Menelisik Tafsir Surah Ali Imran Ayat 13 yang Dibacakan di Iran kepada Delegasi Arab Saudi
NU Online · Rabu, 22 Juli 2026 | 21:00 WIB
Azmi Abubakar
Kolumnis
Surah Ali Imran ayat 13 kembali menjadi perhatian publik setelah dibacakan ketika delegasi Arab Saudi datang memberikan penghormatan terakhir kepada Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di Teheran pada awal Juli 2026. Dalam prosesi tersebut, delegasi dari sejumlah negara diperdengarkan ayat Al-Qur’an yang berbeda-beda. Ketika delegasi Arab Saudi memasuki tempat penghormatan, ayat yang dibacakan adalah Surah Ali Imran ayat 13, yang berbicara tentang pertemuan dua pasukan dalam Perang Badar.
Pihak penyelenggara tidak memberikan penjelasan resmi mengenai alasan pemilihan ayat yang berbeda untuk setiap delegasi. Namun, sejumlah media dan pengamat memandang pembacaan tersebut sebagai pesan diplomatik yang mengingatkan bahwa kemenangan tidak semata-mata ditentukan oleh jumlah pasukan dan kekuatan material, tetapi juga oleh pertolongan Allah. Karena itu, ayat tersebut menarik untuk dipahami melalui penjelasan para mufasir, bukan sekadar dibaca berdasarkan konteks politik kontemporer.
Perang dalam Islam dan Latar Perang Badar
Peperangan dalam Islam bukanlah tujuan pada dirinya sendiri. Ia dibenarkan sebagai upaya mempertahankan diri, melindungi masyarakat, melawan penindasan, dan menjaga kebebasan menjalankan agama. Pada dasarnya, Islam menghendaki perdamaian karena Rasulullah SAW diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Salah satu peperangan paling penting dalam sejarah Islam adalah Perang Badar. Peristiwa yang berlangsung pada bulan Ramadan itu menjadi pertemuan besar pertama antara kaum Muslimin Madinah dan kaum musyrik Quraisy dari Makkah.
Jumlah kaum Muslimin ketika itu jauh lebih sedikit dibandingkan pasukan Quraisy. Namun, keadaan tersebut tidak menghalangi kaum Muslimin untuk memperoleh kemenangan. Peristiwa ini kemudian diabadikan dalam sejumlah ayat Al-Qur’an, salah satunya Surah Ali Imran ayat 13:
قَدْ كَانَ لَكُمْ اٰيَةٌ فِيْ فِئَتَيْنِ الْتَقَتَاۗ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَاُخْرٰى كَافِرَةٌ يَّرَوْنَهُمْ مِّثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِۗ وَاللّٰهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهٖ مَنْ يَّشَاۤءُۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ ١٣
Artinya: “Sungguh, telah ada tanda atau bukti bagimu pada dua golongan yang bertemu dalam pertempuran. Satu golongan berperang di jalan Allah dan golongan yang lain kafir. Mereka melihat dengan mata kepala bahwa golongan Muslim dua kali lipat jumlahnya. Allah menguatkan siapa yang Dia kehendaki dengan pertolongan-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan mata hati.”
Ayat ini tidak hanya menceritakan kemenangan militer. Ia mengarahkan pembaca untuk melihat adanya pelajaran yang lebih dalam: kekuatan material bukan satu-satunya penentu hasil sebuah perjuangan. Strategi, keberanian, keteguhan iman, dan pertolongan Allah juga mempunyai peran yang menentukan.
Peringatan kepada Kaum Yahudi Madinah
Mengawali penafsiran ayat ini, Imam Al-Baghawi menjelaskan bahwa sebagian ulama memandang ayat tersebut sebagai peringatan kepada orang-orang Yahudi di Madinah:
وقال بعضهم: المراد بهذه الآية: اليهود، وقال الكلبي عن أبي صالح عن ابن عباس رضي الله عنهما إن يهود أهل المدينة قالوا لما هزم رسول الله المشركين يوم بدر
Artinya: “Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dalam ayat ini adalah orang-orang Yahudi. Al-Kalbi meriwayatkan dari Abu Shalih, dari Ibnu Abbas r.a., bahwa orang-orang Yahudi di Madinah berkata ketika Rasulullah SAW mengalahkan kaum musyrik dalam Perang Badar.” (Imam Al-Baghawi, Tafsir Al-Baghawi, [Riyadh: Dar Al-Tayyibah, 1989], jilid III, hlm. 14).
