Dari Sisi Ibadah, Ini Hamba Terburuk Allah Menurut Ibnu Athaillah
NU Online · Ahad, 17 September 2017 | 04:01 WIB
Orang yang menyembah Allah karena sesuatu dinilai belum menghayati perintah Allah yang tertuang dalam sifat-sifat-Nya. Hal ini disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam butir hikmah berikut ini.
Artinya, “Siapa saja yang menyembah Allah karena sebuah harapan atau penolakan atas sebuah siksa melalui ibadahnya, maka ia belum menunaikan kewajiban sifat-sifat-Nya.”
Menerangkan hikmah ini, Syekh Syarqawi mengatakan bahwa orang yang beribadah karena sebuah harapan tertentu sebenarnya hanya memikirkan diri (nafsu)-nya, bukan bagaimana menyempurnakan ibadahnya agar benar-benar ikhlas karena Allah SWT.
Artinya, “Tetapi ia menunaikan tuntutan nafsunya berupa kehadiran pahala atau penolakan azab. Hal ini tentu berbeda dengan seseorang yang menyembah Allah karena kebesaran, keagungan, dan sifat-sifat terpuji Allah lainnya yang hanya dimiliki oleh-Nya karena mereka yang sudah demikian berhak untuk menyandang khidmat-melayani melalui ibadah sehingga ketika itulah mereka dinilai telah menunaikan kewajiban sifat-sifat-Nya, maksudnya memenuhi tuntutan sifat-sifat-Nya... Di dalam sebuah riwayat Rasulullah bersabda, ‘Jangan sampai salah seorang kalian berperilaku seperti budak yang buruk di mana ia baru bekerja kalau takut (siksa majikannya). Jangan juga kalian berperilaku seperti buruh yang buruk di mana ia belum mau mengerjakan kewajibannya sebelum diberi upah,’” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Al-Munawwir, tanpa tahun, juz I, halaman 69).
Yang perlu digarisbawahi dari sini adalah pesan Rasulullah SAW agar umatnya tidak menjadi budak dan buruh yang buruk. Budak yang buruk hanya digerakkan oleh rasa takut kepada tuannya. Sementara buruh yang buruk digerakkan oleh upah atau imbalan yang dijanjikan sang majikan. Terlebih lagi buruknya adalah orang yang berpura-pura ibadah atau mengenakan simbol-simbol religiusitas untuk kepentingan duniawi. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)
Terpopuler
1
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
2
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
3
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
4
Khutbah Jumat Bahasa Jawa: Nguri-uri Kamulyaning Wulan Muharram
5
Khutbah Jumat: Pesan Rasulullah, Jangan Mencari-cari Kesalahan Orang Lain
6
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
Terkini
Lihat Semua