NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80

Pustaka

Kumpulan artikel kategori Pustaka

Menampilkan 12 artikel (Halaman 81 dari 95)
Fatwa untuk Kopi dan Rokok
Pustaka

Fatwa untuk Kopi dan Rokok

Judul buku: Kitab Kopi dan Rokok Penulis: Syaikh Ihsan Jampes Penerbit: Pustaka Pesantren Yogyakarta Cetakan: 1, Februari 2009 Tebal: xxv + 110 halaman Peresensi: Muhammadun AS Salah satu hasil konsensus Komisi Fatwa Majlis Ulama Indonesia (KF-MUI) di Padang Panjang, Sumatera Barat, akhir Januari 2009 lalu adalah fatwa tentang hukum haramnya merokok bagi anak-anak, wanita hamil, dan pengurus MUI sendiri. Pro-kontra menyelimuti fatwa kontriversial tersebut, terlebih daerah yang menjadi tempat tembakau berkembang biak dan tempat di mana perusahan rokok berdiri.

Pentingnya Belajar Ilmu Tauhid
Pustaka

Pentingnya Belajar Ilmu Tauhid

Judul: Aqidah Ahlusunnah Waljamaah; Terjemah & Syarh Aqidah al-Awam Penulis: KH Muhyidin Abdushomad Pengantar: KH Agoes Ali Ali Masyhuri Penerbit: Khalista, Surabaya Cetakan: I, Januari 2009 Tebal: 72 halaman Peresensi: Noviana Herliyanti Beberapa hari lalu, Islamic Center, Cirebon, Jawa Barat, memberikan sebuah pernyataan bahwa acara peringatan Haul Sayyidina Husein atau peringatan hari wafatnya Cucu Nabi Muhammad telah bertentangan dengan akidah umat Islam. Padahal, tradisi seperti ini, telah menjadi bagian amaliah umat Islam Indonesia khususnya warga Nahdlatul Ulama (NU). Tahlil, istighosah, haul (peringatan wafat), pembacaan Maulid diba’ dan barzanji merupakan hal yang dianjurkan ulama Ahlussunnah wal Jamaah. Karena amaliah ini, telah mengandung nilai-nilai kebaikan guna untuk mendekatkan diri pada Allah dan menanamkan nilai-nilai kecintaan kepada Nabi Muhammad.

NU dalam Imajinasi Politik Seorang Intelijen
Pustaka

NU dalam Imajinasi Politik Seorang Intelijen

Judul Buku : Changes to the Heart of Tradition; The Nahdlatul Ulama I Observed Penulis : As'ad Said Ali Pengantar : KH Sahal Mahfudz Tebal : 217 indeks Tahun : 2008 Peresensi : M. Hendarto Buku "Pergolakan di Jantung Tradisi: NU yang Saya Amati" karya As'ad Said Ali sukses dalam edisi bahasa Indonesia, yang ditandai dengan didiskusikannya buku ini di berbagai tempat dan sempat cetak ulang beberapa kali. Buku ini berhasil menghentak pembaca, terutama ketika menunjukkan adanya pengaruh yang sedemikian besar pemikiran neo-liberal dalam NU. Pengaruh itu masuk melalui berbagai funding agency yang beroperasi melalui LSM yang ada dalam NU.

Menjelajahi Sisi Lain Keteladanan Kiai As’ad
Pustaka

Menjelajahi Sisi Lain Keteladanan Kiai As’ad

Judul Buku: Kharisma Kiai As’ad di Mata Umat Editor: Syamsul A. Hasan Penerbit: Pustaka Pesantren-LKIS, BP2M PP Salafiyah Syafiiyah Cetakan: Ketiga, 2008 Tebal: xxxi + 214 halaman Peresensi: Mashudi Umar Di deretan ulama-ulama besar di Indonesia, nama Kiai As’ad tentu bukanlah nama yang asing. Ia merupakan mediator berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) dan salah seorang inspirator penerimaan asas Pancasila di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur, yang ia pimpin.

Kerancuan Pemikiran Cak Nur
Pustaka

Kerancuan Pemikiran Cak Nur

Judul: Sekularisasi; Membongkar Kerancuan Pemikiran Nurcholish Madjid Penulis: Prof Dr H Faisal Ismail, MA Penerbit: Nawesea Press, Yogyakarta Cetakan I: Desember, 2008 Tebal: 252 halaman Peresensi: Lukman Santoso Az Di Indonesia, gerakan pembaruan Islam telah tumbuh sebelum kemerdekaan, terutama pada era 1920-an. Gerakan ini ditandai dengan upaya pemurnian kembali ajaran Islam pada sumber utama, yakni Al Quran dan Hadits. Tokoh-tokoh gerakan ini, antara lain KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta, Haji Rasul di Minangkabau, dan A. Hassan di Bandung.

Gus Mus Bicara Nasib Rakyat
Pustaka

Gus Mus Bicara Nasib Rakyat

Judul Buku: Kompensasi Penulis: A. Mustofa Bisri Penerbit: Mata Air Publishing Cetakan: Februari 2008 Tebal: x+ 312 halaman Peresensi: Ahmad Shiddiq Rokib Dalam motto buku ini tertulis, “Mungkin akan jumpai empat macam orang; orang tahu dan tahu bahwa dia tahu, bertanyalah kepadanya; Orang yang tahu dan tidak tahu bahwa dia tahu, ingatkanlah dia; Orang yang tidak tahu dan tahu bahwa dia tidak tahu, ajarilah dia; orang yang tidak tahu dan tidak tahu bahwa dia tidak tahu, tinggalkanlah dia”.  Bisa dikata mencerminkan kegelisan KH Mustofa Bisri atau Gus Mus pada realitas sosial.

