NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80

Pustaka

Kumpulan artikel kategori Pustaka

Menampilkan 12 artikel (Halaman 80 dari 95)
Menjalin Keluarga Bahagia
Pustaka

Menjalin Keluarga Bahagia

Judul Buku : Nasihat Gus Miek; Membangun Keluarga Sakinah Penulis : M. Alwi Fuadi Penerbit : LkiS, Yogyakarta Cetakan : I 2009 Tebal : xx  + 94 halaman Peresensi : Fuad hasan* Pernikahan merupakan salah satu wahana mencapai kesempurnaan menuju hidup di dunia sampai akhirat. Selain menjadi Sunnah Rasul, ada fungsi lain yang terkandung dalam pernikahan itu sendiri. Di antaranya adalah, mengangkat derajat wanita dalam berkeluarga, menjalin kekerabatan, hingga melestarikan keturunan. Tetapi kadangkala bayangan berkeluarga yang sakinah, mawaddah, warohmah (langgeng penuh kasih sayang) tersebut, berubah kenyataan, yang terjadi adalah retaknya bangunan keluarga karena hal-hal intern maupun ekstern. Untuk membangun kembali bangunan Rumah Tangga tatkala terjerembab keretakan, M Alwi Fuadi (penulis), membingkai nasihat-nasihat Gus Miek dalam buku ini.

Membongkar Kerancuan Teologi Salafi
Pustaka

Membongkar Kerancuan Teologi Salafi

Judul : Madzhab Al-Asy’ari, Benarkan Ahlussunnah wal Jama’ah? (Jawaban Terhadap Aliran Salafi) Penulis : Muhammad Idrus Romli Penerbit : Khalista, Surabaya Cetakan : I, April 2009 Teba l: (x + 301) halaman Peresens i : Fathul Qodir * Puritan, rigid, tidak toleran serta tidak menghargai perbedaan, kiranya tidak berlebihan jika Khaled Abou el-Fadl menyematkan stigma tersebut kepada aliran Wahabi. Sekte yang hingga saat ini menjadi aliran resmi negara Saudi Arabia. Dari awal kelahirannya hingga dewasa ini, golongan yang dinisbatkan kepada nama pendirinya, yakni Syeikh Muhammad ibn Abdul Wahhab (1792 M) seakan tidak lepas dari kontroversi, baik dari sisi ajaran hingga metode penyebarannya. Bahkan as-Shawi (1825 M) seorang ulama ahli hukum bermadzhab Maliki menyebut golongan Wahabi sebagai “Khawarij Modern” karena sering mengkafirkan sesama muslim yang tidak sefaham.

Syekh Nawawi Banten: The Great Scholar Ulama-ulama Indonesia
Pustaka

Syekh Nawawi Banten: The Great Scholar Ulama-ulama Indonesia

Judul : Sayyid Ulama Hijaz; Biografi Syaikh Nawawi al-Bantani Penulis : Samsul Munir Amin Penerbit : Pustaka Pesantren, LKiS Yogyakarta Halaman : xiv + 128 halaman Cetakan : I, Februari 2009 Peresensi : Anwar Nuris* Ada beberapa nama yang bisa disebut sebagai tokoh kitab kuning Indonesia. Sebut misalnya; Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Abdus Shamad al-Palimbani, Syekh Yusuf al-Makassari, Syekh Syamsudin as-Sumatrani, Hamzah Fansuri, Nuruddin ar-Raniri, Syekh Ihsan al-Jampesi, dan Syekh Muhammad Mahfudz at-Tirmasi. Mereka ini termasuk kelompok ulama yang diakui tidak hanya di kalangan pesantren di Indonesia, tapi juga di beberapa universitas di luar negeri.

