NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80

Pustaka

Kumpulan artikel kategori Pustaka

Menampilkan 12 artikel (Halaman 89 dari 95)
NU Menjembatani Dua Kutub Pemikiran
Pustaka

NU Menjembatani Dua Kutub Pemikiran

Penulis :Ahmad Baso, Cetakan :I, 2006, Tebal :510 hlmn, Harga :Rp. 90.000, Peresensi :M. Sanusi* Tanggal 31 Januari 2007 nanti NU akan merayakan ulang tahunnya yang ke 81. Selama periode itu, NU telah mencoba berbagai strategi yang mengindikasikan komitmen besarnya terhadap agenda-agenda trasnformasi sosial dan pemberdayaan masyarakat. Akan tetapi, selama itu pula NU tidak lepas dari pergulatan menyangkut status dan identitasnya sebagai organisasi keagamann terbesar di Indonesia. Dari corak tradisional-kultural di masa awal berdirinya, hingga era ketika neo-liberalisme seperti sekarang mendesakkan teologinya ke segala sendi kehidupan. Fluktuasi dinamika perjalanan NU tentu tidak lepas dari berbagai corak dan ragam pemikiran yang berebut keluar masuk, hingga pada gilirannya turut mewarnai jati diri dan identitas kultur di tubuh NU. Di samping itu, komentar dan gagasan "orang luar" tentang NU, baik berupa tulisan dan berbagai bentuk konsensus intelektual lainnya, juga turut berkontribusi terhadap perubahan warna kultur ini.Stereotipe NU, yang dulunya lekat dan

Gerakan Islam Simbolik (Politik Kepentingan FPI)
Pustaka

Gerakan Islam Simbolik (Politik Kepentingan FPI)

Penulis : Al-Zastrouw Ng, Cetakan : Pertama, November 2006, Tebal : xviii  + 192 Halaman, Peresensi : M. Husnaini Gerakan Islam radikal-fundametalis yang marak terjadi dalam negeri akhir-akhir ini telah menimbulkan keresahan banyak kalangan. Aksi-aksinya yang sangat keras terhadap segala bentuk kemungkaran dengan dalih amar ma’ruf nahi mungkar sempat menyedot perhatian berbagai elemen masyarakat, elit agama, dan para cerdik cendikia. Berbagai reaksi muncul, mulai dari pihak yang mengecam sampai dengan pihak yang mendukung sepenuhnya, bahkan memfasilitasi gerakan tersebut.Al-Zastrouw Ng. adalah salah seoran

Membumikan Tradisi Tasawwuf
Pustaka

Membumikan Tradisi Tasawwuf

Penulis                   : Sa’id Hawa Cetakan                  : I, November 2006 Tebal                      : xli+563 Halaman Peresensi               : M. Yunus BS.* Gemuruh perang salib yang berlangsung semenjak abad ke-11 telah menyebabkan umat Islam di dunia Arab dan Persia terperangkap dalam pertarungan politik yang sangat tidak menguntungkan. Umat Islam benar-benar terkepung oleh lingkaran bola api politik yang digariskan oleh pasukan Mongolia, terutama di bawah pimpinan Jengis Khan. Tak ayal, kemegahan dan kemajuan peradaban yang telah dicapai kala itu hancur seketika. Kekhalifahan bani Umayyah dan bani Abbasiyah yang semula memegang tampuk kekuasaan politik dunia tidak bisa berkutik lagi, seolah ada takbir mubrom yang melarangnya untuk berkembang lebih jauh dari apa yang telah dicapai kedua kerajaan Islam tersebut. Sebuah takdir yang jatuh bersamaan dengan datangnya era kebangkitan bagi dunia barat. Mengapa bisa demikian?Banyak pengamat mengasumsikan, bahwa selain tekanan politik y

Dakwah dengan Cinta
Pustaka

Dakwah dengan Cinta

Peresensi : Mustain*), Penulis  : Husain MATLa, Cetakan : Pertama, September 2005, Tebal  : 194 halaman “Tidak penting apakah pendapat anda bagus jika anda tidak menyampaikan dengan cara yang tepat “ (M. Fauzil Adhim) Pada zaman modern, pola kamunikasi antar manusia telah berkembang sedemikian canggih. Zaman modern juga bisa disebut sebagai era kamunikasi, informasi, dan globalisasi. Komunikasi dan informasi ibarat “pedang” bermakna dua yakni bisa dipergunakan untuk hal-hal yang positif maupun negatif.Kadang, kita prihatin dengan kondisi masya

