Komentar Rabiatul Adawiyah Terhadap Pecinta Palsu Ilahi
NU Online ยท Sabtu, 10 Oktober 2020 | 11:15 WIB
Rabiatul Adawiyah juga membedakan kebenaran cinta kepada Allah dari ungkapan pengakuan cinta palsu kebanyakan orang tanpa pembuktian.
Alhafiz Kurniawan
Penulis
Rabiah Al-Adawiyah atau Rabiatul Adawiyah diperkirakan lahir pada 713-717 M atau 95-99 H di Kota Basrah. Ia dikenal sebagai sufi bermazhab cinta. Ia wafat sekitar tahun 801 M atau 185 H, pada usia sekitar 83 tahun.
Salah satu Kitab Syarah Al-Hikam mengutip syair yang mewakili pandangan sufistiknya. Syair Rabiah itu diterjemahkan dalam tiga larik berikut ini:
"Semuanya menyembah-Mu karena takut neraka. Mereka menganggap keselamatan darinya sebagai bagian (untung) melimpah.//Atau mereka menempati surga, lalu ย mendapatkan istana dan meminum air Salsabila//Bagiku tidak ada bagian surga dan neraka. Aku tidak menginginkan atas cintaku imbalan pengganti."
Rabiatul Adawiyah juga membedakan kebenaran cinta kepada Allah dari ungkapan pengakuan cinta palsu kebanyakan orang tanpa pembuktian. Kritik Rabiatul Adawiyah atas cinta palsu tersebut dikutip oleh Imam Al-Ghazali dalam Kitab Mukasyafatul Qulub:
ูู
ุง ูุงูุช ุฑุงุจุนุฉ:
ุชุนุตู ุงูุฅูู ูุฃูุช ุชุธูุฑ ุญุจู * ูุฐุง ูุนู
ุฑู ูู ุงูููุงุณ ุจุฏูุน
ูู ูุงู ุญุจู ุตุงุฏูุง ูุฃุทุนุชู * ุฅู ุงูู
ุญุจ ูู
ู ูุญุจ ู
ุทูุน
Artinya, "Rabiatul Adawiyah berkata, 'Kau bermaksiat kepada Tuhan, tetapi (mulut)mu mengungkapkan cinta//Hal ini dalam ukuran sungguh mengherankan/Andai cintamu benar, niscaya kau menjadi hamba yang taat//karena pecinta itu sungguh taat kepada kekasihnya,'" (Imam Al-Ghazali, Mukasyafatul Qulub, [Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah: 2019 M/1440 H], halaman 30-31).
Imam Al-Ghazali sebelumnya menyampaikan hal serupa. Ia mengatakan bahwa pengakuan cinta bukan sekadar ungkapan kosong, tetapi perlu disusul dengan pembuktian atas ungkapan tersebut. Pembuktian merupakan pembeda ungkapan kebenaran dan ungkapan palsu cinta.
ู
ู ุงุฏุนู ุฃุฑุจุนุง ู
ู ุบูุฑ ุฃุฑุจุน ููู ูุฐุงุจ. ูู
ู ุงุฏุนู ุญุจ ุงูุฌูุฉ ููู
ูุนู
ู ุจุงูุทุงุนุฉ ููู ูุฐุงุจุ ูู
ู ุงุฏุนู ุญุจ ุงููุจู ุตูู ุงููู ุนููู ูุณูู
ููู
ูุญุจ ุงูุนูู
ุงุก ูุงูููุฑุงุก ููู ูุฐุงุจุ ู ู
ู ุงุฏุนู ุงูุฎูู ู
ู ุงููุงุฑ ููู
ูุชุฑู ุงูู
ุนุงุตู ููู ูุฐุงุจุ ู ู
ู ุงุฏุนู ุญุจ ุงููู ุชุนุงูู ูุดูุง ู
ู ุงูุจููู ููู ูุฐุงุจ
Artinya, "Siapa saja yang mengaku empat hal tanpa (pembuktian) empat hal lainnya, maka ia pendusta. Pertama, siapa saja yang mengaku cinta surga tetapi kenyataan ia tidak beramal ibadah sebagai bentuk ketaatan, niscaya ia pendusta. Kedua, siapa saja yang mengaku cinta Nabi Muhammad SAW, tetapi tidak mencintai ulama (pewaris para nabi) dan orang-orang fakir (mereka yang dulu diperhatikan oleh nabi), niscaya ia pendusta. Ketiga, siapa saja yang mengaku takut kepada api neraka, tetapi tidak meningalkan maksiat, niscaya ia adalah pendusta. Keempat, siapa saja yang mengungkapkan cinta kepada Allah SWT, tetapi masih mengadu atas ujian yang diberikan kepada-Nya, niscaya ia pun pendusta,'" (Imam Al-Ghazali, 2019 M/1440 H:30).
*
Imam Al-Ghazali menceritakan sababun nuzul Surat Ali Imran ayat 31, "Qul in kuntum tuhibbลซnallฤha fat tabiโลซnฤซ, yuhbibkumullฤh, wa yaghfir lakum dzunลซbakum, Wallฤhu ghafลซrun rahฤซmun."
Imam Al-Ghazali mengatakan, Surat Ali Imran ayat 31 ini turun ketika Rasulullah SAW mengajak pemuka Yahudi Madinah yang sangat memusuhi Nabi Muhammad SAW, Kaโab bin Al-Asyraf, dan pengikutnya untuk memeluk Islam.
"Kami dari segi kedudukan adalah anak-anak Allah dan kami sangat mencintai Allah," jawab Kaโab bin Al-Asyraf dan pengikutnya menolak ajakan Nabi Muhammad SAW. Wallahu aโlam. (Alhafiz Kurniawan)
Terpopuler
1
Khutbah Jumat: Keutamaan Silaturahmi dan Saling Memaafkan
2
Khutbah Jumat: Berbagi Tanpa Pamer, Peduli Tanpa Sekat
3
Kunjungi Dubes Iran, Ketum PBNU Sampaikan Solidaritas dan Dukungan Moral
4
DPR Akan Bahas dan Kawal Proses Hukum Kasus Dugaan Pelecehan oleh Juri Tahfidz TV
5
Iran Pasca-Larijani: Menuju Perang tanpa Akhir?
6
Halal Bihalal sebagai Ijtihad Sosial Ulama Nusantara
Terkini
Lihat Semua