Warta Cinta
Kecuali aku, semua yang hari itu berada di dermaga termangu dan menyimak seksama. Sementara aku masih sibuk mendempul perahu.
Kumpulan artikel kategori Seni-budaya
Kecuali aku, semua yang hari itu berada di dermaga termangu dan menyimak seksama. Sementara aku masih sibuk mendempul perahu.
Bahasanya sulit mengerti, bahkan kalau didengar dengan teliti, bahasanya tidak bahasa Indonesia, bahkan tidak bahasa Jawa pula. Bahasanya mirip-mirip bahasa Arab. Entah apa yang dia ucap, semua orang tidak ada yang mengerti dengan bahasanya. Sering kali dia melamun sendiri.
Kemudian beberapa orang lagi berlari ke arah kerumunan itu sambil berteriak. Sementara akau mulai minum cendol dari gelas kedua yang disodorkan si tukang cendol. Di bawah sinar matahari.
Nasihat bapaknya yang sejak ia duduk di kelas 3 SD sudah mendengarkan itu, selalu terulang setiap kali ke sawah. Setiap nasihat bapaknya yang sungguh berniat memotivasi dirinya, Han pun membalas dengan jawaban sopan yang serupa.
Ketika dia lelah atau malas dengan doa yang panjang, dia mengambil cara lain yang mudah dan praktis. Dan dia yakin bahwa Tuhan mengetahui apa makna dari doanya itu meski dia tak menyebutkan doanya secara utuh.
“Cuma meretwitt kampanye-kampanye dia Twitter, melike status dia di Facebook. Kampanye itu bisa buatan dia sendiri atau tautan dari link lain. Nah, di Facebook ini ada tambahan, membagikannya ke teman-teman. Tapi itu kan mudah, tinggal sekali klik, pada tulisan bagikan. Sudah tinggal tidur, dapat 700 ribu.”
Dari mana mereka tahu namaku? Belum sempat berpikir tentang itu, tanganku sudah ditarik ke area gawang. Sorak-sorai penonton semakin menjadi ketika bek tim hitam akan melakukan tendangan bebas. Tidak ada pilihan lain selain mengikuti.
“Buktinya, banyak yang statusnya tokoh agama, menjadikan status tersebut sebagai kendaraan berpolitik. Mereka beralasan, kalau bukan orang baik yang mengisi kursi politik, siapa lagi? Mau orang-orang busuk yang tetap mendudukinya? Omong-kosong! Air bening bertemu tinta, ya, hitam!”
Kericuhan itu membuat mobil Mami tak bisa lewat. Ia takut dicegat demonstran, apalagi wajah Mami wajah Tionghoa, sasaran empuk di setiap demo berbau bentrokan etnis. Demostran semalam ialah warga Kampung Luar Batang yang tak terima lahannya digusur.
“Dan dia tak kunjung kembali. Padahal dia sudah berjanji akan membawakanku potret senja dari atas ketinggian yang paling cantik. Karena ia tahu aku akan sangat menyukainya. Tapi sayangnya dia ingkar. Kau tahu berita pendaki yang meninggal di gunung Salak beberapa bulan lalu?”
Kalau benar demikian, terus mudik ke mana beliau? Gemerisik bisikan batin Kang Wongso mengurai benang-benang kusut pertanyaan. Rasa yang sebetulnya tidak teramat masalah jika pun tidak mendapatkan jawaban sama sekali.
“Kenapa belum berbunyi juga beduk itu? Bukankah ini sudah sore?” tanya Oji sembari memegang jambu matang. Dicium lagi dicium lagi, seperti ingin memangsanya saat itu juga, “ aduh, begitu wangi jambu ini...!”