Bangunkarta dari Stasiun Jombang, tiba di Jatinegara sore hari, lalu dilanjut KRL menuju Bogor. Oleh-oleh yang kami bawa sederhana: sepuluh gantungan kunci berlogo NU.


Itu mengikuti pesan KH. Ahmad Abdul Haq Dalhar (Mbah Mad Watucongol): "Nek nduwe sangu mangkato Muktamar NU, diniati hurmat poro 'alim ulama, sinaoso tekan nggon mung tuku bandol kunci"—jika punya bekal, berangkatlah ke Muktamar NU, niatkan menghormati para alim ulama, sekalipun sesampainya hanya sempat membeli gantungan kunci.


Lutut saya tak lagi senyeri hari pertama. Tapi rasa itu tetap membekas sebagai pengingat: Bung Karno dulu cukup mengandaikan lututnya untuk mengukur cintanya kepada NU, sementara saya diberi kesempatan membuktikannya dengan cara yang lebih sungguhan—lewat langkah yang benar-benar pincang, bukan sekadar kata-kata.


Dudung Solahudin, Mahasiswa Program Magister Islam Nusantara di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta