Shalawat/Wirid

Mengenal Shalawat Badar: Sejarah dan Maknanya

NU Online  ·  Ahad, 6 September 2026 | 04:42 WIB

Mengenal Shalawat Badar: Sejarah dan Maknanya

Shalawat Badar (Magnific)

Alunan suara yang lembut namun penuh wibawa menggema di seluruh ruangan. Begitulah gambaran lantunan shalawat badar yang menghadirkan suasana khidmat dan menguatkan nuansa spiritual dalam Pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang diselenggarakan di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, pada 27 September 2026.

 

Shalawat Badar yang dilantunkan oleh Dzaniyal Muhammad Chubaibillah turut membangkitkan semangat dan suasana spiritual para tamu undangan yang hadir dalam pembukaan tersebut.

 

Shalawat Badar merupakan karya monumental KH Ali Mansur Shiddiq, seorang ulama asal Banyuwangi yang juga dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah Nahdlatul Ulama. Lahir dari tradisi pesantren, shalawat ini kemudian berkembang menjadi bagian dari identitas kultural dan spiritual warga NU. Hingga kini, Shalawat Badar kerap dilantunkan dalam berbagai momentum keagamaan, majelis taklim, kegiatan kebangsaan, serta forum-forum besar Nahdlatul Ulama.

 

Berikut beberapa kutipan teks Shalawat Badar:

 

صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى طـهَ رَسُـوْلِ اللهِ


صَـلا َةُ اللهِ سَـلا َمُ اللهِ عَـلَى يـس حَبِيْـبِ اللهِ


تَوَ سَـلْنَا بِـبِـسْـمِ اللّهِ وَبِالْـهَادِى رَسُـوْلِ اللهِ


وَ كُــلِّ مُجَـا هِـدِ لِلّهِ بِاَهْـلِ الْبَـدْ رِ يـَا اَللهُ

 

اِلهِـى سَـلِّـمِ اْلا ُمـَّة مِـنَ اْلافـَاتِ وَالنِّـقْـمَةَ

 

وَمِنْ هَـمٍ وَمِنْ غُـمَّـةٍ بِاَ هْـلِ الْبَـدْرِ يـَا اَللهُ


Artinya; Rahmat dan keselamatan Allah, semoga tetap untuk Nabi utusan Allah.


Rahmat dan keselamatan Allah, semoga tetap untuk Nabi Yasin kekasih Allah.

Kami berwasilah dengan berkah basmalah, dan dengan Nabi yang menunaikan lagi utusan Allah.


Dan seluruh orang yang berjuang karena Allah, karena berkahnya ahli badar ya Allah.


Ya Allah, semoga Engkau menyelamatkan umat, dari bencana dan siksa.


Dan dari susah dan kesulitan, karena berkahnya ahli badar ya Allah.


KH Ali Mansur dan Peristiwa di Balik Lahirnya Shalawat Badar


Lahirnya Shalawat Badar bermula dari sebuah kegelisahan batin yang mendalam seorang kaiai Ali Mansur pada era 1960-an. Saat itu, suasana politik Indonesia berada dalam ketegangan yang memuncak. KH Ali Mansur, merasa cemas melihat pergolakan politik yang semakin tidak menentu. Di pedesaan, pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI) semakin kuat dan agresif, sementara posisi warga Nahdlatul Ulama (NU) kian terdesak dan terancam.

 

Di tengah kemelut batin tersebut, Allah swt memberikan petunjuk melalui mimpi yang luar biasa. Pada suatu malam, Kiai Ali Mansur bermimpi didatangi oleh sekelompok Habaib yang mengenakan pakaian serba putih-hijau. Dan pada malam yang sama, istri beliau juga mendapatkan mimpi bertemu dengan Baginda Nabi Muhammad saw. 

 

Merasa mimpi suami-istri ini bukan sekadar mimpi biasa, Kiai Ali Mansur lantas berkonsultasi kepada seorang Habib yang dikenal sebagai ahli kasyaf, yakni Habib Hadi al-Haddar di Banyuwangi. Habib Hadi menjelaskan bahwa sosok-sosok dalam mimpi tersebut adalah para pahlawan Perang Badar, para syuhada dan sahabat utama yang berjuang bersama Rasulullah. 

 

Dua mimpi istimewa itu memberi ilham kepada Kiai Ali Mansur, hingga terdoronglah beliau untuk menuliskan sebuah shalawat dan pujian terhadap sahabat ahli badar.

 

Kejadian yang lebih mengherankan terjadi keesokan harinya. Tetangga-tetangga beliau berdatangan ke rumah dengan membawa berbagai bahan makanan dalam jumlah banyak, seolah-olah hendak menyambut hajatan besar. 