Interpretasi Santri atas Kehidupan
Pustaka

Interpretasi Santri atas Kehidupan

Penulis : KH. A. Mustofa Bisri, Ahmadun Y. Herfanda, dkkPengantar :  Ahmad Tohari Cetakan I : 2006 Tebal : 198 halamanPeresensi : Rijal Mumazziq Z * Pada awal 80-an para santri tampil mempresentasikan dunia pesantren kepada khalayak. Gus Dur, Gus Mus, Cak Nur, dan Cak Nun adalah para santri yang mengikis pandangan luar bahwa pesantren identik dengan pemikiran stagnan, penampilan kolot, serta berpandangan picik. Ledakan arus para santri (yang diawali dengan gerakan empat kampiun santri di atas) kemudian merambah ke dunia seni, lebih khusus lagi sastra. Jika nama santri senior seperti Gus Mus, Cak Nun maupun Kang Tohari sudah kondang di panggung sastra Indonesia. Maka generasi santri yang muncul belakangan setidaknya membuktikan betapa regenerasi santri di bidang sastra masih terjaga dengan baik. Ahmadun Yosi Herfanda, Abidah el-Khalieqy, Habiburrahman el-Shirazy, Prie GS, adalah sekelumit nama santri yang mengusung warna baru dalam jagat sastra Indonesia. Mereka lahir, tumbuh, mengalami proses di pesantren, serta terpengaruh eksotisme religius ala pesantren. Hal itu terbukti, jika melihat gagasan, alur, serta nilai-nilai religius yang mereka usung dalam karyanya masing-masing.Nyanyian Cinta; Antologi Cerpen Santri Pilihan, adalah bukti bahwa para santri me

Sentuhan Spiritual Aidh Al-Qorni
Pustaka

Sentuhan Spiritual Aidh Al-Qorni

Penulis: Dr. Aidh Al-Qorni, Cetakan: I, Juli 2006, Tebal : xiv; 644 Halaman, Peresensi: Puji Hartanto* Masalah krisis moral, tampaknya menjadi catatan yang menarik sepanjang tahun 1997. agama yang dianggap sebagai benteng moralitas, seolah sudah semakin rapuh dengan banyaknya tindakan manusia yang tercerabut dari nilai-nilai agama. Krisis moral yang melanda umat manusia, mulai dari praktik aborsi, korupsi, kolusi, hingga kerusuhan dan pembakaran tempat ibadah, tampaknya semakin merajalela. Tragedi yang menggetarkan hati ini, tampaknya sudah menjadi nestapa kelam dalam peradaban umat manusia saat ini. Sehingga tidaklah berlebihan kalau Quraish Shihab dalam buku Lentera Hati, menyebut peradaban umat saat ini sudah memasuki jahiliyah baru. Yaitu sebuah peradaban yang memebenarkan penindasan, pembunuhan, ketidakadilan dan ketidakjujuran. Kemudian, dari berbagai fenomena krisis moral

Tren Pluralisme Agama
Pustaka

Tren Pluralisme Agama

Penulis: Dr. Anis Malik Thoha, Peresensi: Lukman Santoso Az*, Cetakan: Pertama 2006, Tebal : 298 halaman Wacana pluralisme agama telah muncul pada masa yang disebut enligtenment (pencerahan) Eropa, tepatnya pada abad ke-18 Masehi, masa dimana sering disebut sebagai titik permulaan bangkitnya gerakan pemikiran modern. Juga merupakan masa yang diwarnai dengan wacana-wacana baru tentang pergolakan pemikiran manusia yang berorientasi pada superioritas akal (rasionalism) dan pembebasan-pembebasan akal dari kungkungan agama. Kondisi ini timbul sebagai konsekuensi logis dari konflik-konflik yang terjadi antara gereja dan kehidupan nyata diluar gereja, serta hiruk-pikuk pergolakan pemikiran di Eropa, maka muncullah suatu faham yang dikenal dengan 'liberalisme' (liberalism), yang komposisi utamanya adalah kebebasan, toleransi, persamaan dan keragaman (pluralism).  Pluralisme agama sepintas memang tampak sebagai solusi yang menjanjikan harapan-harapan dan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur, namun yang lebih mendalam, obyektif dan kritis terhadap gagasan tersebut, adalah telah menunjukkan hakikat yang justru sebaliknya, dan semakin menyingkap topeng yang menyembunyikan wajah aslinnya yang ternyata bengis, tak ramah dan intoleran.Berpijak pada kondisi inilah, Dr. Anis Malik

Qolbu, Sentra Kehidupan Manusia
Pustaka

Qolbu, Sentra Kehidupan Manusia

Penulis  : KH. Muhyiddin Abdusshomad, Pengantar : Prof. KH. Ali Yafie, Cetakan : I, Desember 2005Tebal  : XVI + 199 halaman, Peresensi : M. Abd. Hady, JM* Manusia, barangkali sosok makhluk paling unik dan misterius. Pada saat tertentu, Ia tampil (mau) menampakkan sebagai sesosok malaikat. Sosok makhluk suci. Seolah tiada dosa sedikitpun membekas dan (dibiarkan) menyelinap dalam dirinya. Tetapi tidak jarang, manusia seringkali menjelma layak iblis-setan. eksistensi, visi dan misi serta perilaku manusia lebih dari iblis-setan itu sendiri. Pendek kata, dalam diri manusia tersimpan dua potensi, baik dan buruk.Dalam pandangan Islam, seluruh sepak terjang tingkah laku Manusia