Menyelami Samudera Kearifan Para Kiai
Pustaka

Menyelami Samudera Kearifan Para Kiai

Judul Buku: Karomah Para Kiai Penulis: Samsul Munir Amin Penerbit: Pustaka Pesantren, Yogyakarta Cetakan: I, November 2008 Tebal: xx + 348 halaman Peresensi: Imam Musthafa Karomah dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti keramat, suatu pristiwa yang sulit diterima oleh daya pikiran manusia pada umumnya. Karomah banyak dijumpai dalam literatur keagamaan, termasuk dalam berbagai literatur agama Islam. Dalam Al Quran tidak sedikit ayat yang mengisahkan kejadian atau pristiwa yang sulit dicerna akal pikiran. Di antaranya, seperti kisah Ashabul Kahfi, sekolompok pemuda yang yang tertidur sampai ratusan tahun dalam gua dan kisah Maryam sebagai perempuan suci yang melahirkan Nabi Isa tanpa ayah, serta kisah-kisah yang berbau karomah lainnya.

Becermin dari Kiai Blambangan
Pustaka

Becermin dari Kiai Blambangan

Judul Buku: Tiga Kiai Khos Penulis: Ainur Rofiq Sayyid Ahmad Penerbit: LKiS, Yogyakarta Cetakan: I, September 2008 Tebal: xiii+154 Halaman Peresensi: A. Syaiful A'la Saat konflik di tubuh Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pecah, muncullah istilah yang dicetuskan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan nama kiai khos dan kiai kampung. Buku yang ditulis Ainur Rofiq Sayyid Ahmad bukan berarti untuk membedakan antara kiai khos dan kiai kampung. Tetapi yang dimaksud penulis adalah untuk menjelaskan kepada publik, mana kiai yang harus menyandang gelar warasatul al-anbiya’ (pewaris nabi)? Karena banyak kiai di beberapa daerah sekarang ini yang tidak mencerminkan sebagai pewaris nabi ketika terjun dalam politik praktis. Yang seharusnya menjadi kiai khos berubah menjadi kiai “kaos”, kiai kampong—seorang kiai yang bersentuhan langsung dengan masyarakat—malah menjadi kiai “kampungan” yang selalu membodohi masyarakatnya.

Pesan ‘Spritual’ Pangeran Sufi
Pustaka

Pesan ‘Spritual’ Pangeran Sufi

Judul Buku: Mutiara Agung Pangeran Sufi Al-Junaid Al-Bagdhady Penulis: KH Moh. Lukman Hakim, MA Penerbit: Cahaya Sufi, Jakarta Cetakan: Pertama 2008 Tebal: (xix + 317) halaman Peresensi: Mashudi Umar Tasawuf sesungguhnya bukan sesuatu penyikapan yang pasif atau apatis terhadap kenyataan sosial. Sebaliknya, seperti diteguhkan Dr Abu Al-Alaf Afifi dalam studinya tentang tasawuf Islam klasik, tasawuf berperan besar dalam mewujudkan sebuah revolusi moral spritual dalam masyarakat. Dan, bukankah moral spritual ini merupakan ethical basic atau al-asisayatu-akhlaqiyah bagi suatu formulasi sosial seperti dunia pendidikan?

Keadilan bagi Bangsa Iran
Pustaka

Keadilan bagi Bangsa Iran

Judul Buku: Ahmadinejad Menggugat; Republik Islam Iran Mematahkan Arogansi Amerika dan Israel Penulis: Dr Mahmud Ahmadinejad Penerbit: Zahra, Jakarta Cetakan: I, September 2008 Tebal: 346 halaman Peresensi: Fikrul Umam M.S. Saat ini pemerintah negara-negara Barat yang dimotori Presiden Amerika Serikat (AS), George W. Bush, begitu memusuhi Iran dan Presidennya, Mahmud Ahmadinejad. Berbagai isu dikembangkan untuk menyudutkan Iran dan Ahmadinejad, mulai dari isu terorisme sampai isu senjata nuklir. Faktanya, semua itu hanyalah akal-akalan Zionis Israel dan Amerika untuk melancarkan rencana busuk mereka yang hendak mendirikan Israel Raya yang membentang dari sungai Nil (mesir) hingga ke sungai Furat (Irak).

Pergolakan Domestik dalam Politik Luar Negeri
Pustaka

Pergolakan Domestik dalam Politik Luar Negeri

Judul Buku: Politik Luar Negeri Indonesia di Tengah Pusaran Politik Domestik  Penulis: Ganewati Wuryandari dkk Penerbit: Pustak Pelajar,Yogyakarta Cetakan: Pertama, Agustus 2008 Tebal: 265 halaman Peresensi: Suyadi Muhammad Politik Indonesia merekam secara jelas dari kepemimpinan Soekarno hingga Susilo Bambang Yuudhoyono mengalami lika-liku pergolakan, baik pergolakan pada politik dalam negeri maupun luar negeri. Sebenarnya dapat dikatakan bahwa pergolakan ini terpengaruhi dua zaman, yakni Orde Lama (Orla) dan masa Orde Baru (Orba). Kedua masa ini pula sebagai penentu perkembangan politik negara Indonesia di masa selanjutnya.