Mereka bercerita bahwa sejak pagi buta, rumah mereka diketuk oleh orang-orang berjubah putih yang memberi tahu bahwa Kiai Ali Mansur akan mengadakan acara besar. kiai Ali Mansur sendiri sempat bingung lantaran sama sekali tidak merencanakan hajatan apapun.


Benar saja, menjelang matahari terbit, datanglah serombongan para Habaib yang dipimpin langsung oleh Habib Ali bin Abdurrahman al-Habsyi dari Kwitang, Jakarta. Setelah berbincang sejenak, Habib Ali Kwitang secara mengejutkan bertanya kepada Kyai Mansur, "Mana syair yang ente buat kemarin? Mohon bacakan dan lagukan di depan kami semua!"

 


Kiai Ali Mansur terkejut bukan kepalang, sebab ia belum pernah menceritakan gubahannya kepada siapapun, terlebih Habib Ali baru saja datang jauh-jauh dari Jakarta ke Banyuwangi. Dengan suara merdunya, kiai Ali Mansur melantunkan syair tersebut, yang sekarang dikenal dengan shalawat badar. (H. Soeleiman Fadeli dan M. Subhan, Antologi NU: Sejarah, Istilah, Amaliah, Uswah, [Khalista, Surabaya: 2007], 141-142)

 

Makna Shalawat Badar dan Relevansinya bagi Khidmah NU

 

Secara umum, Shalawat Badar mengandung doa, tawasul kepada Nabi Muhammad saw. dan para sahabat Ahli Badar, serta permohonan kepada Allah swt agar umat diberikan keselamatan dari berbagai bencana, kesulitan, konflik, dan permusuhan.

 

Dalam tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, tawasul merupakan salah satu bentuk ikhtiar dalam berdoa kepada Allah swt dengan menjadikan orang-orang yang memiliki kedudukan mulia di sisi-Nya sebagai wasilah. 

 

Hal ini pernah dilakukan oleh sahabat Umar bin Khattab sebagaimana hadits riwayat Al-Bukhari:


‎عَـنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُواْ إِسْتَسْقىَ باِلعَبّاسِ بْنِ عَبْدِ اْلمُطَّلِّبِ فَقَالَ : الَلَّهُمَّ إِنَّا كُناَّ نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْناَ وَإِنَّا نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ: فَيُسْقَوْنَ


 

Artinya, “Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Ketika terjadi kemarau panjang, sahabat Umar bin Khatthab bertawassul dengan Abbas bin Abdul Muthallib. Kemudian berdoa: “Ya Allah kami telah bertawassul kepadamu dengan Nabi-Mu, maka Engkau turunkan hujan”; dan sekarang kami bertawassul lagi dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan.” Anas berkata: “Maka turunlah hujan kepada kami”. (HR Al-Bukhari).

 

Para sahabat Ahli Badar sendiri memiliki kedudukan istimewa dalam sejarah Islam. Mereka merupakan orang-orang yang hadir dan berjuang bersama Rasulullah saw dalam Perang Badar. Keutamaan mereka juga ditegaskan dalam sejumlah hadis. Di antaranya sabda Rasulullah saw:

 

Dalam sebuah hadits disebutkan:

 

‎لَعَلَّ اللهَ اطَّلَعَ إِلَى أَهْلِ بَدْرٍ فَقَالَ: اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ، ‌فَقَدْ ‌وَجَبَتْ ‌لَكُمُ ‌الْجَنَّةُ، أَوْ: فَقَدْ غَفَرْتُ لَكُمْ

 

Artinya; Barangkali Allah memandang kepada para Ahli Badar kemudian berfirman: “Lakukan apa saja yang kalian kehendaki. Surga telah wajib bagi kalian.” atau “Sungguh Aku telah mengampuni kalian.” (HR Bukhari).

 

Karena itu, penyebutan dan tawasul melalui Ahli Badar dalam Shalawat Badar bukan hanya penghormatan terhadap kedudukan mereka sekaligus harapan agar doa yang dipanjatkan memperoleh keberkahan melalui wasilah orang-orang saleh yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah swt.


Gema Shalawat Badar dalam Pembukaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama menjadi momentum untuk menghidupkan kembali pesan spiritual yang terkandung di dalamnya. Di tengah kompleksitas persoalan internal organisasi dan dinamika kebangsaan, lantunan shalawat tersebut membawa doa agar diberi pertolongan dalam menghadapi berbagai dinamika yang ada.


Melalui pembacaan Shalawat Badar ini, semoga Muktamar NU dapat berjalan dengan lancar, damai, dan penuh keberkahan, serta mampu melahirkan keputusan-keputusan strategis yang senantiasa merawat kemaslahatan umat dan bangsa. Waallahu A’lam


------------
Bushiri, pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil