Sebuah insiden mengejutkan terjadi di kawasan Jalan Ampera, Jakarta Selatan. Awalnya terdengar sepele: sebuah mobil diduga menabrak sepeda motor yang terparkir di depan sebuah toko ritel.
Pemilik motor yang mengetahui kejadian itu pun meminta pertanggungjawaban. Sang pengemudi mobil sempat menunjukkan itikad baik. Ia menyatakan bersedia menyelesaikan masalah dan bahkan menghubungi keluarganya untuk datang ke lokasi.
Sayangnya, situasi yang semula masih bisa diselesaikan dengan kepala dingin justru berubah panas. Alih-alih berdialog dan mencari jalan tengah, pihak yang datang malah melakukan penganiayaan terhadap para pegawai ritel yang berada di tempat kejadian.
Peristiwa ini bukan sekadar soal tabrakan kecil yang berujung keributan. Ia menjadi cermin bagaimana emosi yang tak terkendali bisa menghapus ruang dialog. Di ruang publik yang seharusnya menjadi tempat kita berbagi dan berinteraksi dengan saling menghormati, insiden seperti ini mengingatkan bahwa etika dan kedewasaan masih menjadi pekerjaan rumah bersama.
Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi hak-hak sesama manusia (haqqul adami). Dalam interaksi sosial, setiap perbuatan yang merugikan orang lain tidak pernah bebas dari konsekuensi moral dan tanggung jawab etis. Kesalahan yang menyentuh hak orang lain tidak cukup ditebus dengan penyesalan batin semata.
Islam mengajarkan umatnya agar bersikap terbuka dalam mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Pengakuan ini menunjukkan kedewasaan moral dan kesadaran akan batas hak diri sendiri. Selain itu, permintaan maaf menjadi langkah awal dalam menebus kesalahan dan memperbaiki hubungan sosial.
Hal ini sejalan dengan penjelasan Imam an-Nawawi dalam kitab al-Adzkar:
والتوبة من حقوق الآدميين يشترط فيها هذه الثلاثة ورابع وهو رد الظلامة إلى صاحبها وطلب عفوه عنها والإبراء منها
Artinya, “Taubat dari pelanggaran terhadap hak sesama manusia memiliki syarat khusus. Ada tiga syarat utama taubat. Ditambah satu syarat lagi. Syarat keempat adalah mengembalikan hak yang telah dizalimi kepada pemiliknya. Lalu meminta maaf atas perbuatan tersebut. Juga meminta agar pemilik hak merelakannya.” (Syarafuddin an-Nawawi, al-Adzkar, [Beirut, Darul Ibnu Hazm: 2004], halaman 550).
Lebih lanjut, Islam juga menegaskan bahwa penggunaan hak pribadi tidak bersifat mutlak. Setiap hak dibatasi oleh kewajiban untuk tidak menimbulkan kerugian bagi orang lain. Dalam konteks ini, tindakan menabrak sepeda motor menjadikan pelaku bertanggung jawab penuh atas kerusakan dan dampak yang terjadi. Prinsip ini ditegaskan oleh Syekh Wahbah Zuhaili sebagai berikut:
ليس حق الملكية حقاً مطلقاً، وإنما هو مقيد بعدم إلحاق الضرر بالغير، فإذا ترتب على استعمال الحق إحداث ضرر بالغير نتيجة إساءة استعمال هذا الحق، كان محدث الضرر مسؤولاً
Artinya: “Tidak ada hak kepemilikan yang bersifat mutlak. Bagaimanapun juga, hak senantiasa dibatasi dengan ketiadaan kerugian bagi pihak lain. Bilamana di kemudian hari ditemui bahwa penggunaan hak dapat menimbulkan kerugian bagi pihak tertentu disebabkan buruknya penggunaan, maka dampak kerugian yang terjadi harus dipertanggungjawabkan.” (Wahbah Zuhaili, al-Fiqhu al-Islamy wa Adillatuhu, [Damaskus, Darul Fikr: 1985], jilid IV, halaman 299).
Selain menekankan tanggung jawab, Islam juga mendorong penyelesaian konflik melalui jalur damai. Kekerasan, terlebih pengerahan massa untuk melakukan penganiayaan, bertentangan secara langsung dengan nilai yang diajarkan Al Qur’an. Allah menegaskan dalam surat an-Nisa ayat 128:
وَالصُّلْحُ خَيْرٌ
Artinya, “Dan perdamaian itu lebih baik.” (QS An-Nisa: 128)
Tindakan penganiayaan jelas bertentangan dengan etika moral Islam. Seorang Muslim sejati tidak menjadikan tangan dan lisannya sebagai sumber ancaman bagi orang lain. Kekuatan yang dimiliki seharusnya digunakan untuk melindungi, bukan untuk menciptakan rasa takut melalui praktik kekerasan. Rasulullah saw bersabda:
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ يَدِهِ وَلِسَانِهِ، وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَ جَارُهُ بَوَائِقَهُ
Artinya: "Muslim itu adalah orang yang mana muslim lainnya senantiasa selamat dari akibat tangan dan lisannya. Orang mukmin itu adalah orang yang tetangganya senantiasa merasa aman dari akibat ulahnya" (HR Imam Muslim).
Etika berinteraksi sosial merupakan fondasi penting dalam menjaga ketertiban dan keamanan bersama. Setiap individu memiliki hak, namun hak tersebut selalu dibatasi oleh kewajiban untuk menghormati orang lain.
Islam menempatkan adab, tanggung jawab, dan penyelesaian damai sebagai prinsip utama dalam merespons konflik. Tindakan reaktif, apalagi kekerasan, hanya memperluas kerusakan. Masyarakat yang sehat lahir dari kesadaran untuk mengendalikan diri, mengakui kesalahan, dan menyelesaikan persoalan melalui dialog, bukan kekerasan.
Mengelola Amarah: Kunci Kedewasaan Sosial
Di balik setiap konflik yang membesar, hampir selalu ada amarah yang gagal dikelola. Islam memandang pengendalian diri sebagai kekuatan sejati. Rasulullah saw menegaskan bahwa orang kuat bukanlah yang menang dalam perkelahian, melainkan yang mampu menahan amarahnya.
Amarah adalah fitrah manusia, tetapi ia harus dikendalikan oleh akal dan nilai. Ketika emosi mengambil alih, pertimbangan rasional tersingkir. Kata-kata menjadi kasar, tindakan menjadi brutal, dan penyesalan sering datang terlambat.
Karena itu, setiap konflik seharusnya menjadi momentum introspeksi. Apakah respons kita lahir dari kebijaksanaan atau sekadar luapan emosi? Apakah kita menyelesaikan masalah, atau justru memperluasnya?
Masyarakat yang sehat bukanlah masyarakat tanpa konflik, melainkan masyarakat yang mampu mengelola konflik secara dewasa. Dialog, kesediaan mengakui kesalahan, serta komitmen pada perdamaian adalah fondasi yang menjaga ruang publik tetap aman dan bermartabat.
Islam menempatkan adab, tanggung jawab, dan penyelesaian damai sebagai prinsip utama dalam merespons konflik. Tindakan reaktif, terlebih kekerasan hanya memperluas kerusakan. Kesadaran untuk mengendalikan diri, menghormati hak orang lain, dan memilih jalan damai adalah kunci terciptanya ketertiban bersama. Wallahu a’lam.
----------------
Bushiri, Pengajar di Zawiyah Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan
