Kembali Belajar dari Teladan Kasih Sayang Rasulullah
Revolusi besar tersebut bukan hanya membebaskan Kota Makkah, tetapi juga membebaskan seluruh kaum kafir untuk masuk ke dalam lindungan Nabi sehingga mereka serta merta masuk Islam.
Kumpulan artikel kategori Sirah Nabawiyah
Revolusi besar tersebut bukan hanya membebaskan Kota Makkah, tetapi juga membebaskan seluruh kaum kafir untuk masuk ke dalam lindungan Nabi sehingga mereka serta merta masuk Islam.
Isra Mi’raj hanya bisa didekati dengan pendekatan iman. Sebagaimana yang tertera dalam Al-Qur’an Surat al-Isra’ ayat 1, di situ jelas disebutkan bahwa Allah lah yang memperjalankan hambanya (Nabi Muhammad) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa pada suatu malam.
Isra Mi’raj menjadi salah satu peristiwa paling agung dalam sejarah Islam. Karena dalam peristiwa itu, Nabi Muhammad mendapatkan wahyu tentang pensyariatan shalat lima waktu, memperoleh keistimewaan dari Allah untuk melakukan perjalanan mulia bersama Malaikat Jibril, bertemu dengan nabi-nabi terdahulu, melihat surga dan negara, dan juga ‘berjumpa’ dengan Allah.
Sayyidah Maimunah sangat mengagumi dan menghormati Nabi Muhammad. Dia kemudian curhat kepada saudarinya, Lubabah al-Kubra, bahwa dirinya memiliki rasa pada Nabi Muhammad. Dia siap manakala Nabi Muhammad mempersuntingnya.
Karena dananya tidak cukup, akhirnya mereka mengurangi panjang tembok sisi barat dan sisi timur di bagian utara. Kurang lebih tiga meter yang dikurangi. Mereka kemudian memberikan tanda pada bagian yang harus diselesaikan.
Hatib langsung menyerahkan semua hadiah dari Muqawqis, termasuk dua sahaya, kepada Nabi Muhammad sesampai di Madinah. Nabi Muhammad tertarik ketika melihat Mariyah. Mariyah adalah perempuan yang berkulit putih, berwajah cantik, dan berambut gelombang. Beliau kemudian menjadikannya sebagai istri.
Sayyidah Shafiyyah adalah anak Huyay bin Akhthab dari Bani an-Nadlir, seorang pemimpin Yahudi di distrik Khaibar. Sementara ibunya adalah Barah binti Syamuel. Jika dirunut ke atas, maka garis nasabnya sampai kepada Nabi Harun bin Imran, saudara Nabi Musa. Shafiyyah pernah menikah dengan tokoh Yahudi dari Bani Quraizhah, Salam bin Misykam. Namun perkawinannya ini tidak berlangsung lama.
Pemboikotan ekonomi dan sosial oleh kaum kafir Quraisy terhadap Nabi Muhammad dan keluarga besarnya sedikit banyak telah menyita kesehatan Sayyidah Khadijah. Bagaimana tidak, dalam rentang waktu tiga tahun, Sayyidah Khadijah, Nabi Muhammad, dan keluarganya kekurangan makanan dan minuman, dibatasi gerak-geriknnya, dikucilkan, dan dilarang melakukan ini-itu. Di samping itu, usia Sayyidah Khadijah yang sudah tidak muda lagi pada saat itu juga mempengaruhi kesehatannya.
“Dia beriman kepadaku saat orang-orang mengingkariku, dia membenarkan aku selagi orang-orang mendustakan aku, dia mendukung aku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberikan sesuatu kepadaku, dan Allah menganugerahiku anak darinya, berbeda dengan istri-istriku yang lain.” Kata Nabi Muhammad tentang sosok Sayyidah Khadijah
Sayyidah Hafshah dikenal sebagai seorang yang pandai membaca dan menulis. Dia ditetapkan Allah sebagai penulis pertama dan satu-satunya naskah Al-Qur’an di bawah pengawasan langsung Nabi Muhammad. Atas dasar itulah, Sayyidah Hafshah diberi gelar ‘Penjaga Al-Qur’an.’
Dalam Bilik-bilik Cinta Muhammad (Nizar Abazhah, 2018) disebutkan bahwa dengan menikahi Saudah Nabi Muhammad ingin meringankan penderitaannya, meningkatkan derajatnya, dan menjaganya dari fitnah dari kaum musyrik Makkah.
Pada zaman Nabi Muhammad Saw, sahabat perempuan (shahabiyah) berbaur dan hidup bersama dengan kaum laki-laki. Dalam artian, mereka belajar Islam, mendakwahkan Islam, dan berhijrah bersama dengan kaum laki-laki. Mereka juga saling bahu-membahu dan saling melengkapi dalam menjalani kehidupan bersama dengan suaminya.