Kemenangan kaum Muslimin dalam Perang Badar mengubah peta kekuatan di Madinah dan sekitarnya. Kaum Muslimin yang sebelumnya dipandang lemah mulai diperhitungkan sebagai kekuatan sosial dan politik baru.
Namun, kemenangan itu juga memunculkan berbagai reaksi. Sebagian kelompok menerima kenyataan tersebut, sedangkan sebagian lainnya meremehkan kemenangan kaum Muslimin dengan alasan bahwa pasukan Quraisy tidak memiliki kemampuan berperang yang memadai.
Sebab Turunnya Ayat Menurut Ibnu Asyur
Imam Ibnu Asyur menjelaskan sebab turunnya ayat ini dalam At-Tahrir wat Tanwir:
وروى محمد بن إسحاق : أن رسول الله - صلى الله عليه وسلم لما غلب قريشا ببدر ، ورجع إلى المدينة ، جمع اليهود وقال لهم يا معشر اليهود احذروا من الله مثل ما نزل بقريش وأسلموا فقد عرفتم ، أني نبيء مرسل فقالوا يا محمد لا يغرنك أنك لقيت قوما أغمار معرفة لهم بالحرب فأصبت فيهم فرصة أما والله لو قاتلناك لعرفت أنا نحن الناس، فأنزل الله هذه الآية . وعلى هاتين الروايتين فالغلب الذي أنذروا به هو فتح قريظة والنضير وخيبر ، وأيضا فالتهديد والوعيد شامل للفريقين في جميع الأحوال
Artinya: “Muhammad bin Ishaq meriwayatkan bahwa ketika Rasulullah SAW berhasil mengalahkan kaum Quraisy dalam Perang Badar dan kembali ke Madinah, beliau mengumpulkan orang-orang Yahudi seraya bersabda, ‘Wahai kaum Yahudi, takutlah kepada Allah agar tidak menimpa kalian apa yang telah menimpa kaum Quraisy. Masuklah kalian ke dalam Islam karena sungguh kalian telah mengetahui bahwa aku adalah seorang nabi yang diutus.’
Mereka menjawab, ‘Wahai Muhammad, janganlah kemenanganmu atas suatu kaum yang masih awam dalam peperangan membuatmu tertipu sehingga engkau memperoleh kesempatan untuk mengalahkan mereka. Demi Allah, seandainya kami yang memerangimu, niscaya engkau akan mengetahui bahwa kamilah orang-orang yang benar-benar ahli dan tangguh dalam peperangan.’
Maka Allah menurunkan ayat ini. Berdasarkan kedua riwayat tersebut, kemenangan yang diperingatkan kepada mereka adalah penaklukan Bani Quraizhah, Bani Nadhir, dan Khaibar. Selain itu, ancaman dan peringatan yang terkandung dalam ayat tersebut juga mencakup kedua golongan, yaitu orang-orang Yahudi dan kaum musyrik, dalam segala keadaan.” (Muhammad Thahir Ibnu Asyur, Tafsir Al-Tahrir wa Al-Tanwir, [Tunis: Dar Tunisiyah, 1984], jilid III, hlm. 176).
Riwayat tersebut memperlihatkan bahwa ayat ini hadir untuk mengoreksi cara pandang yang hanya mengukur kemenangan berdasarkan pengalaman perang, jumlah pasukan, dan kekuatan persenjataan.
Kaum Muslimin tidak menang karena jumlah mereka lebih banyak. Kemenangan itu juga tidak datang tanpa usaha. Mereka menyusun strategi, mempersiapkan diri, menaati kepemimpinan Rasulullah SAW, dan berjuang dalam keadaan yang sangat terbatas. Setelah seluruh usaha dilakukan, pertolongan Allah menjadi kekuatan yang menentukan.
Jumlah yang Sedikit Tidak Selalu Berarti Lemah
Imam Ath-Thabari menjelaskan bahwa peristiwa tersebut seharusnya menjadi pelajaran bagi orang-orang Yahudi. Sedikitnya jumlah kaum Muslimin tidak menghalangi Allah untuk memberikan kemenangan kepada mereka.
