Bolehkah Mensucikan Najis Hukmiyah Menggunakan Spray?
NU Online ยท Selasa, 25 November 2025 | 16:00 WIB
Bushiri
Kolumnis
Pertanyaan:
Assalamualaikum wr wb
Selamat pagi ustadz/ustadzah saya mohon izin bertanya mudah-mudahan berkenan untuk menjawab. Jika mensucikan najis hukmiyah menggunakan alat spray apakah boleh? Najis hukmiyah ada di jendela langsung dialiri air menggunakan gayung lumayan sulit. Mohon jawabannya. (Anisa Fauzi)
Jawaban:
Waalaikumussalam wr wb.
Kepada penanya dan para pembaca NU Online yang budiman, semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan dan keberkahan dalam setiap aktivitas kita sehari-hari. Pertanyaan seperti ini sangat wajar muncul karena banyak bagian rumah seperti jendela, dinding, pintu, atau benda tertentu yang tidak mudah dialiri air secara langsung sebagaimana lantai kamar mandi. Agar lebih jelas dan tidak menimbulkan keraguan, mari kita bahas syarat mensucikan najis hukmiyah serta hukum menggunakan spray atau semprotan.
Dalam fiqih, najis terbagi menjadi dua yaitu najis ainiyah dan najis hukmiyah. Najis ainiyah adalah najis yang masih terlihat wujudnya. Najis ini dapat dikenali melalui warna, bau, atau rasa, misalnya bekas kotoran, darah, atau air kencing yang masih basah.
Najis hukmiyah adalah najis yang secara hukum masih dianggap ada meskipun tidak lagi meninggalkan bekas fisik. Warnanya sudah hilang, baunya tidak ada, dan tidak terasa. Contohnya adalah air kencing yang sudah mengering tetapi diketahui dengan pasti bahwa tempat tersebut pernah terkena najis.
Syekh Abu Bakar Syathaโ Ad-Dimyathi dalam kitab Iโanatuth Thalibin menjelaskan bahwa najis hukmiyah dapat disucikan dengan mengalirkan air pada bagian yang terkena najis meskipun hanya satu kali. Beliau mengatakan:
Baca Juga
Hukum Bersuci dengan Tisu
ูู
ุชูุฌุณ ุจุญูู
ูุฉ ูุจูู ุฌู ูู
ูุฏุฑู ูู ุตูุฉ ุจุฌุฑู ุงูู
ุงุก ุนููู ู
ุฑุฉ ุฃู ููุทูุฑ ุจุฌุฑู ุงูู
ุงุก ุนููู - ุฃู ุณููุงูู ุนููู - ููู ู
ู ุบูุฑ ูุนู ูุงุนู ูุงูู
ุทุฑ
Artinya, โSesuatu yang terkena najis hukmiyah, seperti air kencing yang sudah kering sehingga tidak terlihat lagi sifat-sifatnya, maka menjadi suci dengan dialiri air satu kali. Maksudnya adalah ia menjadi suci dengan mengalirnya air di atasnya, meskipun tanpa perbuatan manusia, seperti oleh air hujan,โ (Abu Bakar Syathaโ ad Dimyathi, Iโanatuth Thalibin, [Beirut, Darul Fikr: 1997], jilid I, halaman 114).
Lebih lanjut, Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Tuhfatul Habib menegaskan bahwa penyucian najis hukmiyah harus dilakukan dengan mengalirkan air dalam jumlah yang memadai, bukan sekadar percikan ringan yang hanya membasahi namun tidak mengalir. Beliau menjelaskan:
ูููููู ู
ูุง ููุชูููููููู ููุฌููุฏูููุง ููููุง ููุฏูุฑููู ููููุง ุทูุนูู
ู ููููุง ูููููู ููููุง ุฑููุญู ููููู ููุตูููู ุงููู
ููุงุกู ุฅููู ุฐููููู ุงูููู
ูุญูููู ุจูุญูููุซู ููุณูููู ุนููููููู ุฒูุงุฆูุฏูุง ุนูููู ุงููููุถูุญู
Artinya, โNajis hukmiyah sesuatu yang diyakini keberadaannya, tetapi tidak tampak rasa, warna, dan baunya. Cukup dengan sampainya air ke bagian tersebut hingga mengalir melewatinya, lebih dari sekadar percikan ringan,โ (Sulaiman Al-Bujairimi, Tuhfatul Habib, [Beirut, Darul Fikr: t.t.], jilid I, halaman 110).
Dari dua penjelasan di atas dapat dipahami bahwa penyucian najis hukmiyah harus dilakukan dengan mengalirkan air pada bagian yang terkena najis. Air tidak cukup hanya membasahi permukaan, tetapi harus benar-benar mengalir.
Selain itu, hal yang sangat penting adalah memastikan bahwa air yang digunakan merupakan air mutlak, yaitu air murni yang masih disebut air tanpa campuran yang mengubah sifat aslinya. Syekh Zainuddin Al-Malibari dalam Fathul Muโin menegaskan bahwa proses mensucikan najis tidak sah kecuali menggunakan air mutlak. Beliau mengatakan:
ููุง ูุฑูุน ุงูุญุฏุซ ููุง ูุฒูู ุงููุฌุณ ููุง ูุญุตู ุณุงุฆุฑ ุงูุทูุงุฑุฉ - ููู ู
ุณูููุฉ - ุฅูุง ุงูู
ุงุก ุงูู
ุทููุ ููู ู
ุง ููุน ุนููู ุงุณู
ุงูู
ุงุก ุจูุง ููุฏ
Artinya, โMaka tidak sah mengangkat hadas, tidak bisa menghilangkan najis, dan tidak terwujud bentuk-bentuk bersesuci lainnya, meskipun yang hukumnya sunnah, kecuali dengan air mutlak, yaitu air yang tetap disebut โairโ tanpa tambahan sifat atau batasan apa pun.โ (Fathul Muโin, [Beirut, Darul Ibnu Hazm: t.t.], halaman 40)
Kesimpulan Hukum
Dari penjelasan di atas, hukum mensucikan najis hukmiyah menggunakan alat spray adalah boleh selama semprotan airnya cukup banyak hingga mengalir pada bagian yang terkena najis. Selain itu, air spray yang digunakan harus air mutlak/murni, bukan cairan pembersih, sabun, atau parfum.
Demikian jawaban kami semoga bermanfaat dan dapat menjadi panduan dalam menjaga kebersihan sesuai tuntunan fiqih.ย Wallahu aโlam.
Ustadz Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil.
ย
Terpopuler
1
Ngaji Al-Hikam, Kiai Miftach Ungkap Makna Keramat dalam Perjalanan Spiritual
2
Tanah Wakaf NU di Yogyakarta Dikembangkan Jadi Kampung Reforma Agraria Berbasis Wakaf Produktif
3
Pengumuman 50 Mahasantri Ma'had Aly Penerima Beasiswa Berkah Muktamar Ke-35
4
Pelatihan Manajemen Bencana NU Care-LAZISNU Tidak Sekadar Mengejar Jumlah Relawan
5
Maulid Nabi di Masjid Istiqlal, Muslimat NU Tekankan Penguatan Perempuan
6
Tiga Jasad Korban KM Virgo Transport 8 Ditemukan di Dalam Kapal
Terkini
Lihat Semua