Nasihat Kitab Al-Hikam: Pedoman Membaca Riya dan Ikhlas di Media Sosial
NU Online ยท Senin, 19 Januari 2026 | 10:00 WIB
Muhammad Izharuddin
Kolomnis
Seorang Muslim memiliki kewajiban untuk menghamba kepada Allah SWT dengan penuh keikhlasan. Artinya, setiap amal dan aktivitas yang dilakukan harus dilandasi niat karena Allah dan ditujukan semata-mata untuk mencari rida-Nya, tanpa mengharapkan belas kasihan atau sanjungan dari manusia.
Namun, realitas kehidupan di era digital menghadirkan situasi yang berbeda. Media sosial memungkinkan setiap orang dengan mudah membagikan berbagai aktivitas kepada publik. Ekspresi perasaan, pengalaman, dan tindakan pribadi dapat diakses oleh banyak orang dalam waktu singkat. Termasuk di dalamnya adalah amal kebajikan dan perbuatan saleh.
Sifat media sosial yang terbuka ini tidak jarang melahirkan kritik. Amal kebaikan yang diunggah sering kali dipersoalkan dari sisi keikhlasan. Sebagian warganet beranggapan bahwa jika suatu ibadah benar-benar dilakukan untuk Allah, maka tidak semestinya diperlihatkan kepada manusia. Pandangan semacam ini kerap disampaikan dengan nada menyindir, bahkan menghakimi.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan penting. Bagaimana seharusnya memahami makna ikhlas sebagai lawan dari riyaโ dalam konteks media sosial? Apakah setiap kebaikan yang dipublikasikan otomatis tergolong riyaโ?ย
Ataukah terdapat batasan dan pertimbangan tertentu yang perlu dipahami, mengingat media sosial telah menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat modern?
Untuk menjawab persoalan ini, langkah awal yang perlu dilakukan adalah memahami terlebih dahulu makna riyaโ beserta turunannya dalam khazanah keilmuan Islam. Imam al-Ghazali, dalam Ihyaโ Ulumiddin, memberikan penjelasan mendalam mengenai hakikat riyaโ dan bagaimana membedakannya dari keikhlasan yang sejati.
ูุฅูู ุง ุงูุฑูุงุก ุฃุตูู ุทูููุจู ุงููู ูููุฒูููุฉู ููู ูููููุจู ุงููููุงุณู ุจูุฅููุฑูุงุฆูููู ู ุฎูุตูุงูู ุงูุฎูุฑ
Artinya: โRiya asalnya menginginkan posisi dalam hati manusia dengan memperlihatkan amal baiknya kepada orang lain.โ (Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, (Beirut: Dar Al-Maโrifat), Juz III, halaman 297).
Lewat definisi ini, Al-Ghazali hendak menerangkan jika riyaโ itu berada dalam aspek ibadah yang ditujukan kepada Allah. Pelakunya adalah orang yang beribadah. Ditujukan kepada manusia yang ingin dicari perhatiannya.
Bentuknya bisa bermacam-macam, lewat fisik, pakaian, perkataan, perbuatan, dan faktor eksternal lain. Jika berhubung dengan ketaatan kepada Allah maka tergolong riyaโ. Jika sebaliknya, maka tidak dianggap riya.โ
Posting Ibadah di Media Sosial: Apakah Riya?
Terdapat dua nasihat bijak yang dituangkan oleh Imam Ibnu Athaillah dalam kitabnya Al-Hikam. Kedua nasihat ini penting diutarakan agar dapat melihat riya dan relevansinya dengan media sosial secara proporsional.
Nasihat pertama Ibnu Athaillah berisi kritik terhadap seseorang yang menginginkan perhatian manusia atas amal ketaatan yang ia lakukan. Sikap semacam ini dipandang sebagai tanda adanya masalah dalam keikhlasan beribadah.
