Aku Kehilangan Dompet, Tapi Aku Tidak Kehilangan
Maaf, Bu, apakah ibu atau orang sekitar pernah ada yang menemukan sebuah dompet yang berwarna hitam legam, berisi uang tidak seberapa, KTP, kartu nama, dan sebuah potret?
Kumpulan artikel kategori Seni-budaya
Maaf, Bu, apakah ibu atau orang sekitar pernah ada yang menemukan sebuah dompet yang berwarna hitam legam, berisi uang tidak seberapa, KTP, kartu nama, dan sebuah potret?
Tiba–tiba di suatu tempat yang tak terduga sebelumnya, aku berjumpa denganmu. Tiba tiba kamu tersenyum. Senyum yang itu. kemudian Kamu menatapku.
Aneh, di satu tabloid Gus Dur berkata dengan berani, aneh, dan gila; kira-kira demikian: “Indonesia pernah dipimpin tiga orang gila, pertama, Seokarno gila wanita, Soeharto, gila harta, Habibie gila....”
Tapi masjid itu sekarang seperti kehilangan ruhnya. Jamaah masjid pun sekarang berhilangan. Mereka lebih memilih shalat di rumah saja. Jamaah yang berbeda partai tak mau berjamaah.
Saat-saat senggangnya, dihabiskan untuk memeriksa data-data, agenda-agenda, dan hitungan-hitungan di depan layar komputer. Tak jarang tamu-tamu datang ke rumah membicarakan kegiatan-kegiatan.
Seseorang itu menyerahkan kotak hitam dari tasnya sambil menatapku. Tatapan yang itu. Tatapan yang hanya satu-satu di dunia, bola matanya, gerak alisnya, cahaya matanya, dan kerlingnya.
Aku tidak tahu apakah kata-kata yang meluncur dari mulutmu adalah kata-kata yang dikehendaki atau kata-kata yang meluncur begitu saja seperti kata-kataku tadi.
Aku tidak tahu apakah kata-kata yang meluncur dari mulutmu adalah kata-kata yang dikehendaki atau kata-kata yang meluncur begitu saja seperti kata-kataku tadi.
“A…akhir September, Cil, akhir September,” untuk kedua kalinya kata-kata yang tak diinginkannya itu meluncur, seperti ada yang menggerakkan lidahnya. Dia tertegun lagi.
”Untuk membikin lubang. Apa kamu tidak lihat?” jawabnya tanpa menoleh dari arah mana suara itu datang. Dia sudah hapal suara itu. Suara Sabri. Pemilik kebun di samping kebunnya. Sementara tangannya masih terus mengayunkan pacul. Menggali lubang.
“Tapi aku tidak minta dilahirkan. Aku tidak ingin lahir. Kenapa aku dilahirkan tanpa perstujuanku sendiri sedang aku tidak bisa memilih.”
Di kampungku, sebetulnya sudah ada orang yang bisa mengaji kemudian mengajar anak-anak, namun pikiran Wak Erpol lebih maju. Jika hanya mengajar alif ba ta saja itu masih belum cukup.