فمعنى الآية على هذا التأويل : قد كان لكم ، يا معشر اليهود ، آية في فئتين التقتا : إحداهما مسلمة والأخرى كافرة ، كثير عدد الكافرة قليل عدد المسلمة ، ترى الفئة القليل عددها الكثير عددها أمثالا أنها إنما تكثر من العدد بمثل واحد ، فهم يرونهم مثليهم . فيكون أحد المثلين عند ذلك : العدد الذي هو مثل عدد الفئة التي رأتهم ، والمثل الآخر الضعف الزائد على عددهم . فهذا أحد معنيي التقليل الذي أخبر الله - عز وجل - المؤمنين أنه قللهم في أعينهم
Artinya: “Makna ayat menurut penafsiran ini adalah: Sungguh telah ada bagi kalian, wahai kaum Yahudi, suatu tanda pada dua golongan yang saling berhadapan. Salah satunya adalah golongan Muslim, sedangkan yang lainnya golongan kafir. Jumlah golongan kafir banyak, sementara jumlah golongan Muslim sedikit.
Golongan yang sedikit jumlahnya itu melihat golongan yang banyak tampak berlipat jumlahnya. Mereka melihatnya dua kali lipat. Salah satu dari dua lipatan tersebut adalah jumlah yang sama dengan golongan yang melihat, sedangkan lipatan yang lainnya merupakan tambahan sebanyak jumlah tersebut. Inilah salah satu makna pengurangan jumlah yang Allah ‘Azza wa Jalla beritakan kepada orang-orang mukmin, yaitu bahwa Allah menjadikan mereka tampak sedikit di mata lawan.” (Ibnu Jarir Al-Tabari, Tafsir Ath-Thabari, [Kairo: Dar Hajar, 2001], jilid V, hlm. 246).
Penjelasan tersebut memperlihatkan adanya perbedaan cara pandang terhadap jumlah pasukan dalam Perang Badar. Al-Qur’an menyebut bagaimana satu kelompok melihat kelompok lainnya, sementara ayat-ayat lain menerangkan bahwa Allah membuat pasukan tertentu tampak sedikit di mata lawannya.
Semua itu menunjukkan bahwa persepsi manusia terhadap kekuatan tidak selalu sama dengan kenyataan yang akan terjadi. Manusia dapat merasa kuat karena jumlah, senjata, kekayaan, atau dukungan politik. Namun, keunggulan tersebut tidak otomatis mendatangkan kemenangan.
Sebaliknya, jumlah yang sedikit juga tidak selalu identik dengan kelemahan. Selama memiliki tujuan yang benar, persiapan yang matang, disiplin, dan keteguhan, sebuah kelompok kecil dapat menghadapi kekuatan yang jauh lebih besar.
Tafsir Al-Baghawi tentang Dua Pasukan
Imam Al-Baghawi menjelaskan secara lebih terperinci mengenai dua kelompok yang bertemu dalam Perang Badar:
قوله تعالى : ( وأخرى كافرة ) أي فرقة أخرى كافرة وهم مشركو مكة وكانوا تسعمائة وخمسين رجلا من المقاتلة رأسهم عتبة بن ربيعة بن عبد شمس ، وفيهم مائة فرس وكانت حرب بدر أول مشهد شهده رسول الله صلى الله عليه وسلم ) يرونهم مثليهم ) قرأ أهل المدينة ويعقوب بالتاء يعني ترون يا معشر اليهود أهل مكة مثلي المسلمين وذلك أن جماعة من اليهود كانوا حضروا قتال بدر لينظروا على من تكون الدائرة فرأوا المشركين مثلي عدد المسلمين ورأوا النصرة مع ذلك للمسلمين فكان ذلك معجزة
Artinya: “Firman Allah Ta’ala: ‘Dan golongan yang lain kafir.’ Maksudnya, golongan yang lain itu adalah orang-orang kafir, yaitu kaum musyrik Makkah. Jumlah mereka mencapai 950 orang pasukan, dengan pemimpin mereka Utbah bin Rabi’ah bin Abd Syams. Di antara mereka terdapat 100 ekor kuda. Perang Badar merupakan peperangan pertama yang disaksikan dan diikuti oleh Rasulullah SAW.
Firman Allah: ‘Mereka melihat orang-orang mukmin dua kali lipat dari mereka.’ Penduduk Madinah dan Ya’qub membaca ayat ini dengan huruf ta’ (تَرَوْنَهُمْ), yang bermakna: ‘Kalian, wahai orang-orang Yahudi, melihat penduduk Makkah berjumlah dua kali lipat dari kaum Muslimin.’
Hal itu karena sekelompok orang Yahudi hadir menyaksikan Perang Badar untuk melihat pihak mana yang akan memperoleh kemenangan. Mereka melihat bahwa jumlah kaum musyrik tampak dua kali lipat dibandingkan jumlah kaum Muslimin. Namun, mereka juga menyaksikan bahwa pertolongan Allah tetap diberikan kepada kaum Muslimin. Peristiwa tersebut pun menjadi sebuah mukjizat.” (Imam Al-Baghawi, Tafsir Al-Baghawi, [Riyadh: Dar Al-Tayyibah, 1989], jilid II, hlm. 14).
