Sirah Nabawiyah

Kritik Kelompok Neotradisional (2): Nalar Sufistik Taha Abdurrahman

NU Online  ·  Rabu, 11 Maret 2026 | 14:02 WIB

Kritik Kelompok Neotradisional (2): Nalar Sufistik Taha Abdurrahman

Taha Abdurrahman (Freepik)

Pembicaraan mengenai pembaruan turats dari kalangan pemikir Islam neotradisional tidak mungkin lengkap tanpa menghadirkan Taha Abdurrahman. Ia adalah figur intelektual yang lengkap dalam penguasaan atas dua tradisi sekaligus: turats Arab Islam dan filsafat Barat.


Secara formal, Taha terdidik di dalam dunia akademik yang mapan hingga meraih gelar PhD dari Universitas Sorbonne di Prancis dengan disertasi mengenai logika argumentatif dan hakikat penalaran (Essay on the logic of argumentative and natural reasonings). Secara tradisional, ia mengaji di al-masid (semacam madrasah informal) di Maroko dan menjadi pengikut tarekat Budsyisyiyyah.


Kombinasi latar belakang yang langka tersebut, membuat pendekatan tajdid Taha Abdurrahman berbeda dengan Abid al-Jabiri, Tayyeb Tizini, ataupun Hasan Hanafi yang sangat kental dengan metodologi serta perspektif Barat dalam kritik turats mereka. 


Taha, di sisi lain, mengembangkan metode tajdid yang menggunakan logika bahasa Arab dan prinsip-prinsip filsafat etika keislaman. Bahkan pada tahun 1990-an, Taha terlibat melancarkan kritik-kritiknya secara langsung kepada al-Jabiri, kolega filsuf seniornya di Universitas Mohammed V Rabat.


Pembelaan Taha atas Nalar Irfani

 

Ketidaksetujuan Taha atas teori al-Jabiri utamanya terletak pada kesimpulannya yang menempatkan nalar burhani sebagai nalar tertinggi, di atas bayani dan irfani (Ikrom Mausuli, Revitalizing Tradition Toward Islamic Modernity in Ṭāhā ʿAbd al-Raḥmān’s Thought, AIJIT, Vol. 01 No. 02, halaman 6). Keberatan ini Taha rumuskan dalam bukunya Tajdid al-Manhaj fi Taqwim at-Turats (Casablanca: al-Markaz at-Tsaqafi al-‘Arabi, 2016 M).

 

Di dalam buku tersebut, Taha menyampaikan bahwa metode al-Jabiri dalam membaca turats adalah metode kritik evaluasi yang parsial (at-taqwim at-tajzi’i) yang menggunakan metode-metode yang dipinjam dari peradaban lainnya (al-aliyat al-manqulah) sehingga membuatnya melakukan kategorisasi turats yang keliru:

 

إِنَّ عَدَمَ وُقُوفِ الْجَابِرِيِّ عَلَىٰ دَقَائِقِ الْآلِيَّاتِ الْمَنْقُولَةِ الَّتِي اسْتَعْمَلَهَا فِي نُمُوذَجِهِ التَّقْوِيمِيِّ أَفْضَىٰ بِهِ إِلَى اتِّخَاذِ مَسْلَكٍ فِي تَجْزِيءِ التُّرَاثِ يُخِلُّ بِالْمُقْتَضَيَاتِ التِّقْنِيَّةِ وَالشُّرُوطِ الْإِجْرَائِيَّةِ لِهٰذِهِ الْآلِيَّاتِ

 

Artinya, “Sesungguhnya kegagalan al-Jabiri untuk memahami secara mendalam rincian mekanisme-mekanisme yang dipinjam (dari Barat) yang ia gunakan dalam model evaluatifnya telah membawanya pada pengambilan suatu metode dalam memecah-mecah turats yang melanggar tuntutan teknis dan syarat-syarat prosedural dari mekanisme-mekanisme tersebut.” (Tajdid al-Manhaj fi Taqwim at-Turats/halaman 42).

 

Kekeliruan al-Jabiri itu tergambar dalam pengistemewaannya atas nalar burhani yang menurut Taha adalah hasil dari adopsi metode kritik epistemologis yang dangkal dan tidak berimbang. Taha menunjukkan keluputan al-Jabiri untuk meninjau konsekuensi buruk dari nalar burhani yang telah membawa peradaban Barat pada sifat-sifat negatif dan hilangnya kompas moral (Tajdid al-Manhaj fi Taqwim at-Turats/halaman 26).

