Tafsir

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 137: Tantangan Dakwah Nabi Muhammad

Senin, 23 September 2024 | 19:00 WIB

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 137: Tantangan Dakwah Nabi Muhammad

Ilustrasi dakwah Nabi. Sumber: Canva/NU Online

Setelah pada ayat sebelumnya (ayat 136) Allah SWT mengajarkan dan membimbing Nabi Muhammad dan umatnya untuk mengimani kenabian semua nabi dan rasul, tanpa membeda-bedakan satu pun di antara mereka.


Dalam ayat 137 ini, Allah SWT memerintahkan Nabi Muhammad SAW supaya menyampaikan apa yang telah diturunkan kepadanya tanpa menghiraukan besarnya tantangan di kalangan Ahli Kitab, orang musyrik, dan orang-orang fasik.


Berikut adalah teks, transliterasi, terjemah, dan kutipan beberapa tafsir ulama terhadap Surat Al-Baqarah ayat 137:


فَاِنْ اٰمَنُوْا بِمِثْلِ مَآ اٰمَنْتُمْ بِهٖ فَقَدِ اهْتَدَوْاۚ وَاِنْ تَوَلَّوْا فَاِنَّمَا هُمْ فِيْ شِقَاقٍۚ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللّٰهُۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُۗ ۝١٣٧


Fa in âmanû bimitsli mâ âmantum bihî fa qadihtadau, wa in tawallau fa innamâ hum fî syiqâq, fa sayakfîkahumullâh, wa huwas-samî‘ul-‘alîm.


Artinya, “Jika mereka telah mengimani apa yang kamu imani, sungguh mereka telah mendapat petunjuk. Akan tetapi, jika mereka berpaling, sesungguhnya mereka berada dalam permusuhan (denganmu). Maka, Allah akan mencukupkanmu (dengan pelindungan-Nya) dari (kejahatan) mereka. Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 137)


Ragam Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 137

Secara garis besar, Surat Al-Baqarah ayat 137 ini mengandung bahasan utama perihal perintah kepada Nabi Muhammad supaya menyampaikan apa yang telah diturunkan kepadanya tanpa menghiraukan besarnya tantangan di kalangan Ahli Kitab, orang musyrik, dan orang-orang fasik.


Ayat ini juga menganjurkan kepada Nabi Muhammad agar tidak perlu takut menghadapi gangguan dari mereka dalam membentangkan rahasia dan keburukan tingkah laku mereka, karena Allah menjamin akan memelihara Nabi Muhammad dari gangguan, baik masa sebelum hijrah oleh kafir Quraisy maupun sesudah hijrah oleh orang Yahudi.


Tafsir Al-Qurthubi

Imam Qurthubi dalam kitab tafsirnya mengatakan bahwa khithab (objek pembicaraan) ayat ini ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW dan umatnya. Adapun makna dari firman-Nya ini, menurut beliau adalah:


فَإِنْ آمَنُوا مِثْلَ إِيمَانِكُمْ، وَصَدَّقُوا مِثْلَ تَصْدِيقِكُمْ فَقَدِ اهْتَدَوْا، فَالْمُمَاثَلَةُ وَقَعَتْ بَيْنَ الْإِيمَانَيْنِ


Artinya, “Jika mereka beriman seperti iman kalian dan percaya seperti kepercayaan kalian, maka sesungguhnya mereka telah mendapatkan petunjuk. Dengan demikian, kesetaraan terjadi antara kedua keimanan tersebut.”


Lebih detail, menurut beliau yang dimaksud dari frasa وَاِنْ تَوَلَّوْا (jika mereka berpaling) adalah berpaling dari keimanan. Adapun yang dimaksud dari frasa فَاِنَّمَا هُمْ فِيْ شِقَاقٍ , mengutip pendapat Zaid bin Aslam, adalah sebuah permusuhan. Menurut pendapat lain, شِقَاقٍ adalah perdebatan, penyimpangan, dan pelanggaran.


شِقَاقٍ sendiri berasal dari kata الشِّقِّ, yang bermakna 'sisi', sehingga seolah masing-masing dari kedua belah pihak berada di sisi pihak yang lainnya. Menurut pendapat lain, شِقَاقٍ diambil dari kata فِعْلِ مَا يَشُقُّ وَيَصْعُبُ (perbuatan yang menyulitkan dan menyusahkan), sehingga seolah masing-masing pihak berusaha untuk menyulitkan sahabatnya.


Adapun yang dimaksud dari frasa فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ, menurut Imam Qurthubi bermakna, “Allah SWT akan memelihara Rasul dari musuh-musuhnya.” Hal ini, masih menurut beliau, merupakan janji dari Allah SWT untuk melindungi nabi-Nya dari orang-orang yang menentang dan menyalahinya dengan orang-orang beriman yang telah Dia berikan petunjuk.


Allah SWT, menurut Imam Qurthubi, telah memenuhi janjinya tersebut. Hal ini terjadi pada peristiwa pembunuhan Bani Qainuqa’, Bani Quraidzah, serta pengusiran Bani Nadzir.


