Tafsir Surat Al-Qariah Ayat 5: Dahsyatnya Gunung dan Pelajaran Bagi Umat Manusia
NU Online · Rabu, 16 September 2026 | 18:30 WIB
Muhammad Zainul Mujahid
Kolumnis
Selama ini, gunung diyakini sebagai simbol keagungan alam. Ia menjulang tinggi ke angkasa, berdiri kokoh, dan tampak seolah tidak akan tergerus oleh pergantian zaman. Karenanya, ia disebut-sebut sebagai pasak bumi. Pasalnya, secara geologis, gunung memang memiliki struktur yang kompleks di dalam lapisan tanah yang menstabilkan kerak bumi.
Namun, di balik kemegahan itu, gunung menyimpan sesuatu yang dahsyat. Sebagian gunung merupakan gunung api yang di dalamnya terdapat dapur magma dengan tekanan dan suhu yang sangat tinggi. Ketika terjadi aktivitas vulkanik, gunung dapat mengeluarkan material berbentuk lava, abu vulkanik dan bebatuan pijar yang dapat membahayakan kehidupan sekitar.
Belakangan ini, aktivitas vulkanik sebagian gunung menjadi perhatian masyarakat Indonesia. Berdasarkan data terbaru yang dilansir dari detik.com, dilaporkan bahwa baru-baru ini, ada enam gunung yang tercatat mengalami erupsi pada waktu yang berdekatan. Keenam gunung tersebut adalah Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Sinabung di Sumatera Utara, serta Gunung Lewotobi Laki-laki dan Ile Lewotolok di Nusa Tenggara Timur.
Ketika Gunung Kehilangan Kemegahannya
Fenomena letusan gunung berapi yang kita saksikan hari ini barangkali adalah momok yang ditakuti oleh setiap manusia. Sama seperti bencana alam lain, letusan gunung berapi dapat mengancam kehidupan makhluk hidup, termasuk manusia, yang berada di dekat kawasan tersebut.
Namun, letusan gunung berapi yang kita lihat hari ini dan yang pernah terjadi di dunia selama ini tidak dapat dibandingkan dengan fenomena yang akan terjadi di hari kiamat kelak. Gunung yang selama ini berdiri kokoh kelak akan luluh lantah. Dalam Al-Qur’an, gunung yang hancur lebur ketika itu diibaratkan seperti bulu yang dihambur-hamburkan.
Dalam Surat Al-Qari’ah, Allah SWT berfirman:
الْقَارِعَةُ (1) مَا الْقَارِعَةُ (2) وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْقَارِعَةُ (3) يَوْمَ يَكُونُ النَّاسُ كَالْفَرَاشِ الْمَبْثُوثِ (4) وَتَكُونُ الْجِبَالُ كَالْعِهْنِ الْمَنْفُوشِ (5)
Artinya, "Apakah al-Qāri‘ah itu? Tahukah kamu apakah al-Qāri‘ah itu? Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan. Dan gunung-gunung seperti bulu yang berhamburan."
Dalam ayat di atas, Allah SWT menganalogikan gunung pada hari kiamat kelak dengan bulu yang dihambur-hamburkan. Ibnu 'Asyur menjelaskan bahwa titik persamaan antara gunung pada waktu itu dan bulu yang berhamburan adalah kondisinya yang tercerai-berai. Hal ini disebabkan oleh saking kuatnya guncangan dan peristiwa yang terjadi pada hari tersebut.
وَوَجْهْ الشَّبَهِ تَفَرُّقُ الْأَجْزَاءِ لِأَنَّ الْجِبَالَ تَنْدَكُّ بِالزَّلَازِلِ وَنَحْوِهَا فَتَتَفَرَّقُ أَجْزَاءً
Artinya, "Titik persamaannya adalah bahwa bagiannya sama-sama terpisah-pisah. Sesungguhnya, gunung-gunung akan hancur disebabkan oleh guncangan hari kiamat. Sehingga ia akan terpencar-mencar menjadi beberapa bagian." (Thahir bin 'Asyur, At-Tahrir wat Tanwir, [Tunisia: Ad-Darut Tunisiyah, 1984), juz 30, hal. 512-513)
Gunung yang diumpamakan seperti bulu yang berhamburan dalam ayat tersebut menunjukkan kesan yang sangat kontras. Gunung adalah simbol kekokohan alam. Sedangkan bulu adalah wujud yang rapuh dan mudah terbang diterpa angin. Perumpamaan gunung dengan bulu yang berhamburan menambah kesan kengerian dan kedahsyatan hati kiamat.