 

Kealpaan dalam melihat keburukan nalar burhani itu akhirnya menyeret pada pemilihan standar turats yang keliru. Maka, Taha keberatan dengan proyek al-Jabiri yang merujuk pada filsafat Ibnu Rusyd sebagai percontohan turats filsafat keislaman yang layak dijadikan model.

 

Sebaliknya, bagi Taha, filsafat Ibnu Rusyd justru menghilangkan kekhasan filsafat Islam yang sudah dikembangkan oleh al-Ghazali, Ibnu Sina, dan al-Farabi (Revitalizing Tradition Toward Islamic Modernity in Ṭāhā ʿAbd al-Raḥmān’s Thought/halaman 6).


Demi membuktikan kritiknya itu, Taha Abdurrahman  membuat formasi nalar yang berkebalikan dengan susunan nalar al-Jabiri. Dalam buku al-’Amal ad-Dini wa Tajdid al-’Aqli (Casablanca: al-Markaz al-Tsaqafi al-’Arabi, 2021 M), Taha memaparkan tiga jenis nalar, yaitu nalar telanjang (aql mujarrad), nalar terbimbing (aql musaddad), dan nalar terdukung (aql muayyad).

 

Aql mujarrad adalah nalar yang berfungsi untuk mengetahui satu sisi perkara berdasarkan suatu dalil tertentu dengan mengikuti metode yang diyakini kebenarannya. Patut diduga, aql mujarrad ini merupakan versi nalar burhani ala Taha. Ia juga menyebutkan bahwa nalar ini adalah aktivitas yang sering diistilahkan ulama dengan ‘nazhar’ (al-’Amal ad–Dini wa Tajdid al-’Aqli/halaman 17-23).

 

Formasi nalar telanjang merupakan nalar paling rendah dalam pandangan Taha Abdurrahman. Secara umum, ia menunjukkan tiga kelemahan dari aql mujarrad yang terdiri dari keterbatasan logika, keterbatasan data realitas, dan keterbatasan filosofis.


Dari segi logika, Taha menukil teorema ketidaklengkapan (incompleteness theorem) dari Kurt Gödel, salah satu filsuf matematikawan paling penting di abad 20 M. Teorema ini menyatakan bahwa sistem formal matematika yang konsisten selalu tidak lengkap, artinya selalu mengandung pernyataan yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya dan juga tidak bisa membuktikan konsistensinya sendiri (al-’Amal ad-Dini wa Tajdid al-’Aqli/halaman 42).

 

Dalam bahasa yang sederhana, aql mujarrad adalah nalar yang menggunakan sistem logika formal yang secara fundamental tidak pernah lengkap dan selalu mengandalkan aksioma (pernyataan dasar yang diterima benar tanpa dibuktikan). 


Apalagi sistem logika yang bertumpu pada aksioma tersebut semakin terbatas oleh realitas banyaknya sistem aturan logika yang saling kontradiktif satu sama lain. Hal ini ditambah dengan keterbatasan nalar ini yang secara filosofis hanya bisa mengakses pengetahuan-pengetahuan materialistik (al-’Amal ad-Dini wa Tajdid al-’Aqli/halaman 43-46).

 

Setingkat lebih tinggi dari aql mujarrad adalah aql musaddad. Taha mendefinisikan nalar ini sebagai nalar yang bertujuan untuk menarik manfaat atau menolak mudarat berdasarkan bimbingan syariat (al-’Amal ad-Dini wa Tajdid al-’Aqli/halaman 58). Artinya, nalar ini bukan hanya berfungsi menafsirkan runtutan simbol logika, tetapi juga menyasar sisi maslahat kehidupan melalui bimbingan teks wahyu. Nalar ini diduga sebagai bandingan terhadap nalar bayani al-Jabiri.
 

Mengapa bimbingan wahyu ini penting dalam menarik manfaat dan menolak mudarat bagi nalar manusia? Jawabannya adalah karena wahyu memberikan pengetahuan di luar alam material yang tidak bisa diakses oleh aql mujarrad. Melalui pengetahuan dari sumber Ilahi yang melampaui ruang-waktu itu, nalar musaddad punya kemampuan pengambilan keputusan yang lebih baik dari nalar mujarrad.
 