Mengakhiri Dualisme Pemahaman Tahlil
Pustaka

Mengakhiri Dualisme Pemahaman Tahlil

Judul Buku : Tahlil dan Kenduri; Tradisi Santri dan Kiai Penulis : H.M. Madchan Anies Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta Cetakan : I, Februari 2009 Tebal : xii + 180 halaman Peresensi : Abdul Halim Fathani Yahya*) Umat Islam di Indonesia khususnya warga NU (Nahdliyin) telah mentradisikan tahlil dalam berbagai hajatan, seperti yang biasa dilaksanakan 7 hari, 40 hari, 100 hari, atau 1000 hari dari kematian keluarga/tetangganya. Di kalangan pesantren, santri dan keluarga ndalem biasanya menyelenggarakan acara haul untuk melakukan “kiriman doa” kepada kiainya yang telah meninggal dunia. Tentang tahlil, sebagian masyarakat kita masih terkotak pada dua kelompok pro dan kontra. Ada yang menganggap bahwa tahlil merupakan tradisi baru, yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi SAW, mereka menganggap tradisi tahlil sebagai bid’ah, sehingga tidak selayaknya sebagai seorang muslim untuk mengamalkannya. Sementara, di pihak lain (baca: kaum Nahdliyyin), meski sebagian dari mereka belum tahu persis landasan hukumnya, namun hal ini tidak mengurangi semangatnya untuk mengamalkan tahlil.

Menuju Teologi yang Memihak Kaum Tertindas
Pustaka

Menuju Teologi yang Memihak Kaum Tertindas

Judul Buku : Dari Teologi Menuju Aksi; Membela yang Lemah, Menggempur Kesenjangan Penulis : Abad Barduzzaman Penerbit : Pustaka Pelajar, Yogyakarta Cetakan : I (Pertama), April 2009 Tebal :  304 halaman Peresensi : Humaidiy AS *) Ketika Islam pertama kali turun, perkembangan teknologi, ilmu pengetahuan, serta budaya mayarakat sangat jauh berbeda dengan masa sekarang. Agar nilai-nilai Islam tetap hidup dan bermakna untuk memayungi hidup manusia, upaya pemberian jawaban terhadap persoalan kemanusiaan kontemporer mesti dilakukan. Gagasan-gagasan keadilan sosial, HAM, demokrasi, gender, inklusivisme dan lain sebagainya yang bisa menjawab persolalan itu, harus mendapatkan wadah dalam tradisi Islam.

Sejarah Rokok dan Mudaratnya
Pustaka

Sejarah Rokok dan Mudaratnya

Judul : Kitab Rokok; Bacaan bagi Pecandu dan Pembenci Penulis : Muhyammad Yunus BS Penrbit : Kutub Cetakan : 1 Februari 2009 Tebal :  104 hlm Persensi : Aris Abdul Hadi* Rokok memang bukan hal yang asing lagi. Mulai dari yang muda sampai yang tua sama-sama mengkonsumsinya. Namun, akhir-akhir ini Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan Fatwa bahwa rokok adalah barang haram. Hukum haram itu ditujukan untuk wanita hamil dan anak-anak karena mudaratnya akan lebih besar untuk mereka karena bisa mempegaruhi janin dan masa pertumbuhan anak. Bukan cuma itu, sebenarnya untuk laki-laki dewasa juga ada dampaknya, tapi tidak sebegitu besar jadi hanya makruh saja hukum yang dilontarkan.

Mengejar Berbagai Keutamaan dalam Beribadah
Pustaka

Mengejar Berbagai Keutamaan dalam Beribadah

Judul : Kemuliaan Umat Muhammad Penulis : Dr Muhammad Alawi Al-Maliky Al-Hasani Penerbit : Cakrawala Publishing, Jakarta * Cetakan: I, 1427 H / 2006 M Tebal : x + 410 halaman Peresensi: Muhammad Said Hasyim** Syariat yang dibawa oleh Rasulullah SAW terbilang paling mudah dibanding syariat nabi-nabi sebelumnya. Rasulullah tidak diutus untuk mempersulit umatnya, namun sebaliknya untuk mempermudah segala urusan yang dihadapi umatnya. Beliau bersabda: “Berilah kabar gembira dan janganlah kalian menjadikan takut, mudahkanlah dan janganlah kalian persulit.” (HR Bukhari-Muslim)

Menyingkap Peran Ulama dalam Politik
Pustaka

Menyingkap Peran Ulama dalam Politik

Judul Buku : Mengislamkan Kursi dan Meja; Dialektika Ulama dan Kekuasaan Penulis : Muhammad Amin MS Penerbit : Kerjasama Pustaka Pelajar (Yogyakarta) dengan YLKPN (Pekanbaru) Cetakan : Pertama, Januari 2009 Tebal : 182 halaman Peresensi : Supriyadi* Ulama dalam perpolitikan di Indonesia bukanlah hal yang asing. Semenjak dahulu, peran ulama dalam mendirikan bangsa Indonesia ini memang perlu diakui. Tidaklah mengherankan jika ulama terlibat dengan urusan politik, atau bahkan ulama itu sendiri yang dengan sengaja terjun sendiri ke panggung politik sebagai tokoh utama partai politik. Sementara itu, sosok ulama adalah sosok yang dikenal dengan pemandu umat (Islam) karena kepandaiannya dalam hal keilmuan Islam. Ulama adalah pemimpin umat Islam, pewaris Nabi dalam menegakkan dan menjalankan perintah Tuhan.