Al-Baghawi menegaskan bahwa ayat ini berkaitan dengan Perang Badar, ketika jumlah kaum Muslimin jauh lebih sedikit dibandingkan dengan pasukan Quraisy. Ketimpangan jumlah itu dapat dilihat secara nyata, termasuk oleh kelompok-kelompok yang hadir mengamati jalannya peperangan.
Akan tetapi, kemenangan kaum Muslimin memperlihatkan bahwa jumlah bukan satu-satunya ukuran. Mereka memperoleh kemenangan melalui perpaduan antara strategi, keberanian, kedisiplinan, kepemimpinan Rasulullah SAW, serta pertolongan Allah SWT.
Pelajaran bagi Orang yang Memiliki Mata Hati
Bagian akhir ayat menyatakan:
اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَعِبْرَةً لِّاُولِى الْاَبْصَارِ
Artinya: “Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan mata hati.”
Kata al-abshar tidak hanya menunjuk pada kemampuan melihat dengan mata. Ia juga mengandung makna kemampuan membaca kenyataan secara jernih, memahami hubungan antara sebab dan akibat, serta menangkap pelajaran di balik sebuah peristiwa.
Perang Badar tidak mengajarkan kaum Muslimin untuk meremehkan persiapan dan hanya menunggu pertolongan Allah. Sebaliknya, Rasulullah SAW tetap menyusun strategi, mengatur barisan, meminta pendapat para sahabat, dan mempersiapkan segala kemampuan yang tersedia.
Pertolongan Allah datang bukan untuk membenarkan sikap pasif, melainkan menyempurnakan ikhtiar yang telah dilakukan dengan sungguh-sungguh. Karena itu, ayat ini tidak boleh digunakan untuk membenarkan permusuhan ataupun menyederhanakan konflik politik masa kini sebagai pengulangan langsung Perang Badar.
Pembacaan Surah Ali Imran ayat 13 kepada delegasi Arab Saudi dalam prosesi penghormatan terakhir untuk Ali Khamenei memang dapat dibaca sebagai simbol diplomatik. Namun, makna Al-Qur’an lebih luas daripada kepentingan politik sesaat.
Ayat ini mengingatkan setiap pihak agar tidak menyombongkan kekuatan, jumlah, kekayaan, senjata, ataupun jaringan persekutuannya. Pada saat yang sama, pihak yang berada dalam posisi lemah juga tidak boleh kehilangan harapan.
Peristiwa Badar memperkuat kedudukan kaum Muslimin pada fase berikutnya. Kemenangan tersebut menunjukkan bahwa komunitas Muslim di Madinah tidak lagi dapat dipandang sebelah mata. Namun, perjuangan setelah Badar tetap panjang dan penuh ujian. Kaum Muslimin masih harus menghadapi Perang Uhud, Khandaq, berbagai perjanjian, konflik politik, dan proses membangun kehidupan masyarakat yang berkeadilan.
Dengan demikian, pesan utama Surah Ali Imran ayat 13 bukanlah ajakan untuk mengagungkan peperangan. Ayat ini mengajarkan kerendahan hati bagi pihak yang kuat, keteguhan bagi pihak yang lemah, serta keyakinan bahwa hasil akhir tidak hanya ditentukan oleh perhitungan material manusia. Kekuatan harus disertai kebenaran, usaha harus disertai doa, dan kemenangan harus melahirkan tanggung jawab, bukan kesombongan. Wallahu a’lam.
Azmi Abubakar, Penyuluh Agama Islam asal Aceh.
Terpopuler
1
Akui Dapat Banyak Kritik, Presiden Prabowo Heran MBG Disebut Pemborosan
2
Diskusi Kabla Muktamar Ke-35 di Unusia: Pengendali NU Kian Anonim, Perlu Menjaga Jarak dari Intervensi Negara
3
Ketum PBNU Terima Kunjungan Menkeu Purbaya, Bahas Sejumlah Investasi Bisnis dan Program Kemasyarakatan
4
Pendukung Spanyol Kibarkan Bendera Palestina Sepanjang Turnamen Piala Dunia 2026
5
Siap Tampung 3 Ribu Lebih Peserta, Berikut 6 Lokasi Penginapan Muktamar Ke-35 NU
6
Gempa 7,3 Magnitudo Guncang Meksiko, Tidak Ada Korban Maupun Kerusakan Langsung
Terkini
Lihat Semua