Namun demikian, nalar musaddad masih menyimpan batasan-batasan yang berisiko menggelincirkan pemiliknya. Taha mengungkapkan dua bahaya yang mengintai nalar musaddad. Pertama, adalah kekakuan fikih yang hanya berlandaskan pada teks literal wahyu dan melupakan maksud kemaslahatan serta tuntutan akhlak di baliknya. Kedua, adalah tendensi salafisme untuk kembali pada sumber teks dan figur-figur awal penerima wahyu yang diterapkan secara ahistoris dan alpa dari konteks (al-’Amal ad-Dini wa Tajdid al-’Aqli/halaman 67-70).
 

Tingkat paling tinggi di atas semua bentuk nalar tersebut adalah aql muayyad yang Taha definisikan sebagai nalar yang bertujuan untuk menangkap hakikat segala sesuatu dengan cara menapaki tingkatan aktivitas-aktivitas syariat baik wajib maupun sunnahnya sesempurna mungkin (al-’Amal ad-Dini wa Tajdid al-’Aqli/halaman 121).  
 

Tidak seperti aql mujarrad yang hanya bergumul dengan simbol-simbol logika formal atau aql musaddad yang hanya meluaskan pengetahuan kepada amal-amal, aql muayyad menembus hingga inti sejati dari segala sesuatu.
 

Apabila nalar musaddad mengatasi keterbatasan logika mujarrad dengan pengejawentahan amal melalui bimbingan teks wahyu, nalar muayyad mengatasi keterbatasan pemahaman literal nalar musaddad dengan berbagai macam kekhususan, baik berupa kemelekatan tertentu (mulabasah) atau pemurnian yang total (takhallush).
 

Yang dimaksud mulabasah adalah konistensi nalar muayyad untuk terus melaksanakan amal-amal sunnah setelah yang wajib sampai pada titik meresapnya efek-efek amal badan itu ke dalam jiwa. Adapun takhallush merupakan upaya memurnikan amal-amal itu dari tujuan selain Allah sebagai Dzat yang menjadikan segala sesuatu sebagai manifestasi kuasa-Nya (majla qudratillah).


Dari proses tersebut, amal-amal syariat bukan lagi hanya manifestasi nalar tekstual atas wahyu, tetapi mengubah akhlak serta tata cara hidup seseorang yang bertindak dengan jiwa yang menyatu dengan hakikat di balik semua fenomena: pengelolaan Allah atas eksistensi segala sesuatu. Inilah bentuk kesempurnaan nalar menurut Taha:
 

فَكُلُّ مَعْرِفَةٍ عَقْلِيَّةٍ كَامِلَةٍ لَا بُدَّ لَهَا مِنْ أَنْ تَنْتَقِلَ مِنْ مُسْتَوَى التَّمْيِيزِ الْمُجَرَّدِ إِلَى مُسْتَوَى التَّخَلُّقِ السُّلُوكِيِّ، حَتَّى وَلَوْ كَانَتْ عِلْمًا نَظَرِيًّا أَوْ آلِيًّا كَاللُّغَةِ وَالْمَنْطِقِ وَالْحِسَابِ، لِأَنَّ التَّخَلُّقَ بِهَا سَبَبٌ فِي نُفُوذِ الْمَعَانِي وَالْقِيَمِ إِلَيْهَا، هَذَا النُّفُوذُ الَّذِي يَبْقَى مَسَاوِيًا التَّنْظِيرَ الْمُجَرَّدَ

 

Artinya, “setiap pengetahuan rasional yang sempurna harus berpindah dari tingkat pembedaan abstrak menuju tingkat pembentukan karakter dalam perilaku, bahkan meskipun ia berupa ilmu teoretis atau ilmu alat seperti bahasa, logika, dan matematika. Sebab, penghayatan terhadapnya menjadi sebab meresapnya makna dan nilai ke dalamnya, suatu peresapan yang tidak mungkin dicapai oleh teorisasi yang semata-mata abstrak.” (al-’Amal ad-Dini wa Tajdid al-’Aqli/halaman 147).
 

Berdasarkan argumen ini, Taha menyatakan bahwa aql muayyad yang sepadan dengan nalar irfani dalam kategorisasi al-Jabiri merupakan bentuk nalar tertinggi. Karena itu, pembaruan turats sudah semestinya dibangun di atas dasar aql muayyad atau nalar irfani itu sendiri.

----------
Ustadz Zainun Hisyam, Pengajar di Pondok Pesantren Attaujieh Al-Islamy Banyumas