Menuntaskan Visi Ke(bebas)an Negara
Pustaka

Menuntaskan Visi Ke(bebas)an Negara

Penulis    : Denny J. ACetakan   : I, Agustus 2006Tebal        : xiv + 122 halamanPeresensi  : Lailiyatis Sa’adah* Sejarah Indonesia adalah sejarah perlawanan. Perlawanan mengusir penjajah, ketidakadilan, penindasan dan kesenjangan sosial lainnya. Bentuk perlawanan itu memuncak dengan mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia (RI) tepat pada 17 Agustus 1945. Peristiwa ini kemudian diabadikan oleh seluruh rakyat Indonesia dalam diri setiap warga. Maka tak heran, bila setip memasuki bulan Agustus masyarakat merayakan peristiwa bersejarah itu melalui pelbagai bentuk dan varian yang berbeda. Tak ketinggalan pula, pemerintah yang secara formal merayakan sekaligus merefleksikan perjalanan panjang bangsa Indonesia hingga mencapai 61 tahun. Apalagi, Indonesia memiliki optimisme yang amat tinggi pascareformasi 1998 dengan tumbangnya pemerintahan otoriter di bawah kekuasaan Soeharto. Stabilitas politik mulai membaik dan segala ekspresi kebebasan warga sipil dibuka seluas-luasnaya. Namun demikian, seberapa optimiskah Indonesia menatap masa depan itu?Di satu sisi, memang harus kita akui

Kehidupan dalam Pandangan Al-Qur’an
Pustaka

Kehidupan dalam Pandangan Al-Qur’an

Penulis: Dr. Ahzami Samiun Jazuli,  Cetakan : I, September 2006, Tebal : xiv; 590 Halaman, Peresensi: Andi Ujiawan* Seperti telah kita ketahui, bahwa manusia ada tidaklah demi perbuatannya, melainkan ada demi demi tujuan terakhirnya. Dalam artian, seseorang tidak bisa berbuat bila tidak terdapat tujuan dalam hidupnya. Sebab, setiap perbuatan dipilih sebagai jalan menuju tujuannya. Oleh karena itu, manusia haruslah mempunyai tujuan akhir dalam hidupnya sebelum ia memulai perbuatannya. Tujuan akhir tersebut akan menggerakan seluruh proses dan mendiktekan atas semua perbuatan yang dipakai sebagai jalan untuk pemenuhannya. Oleh karena itu, manusia bisa dikatakan bermoral baik apabila hidupnya dijuruskan ke arah tujuan akhirnya. Selanjutnya, perbuatan-perbuatan tersebut dika

Ajengan Cipasung; Biografi KH Moh Ilyas Ruhiat
Pustaka

Ajengan Cipasung; Biografi KH Moh Ilyas Ruhiat

Penulis : Iip D. Yahya, Cetakan : 1, Juli 2006, Tebal : xxxix + 327 halaman, Peresensi : Muhammadun AS* Dalam khazanah budaya Sunda, dikenal adanya tiga pembagian kekuasaan yang setara dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Ketiga lembaga kekuasaan itu menyatu dan saling mendukung. Kekuasaan yang dihormati adalah kekuasaan rohaniah yang disebut resi. Kekuasaan kedua disebut ratu, yakni pihak eksekutif yang memerintah ketiga kampung kekuasaan. Dalam bahasa yang lebih primordinal disebut negara. Dan alamat ketiga adalah rama yang tak lain adalah rakyat, yang lembaganya mengurusi keamanan dan pertahanan ketiga kesatuan tripartit kampung. Dengan demikian, ketiga lembaga memiliki pucuk pimpinan atau jawaranya sendiri-sendiri, yakni jawara rohaniah, jawara eksekutif, dan jawara silat. Sosok kharismatik ajengan Cipasung

Dehistorisasi Islam Indonesia
Pustaka

Dehistorisasi Islam Indonesia

FENOMENA keberislaman di negeri ini semakin mengarah pada ketercerabutan jati diri yang telah mencapai titik mapan. Ia telah lama mengarah pada proses “dehistorisasi” Islam Indonesia. Yakni, sebuah kondisi dimana geliat kehidupan Islam, khususnya yang terlihat diruang publik, telah melangkah jauh meninggalkan akar kesejarahan serta permasalahan orisinil Islam di Indonesia. Jika kita membaca perdebatan Islam baik di media, seminar, hingga penerbitan buku, maka yang bertarung adalah dua macam fundamentalisme: Islamisme vis a vis liberalisme. Kegelisahan ini mungkin dianggap mengada-ada, karena semua fenomena tersebut sudah menjelma fakta. Mata publik kita tersedot kepadanya. Hanya saja, ia berangkat dari satu keprihatinan ‘nasionalistik’, ketika menyaksikan bandul keberislaman kita kok lebih bergerak ke arah ‘luar’: kalau tidak Islamis, ya westernis. Artinya, diskursus Islam yang mengemuka selalu dijul-beli oleh dua agenda ‘luar’ yang saling bertentangan: Barat vis a vis Islam (is). Apa yang diperjuangkan dibalik wacana