Merengkuh Kecerdasan dengan Shalat
Pustaka

Merengkuh Kecerdasan dengan Shalat

Judul: Lejitkan Semua Jenis Kecerdasan Melalui Shalat Penulis: M. Shodiq Mustika Penerbit: Diva Press Cetakan: I,  Agustus 2008 Tebal:    284 halaman Peresensi: Indah Rahmawati* Manusia dan jin diciptakan oleh Allah SWT di dunia untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana telah disebutkan dalam Al-Qur'an. Beribadah bukan berarti hanya shalat, dzikir, atau puasa yang bersifat ibadah ritual. Kita dapat tersenyum, atau melakukan pekerjaan baik lainnya dengan maksud ibadah.

Reaktualisasi Lembaga Perekonomian Islam
Pustaka

Reaktualisasi Lembaga Perekonomian Islam

Judul Buku: Manajemen Syari’ah; Implementasi TQM dalam Lembaga Keuangan Syari’ah Penulis: Kuat Ismanto, SHI MAg Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta Cetakan: Februari 2009 Tebal: 320 halaman Peresensi: Miftahul A’la* Krisis global yang melanda dunia hingga sampai saat sangat terasa sekali dampaknya, terlebih dalam sektor perekonomi yang merupakan jantung peradaban kehidupan manusia. Negara-negara dunia terlebih negara yang sedang berkembang semacam Indonesia dan negara-negara Islam kalang kabut menyambut dampak krisis ekonomi glabal yang melanda dunia. Indonesia sendiri misalnya, menerima dampak yang paling serius, hingga menyebabkan keuangan negara semakin mengalami devisit dan menyebabkan semakin melonjaknya harga-harga bahan pokok serta semakin meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan.

Pancasila sebagai Nuqthotul Liqo’
Pustaka

Pancasila sebagai Nuqthotul Liqo’

Judul Buku: “Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa” Penulis: As’ad Said Ali Pengantar: KH A. Mustofa Bisri Penerbit: LP3ES Jakarta Cetakan: I, Februari 2009 Tebal: 340 halaman + xxxii Peresensi: A. Khoirul Anam Pada saat era reformasi “dibunyikan” sebagian elemen bangsa ini masih trauma dengan Pancasila. Praktis pada masa Orde Baru Pancasila hanya menjadi milik pemerintah. Rakyat tidak diperkenankan memberikan interpretasi terhadap Pancasila. Anak-anak sekolah diwajibkan mengikuti penataran Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4) sebagai interpretasi tunggal Pancasila. Semua organisasi dan partai politik diharuskan mencantumkan Pancasila sebagai asas, namun tidak diperkenankan menjelaskan apapun tentang Pancasila. Yang miris, Pancasila menjadi alat untuk membungkam orang-orang yang kritis; yang berbeda dengan pemerintah dianggap tidak pancasilais.

Mengurai Hubungan Islam dengan Masalah Kenegaraan
Pustaka

Mengurai Hubungan Islam dengan Masalah Kenegaraan

Judul Buku: Mengindonesiakan Islam Penulis: Dr Mujiburrahman Penerbit: Pustaka Pelajar, Yogyakarta Cetakan: I, Desember 2008 Tebal: 438 Halaman Peresensi: Puji Hartanto Keseluruhan gagasan yang terkandung dalam buku berjudul Mengindonesiakan Islam yang ditulis Mujiburrahman ini adalah bahwa umat Islam sebagai penghuni mayoritas bangsa yang multiagama, multi etnis, dan multi ideologis ini perlu menghayati ajaran Islam. Tujuannya mendorong terciptanya persatuan dan perekat bagi bangsa Indonesia yang tengah menghadapi ancaman disintegrasi. Mujiburrahman sesungguhnya ingin menyeru kepada kita bahwa kenyataan pluralistik mengenai politik Islam di Indonesia harus diterima dengan lapang dada, terutama jika kita mengakui bahwa ajaran Islam, termasuk politik, bersifat multitafsir.