Dalam Kitab Nazhmud Durar, Abu Bakar al-Biqa’i menjelaskan
ولما كانت الجبال أشد ما تكون، عظم الرهبة بالإخبار بما يفعل بها فقال تعالى: {وتكون الجبال} على ما هي عليه من الشدة والصلابة وأنها صخور راسخة {كالعهن} أي الصوف المصبغ
Artinya, "Ketika gunung merupakan bagian dari alam yang paling kuat (yang dapat kita saksikan), Allah SWT menambahkan rasa takut dengan mengabarkan hal yang akan terjadi. Dia berfirman bahwa gunung dengan segala kekuatan dan kekokohannya karena tersusun dari bebatuan dan menancap kuat di bumi, akan menjadi seperti bulu yang diwarnai."
Dahsyatnya Hari Kiamat Dan Pelajaran Bagi Umat Manusia
Ayat di atas secara gamblang menggambarkan huru-hara dan kedahsyatan yang terjadi pada hari kiamat. Pada hari itu, alam semesta akan hancur. Manusia diibaratkan seperti laron yang berterbangan. Gunung-gunung yang berdiri megah dan kokoh, pada hari itu terbang bagai bulu warna-warni yang berhamburan ke sana ke mari.
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini mengandung pelajaran bagi umat manusia betapa tidak berdayanya mereka nanti ketika hari kiamat tiba. Harta benda tidak akan ada artinya, kekuasaan dan kekuatan akan sirna. Bahkan, gunung saja yang berdiri kokoh pada hari itu dianalogikan sebagai bulu-bulu yang berhamburan karena tidak mampu menahan dahsyatnya hari kiamat.
Syekh al-Maraghi menjelaskan:
إن الجبال لتفتتها وتفرق أجزائها لم يبق لها إلا صورة الصوف المنفوش فلا تلبث أن تذهب وتتطاير، فكيف يكون الإنسان حين حدوثها وهو ذلك الجسم الضعيف السريع الانحلال.
Artinya: “Sesungguhnya gunung (pada hari itu) hanya tersisa seperti bulu yang dihamburkan, karena tercerai-berai dan bagian-bagiannya terpisah. Sehingga tak lama kemudian ia lenyap dan berhamburan. Lantas, bagaimana dengan manusia ketika peristiwa itu terjadi, sementara ia adalah makhluk yang lemah dan tubuhnya mudah hancur?" (Musthafa al-Maraghi, Tafsir al-Maraghi, [Mesir: Maktabah Musthafa al-Babil Halabi, 1946], juz 30, hal. 226)
Penjelasan al-Maraghi di atas menunjukkan bahwa gambaran hancurnya gunung dalam Surat al-Qari'ah tidak hanya berhenti pada penjelasan seputar dahsyatnya hari kiamat. Melalui gambar tersebut, Al-Qur’an ingin memberikan ibrah untuk menumbuhkan kesadaran bahwa segala bentuk kekuatan, kedudukan dan harta duniawi tidak akan ada artinya di hari pertanggungjawaban kelak.
Karena itu, Sayyid Muhammad Thanthawi menjelaskan bahwa ayat tersebut, jika direnungi secara mendalam, akan memberikan motivasi untuk senantiasa beramal saleh dan memperbanyak bekal untuk kehidupan akhirat nanti. Ia mengatakan:
والمتأمل في هذه الآيات الكريمة، يراها قد اشتملت على أقوى الأساليب وأبلغها في التحذير من أهوال يوم القيامة، وفي الحض على الاستعداد له بالإيمان والعمل الصالح
Artinya, "Orang yang merenungkan ayat ini akan melihat bahwa di dalamnya terdapat redaksi yang kuat dan diksi yang sangat tepat dalam memberikan peringatan tentang huru-hara di hari kiamat. Selain itu, ia juga mengandung himbauan untuk mempersiapkan diri dengan iman dan amal saleh." (Sayyid Muhammad Thanthawi, Tafsir al-Wasith, [Kairo: Dar Nahdhah, 1998], juz 15, hal. 489)
Pada akhirnya, gambaran mengenai hancurnya gunung yang semula berdiri kokoh mengandung pelajaran penting bagi umat manusia. Surat tersebut menjadi bahan refleksi yang menarik agar kita tidak terlalu membanggakan kekuatan, kekuasaan dan harta kekayaan. Sebab, gunung saja hancur lebur akibat dahsyatnya hari kiamat, apalagi manusia. Sosok yang rapuh dan lemah. Wallahu a’lam.
Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.
Terpopuler
1
Menkeu Suahasil: Keuangan Negara Harus Bisa Jalankan Program Prioritas Pemerintah
2
137 Mahasantri Ma'had Aly Lolos Seleksi Administrasi Beasiswa Berkah Muktamar Ke-35 NU
3
Prabowo Bicara Ketahanan di BRICS, Rakyat Indonesia Masih Menghirup Asap Karhutla
4
Menteri Agama Lantik Basnang Said Jadi Dirjen Pesantren Pertama
5
Di KTT BRICS, Prabowo Dorong Global South Bersatu
6
Data Antrean Haji Dibersihkan, Masa Tunggu Faktual Diperkirakan 14-15 Tahun
Terkini
Lihat Semua