Adapun yang dimaksud dari frasa السَّمِيْعُ pada ayat tersebut adalah Allah Maha Mendengar terhadap setiap ucapan, sedangkan maksud dari frasa الْعَلِيْمُ adalah Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang Dia tetapkan dan lakukan terhadap hamba-hamba-Nya. (Tafsir Al-Qurthubi, [Kairo: Darul Kutub Al-Mishriyyah, 1964], jilid II, hal. 142-143)


Tafsirul Munir

Syekh Wahbah Zuhaili dalam kitab Tafsirul Munir-nya mengatakan bahwa dalam frasa فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ terdapat suatu isyarat bahwa Allah SWT akan menolong hamba dan rasul-Nya Muhammad, atas musuh-musuhnya. Ini adalah janji dari Allah SWT kepada nabi-Nya bahwa Dia akan melindunginya dari para penentang yang berpaling dari dakwahnya, dengan bantuan orang-orang beriman yang diberi-Nya hidayah.


Lebih jauh, Syekh Wahbah juga mengatakan bahwa Allah SWT telah menepati janji ini, yang terwujud dengan dibunuhnya Bani Qainuqa, Bani Quraizhah, serta pengusiran Bani Nadzir.


Mengutip Al-Jashash, ayat ini adalah pemberitahuan tentang perlindungan Allah swt. bagi nabi-Nya dari kejahatan musuh-musuhnya. Dia melindunginya meski jumlah mereka besar dan usaha mereka keras. Kenyataan kemudian terbukti sesuai dengan apa yang diberitakan-Nya. Firman ini, masih mengutip Al-Jashash, senada dengan firman-Nya surat Al-Ma’idah ayat 67 yang berbunyi:


وَاللّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِۗ


wallâhu ya‘shimuka minan-nâs


Artinya: “Allah menjaga engkau dari (gangguan) manusia.” (QS. Al-Ma’idah: 67)


Terakhir, Syekh Wahbah mengatakan bahwa seorang mukmin adalah orang yang percaya akan janji Allah dan pertolongan-Nya, serta takut kepada Allah, sebab Dialah yang mengawasi segala sesuatu di alam semesta ini, dan Dialah yang Maha Mendengar akan ucapan setiap orang yang berkata, dan Maha Mengetahui akan apa yang dijalankan-Nya atas hamba-hamba-Nya. (Tafsirul Munir, [Damaskus: Darul Fikr, 1991], jilid II, hal. 327)


Tafsir Al-Misbah

Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Misbah-nya mengatakan bahwa setelah Allah SWT menjelaskan apa yang diperintahkan kepada kaum beriman untuk disampaikan kepada Bani Israil dan selain mereka, maka ayat 137 ini dilanjutkan dengan menyatakan, “Maka jika ajakan ini mereka terima, sehingga mereka beriman persis sama dengan unsur-unsur keimanan yang kamu telah beriman kepadanya seperti tersebut di atas, sungguh mereka telah mendapat petunjuk yang benar; dan jika mereka berpaling, dan enggan beriman sebagaimana iman kamu, maka sesungguhnya mereka berada dalam sisi yang berbeda dengan kamu."


Maka ketika itu, jangan khawatirkan gangguan dan tipu daya mereka, karena Allah akan mencukupkan pemeliharaan-Nya untuk kamu dari gangguan mereka yang sangat menyakitkan atau membahayakan hidup kamu. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”


Karena perselisihan itu dapat mengakibatkan mereka berupaya mencelakakan kaum muslimin, maka, menurut Prof. Quraish, penutup ayat ini menyatakan bahwa jika upaya itu terjadi, maka Allah akan mencukupkan pemeliharaan-Nya untuk kamu, sehingga mereka tidak akan dapat mencelakakan kamu.


Boleh jadi, lanjut Prof. Quraish, pemeliharaan yang dijanjikan itu dahulu belum mereka dapatkan, atau terlambat mereka dapatkan sekarang, tetapi pasti ia akan datang dan diperoleh. Ini dipahami dari kata “akan”, dan bentuk kata kerja yang digunakan oleh ayat tersebut (سَيَكْفِيكَهُمُ اللَّهُ) (Allah akan mencukupkan untuk kamu).

 

Jadi, jangan khawatir, karena Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui segala apa yang diucapkan dan yang disembunyikan. (Tafsir Al-Misbah, [Ciputat: Penerbit Lentera Hati, 2002], jilid II, hal. 337-338).


Walhasil, dari paparan di atas, dapat kita mengerti bahwa urgensi Surat Al-Baqarah ayat 137 ini mengandung perintah kepada Nabi Muhammad supaya menyampaikan apa yang telah diturunkan kepadanya tanpa menghiraukan besarnya tantangan di kalangan Ahli Kitab, orang musyrik, dan orang-orang fasik.


Selain itu, ayat ini juga menganjurkan kepada Nabi Muhammad agar tidak perlu takut menghadapi gangguan dari mereka dalam membentangkan rahasia dan keburukan tingkah laku mereka, karena Allah menjamin akan memelihara Nabi Muhammad dari gangguan, baik masa sebelum hijrah oleh kafir Quraisy maupun sesudah hijrah oleh orang Yahudi.

 

Ustadz M. Ryan Romadhon, Alumni Ma’had Aly Al-Iman Bulus Purworejo, Jawa Tengah.