ุงุณูุชูุดูุฑูุงูููู ุฃูู ููุนูููู ู ุงููุฎููููู ุจูุฎูุตูููุตููููุชููู ุฏููููููู ุนูููู ุนูุฏูู ู ุงูุตููุฏููู ููู ุนูุจูููุฏููููุชููู
Artinya: โPerhatian kamu agar makhluk tahu akan kekhususan (ibadah)mu merupakan dalil atas ketidakjujuranmu dalam โubudiyyah (ibadah).โ
Melalui pernyataan ini, Ibnu Athaillah mengingatkan para penempuh jalan kesalehan agar berhati-hati dalam menjaga arah amal. Keinginan agar manusia mengetahui kedekatan seseorang dengan Allah dapat menjadi tanda bahwa amal tersebut telah bergeser dari tujuan utamanya.
Istilah istisyraf sendiri dijelaskan oleh Syekh Said Ramadan al-Buthi sebagai kecenderungan nafsu terhadap sesuatu disertai rasa senang untuk meraihnya.
ุชููู ู ุซูุง: ููุฏ ุงุดุชุฏ ุจู ุงูุฌูุน ุจุงูุฃู ุณ ุญุชู ุฅู ููุณู ูุชุชุดุฑู ุงูุทุนุงู ุงูุฐู ููุช ุฃุฑุงู ูู ุฃูุฏู ุงููุงุณ
Artinya, โSungguh aku benar-benar merasa lapar kemarin, sampai-sampai diriku menginginkan makanan yang aku lihat berada di tangan-tangan orang lain.โ (Said Ramadan al-Buthi, Al-Hikam al-โAthaiyyah, Syarh wa Tahlil, Cet. I [Damaskus: Dar al-Fikr], juz IV, hlm. 119).
Ibnu Ajibah, yang juga mensyarah kitab Al-Hikam, menegaskan bahwa sikap seperti ini dapat menjadi indikasi riyaโ khafi, yaitu riyaโ yang tersembunyi di dalam hati. Dalam ibadah, seharusnya seseorang merasa cukup jika amalnya diketahui oleh Allah semata.
ูู ููุช ุตุงุฏูุง ูู ุนุจูุฏูุชู ูุง ูุชููุช ุจุนูู ุงููู, ูููุนุช ุจู ุฑุงูุจุชู ุฅูุงู, ูุงุณุชุบููุช ุจู ุนู ุฑุคูุฉ ุบูุฑู
Artinya, โKalaulah kamu benar dalam ibadahmu, niscaya kamu akan merasa cukup dengan diketahui Allah, ridha dengan pengawasan-Nya, dan tidak membutuhkan pandangan selain-Nya.โ (Ibnu Ajibah, Ibโadul Ghumam โan Iqazhil Himam fi Syarhil Hikam [Lebanon: Dar al-Kutub al-โIlmiyah], hlm. 242).
Bahkan, riyaโ yang paling berbahaya adalah ketika seluruh amal dan pemberian ditujukan kepada makhluk. Jika bukan karena manusia, niscaya ia enggan melakukannya.
Tidak berhenti di situ, Ibnu Athaillah juga mengingatkan bahwa riyaโ dapat muncul pada orang yang justru merasa aman karena ibadahnya tidak dilihat manusia.
ุฑูุจููู ูุง ุฏูุฎููู ุนููููููู ุงูุฑููููุงุกู ู ููู ุญูููุซู ููุง ููููุธูุฑู ุงููุฎููููู ุฅููููููู
Artinya,ย โBisa jadi riyaโ masuk kepadamu justru ketika makhluk tidak melihatmu.โ
Selama ini, sebagian orang berusaha keras agar amal kebaikannya tidak diketahui orang lain. Namun, dalam kesendirian itu terkadang muncul harapan tersembunyi agar seandainya manusia mengetahui apa yang ia lakukan. Di titik inilah riyaโ dapat bersemi tanpa disadari.
Seseorang bisa saja berdiri sendiri menghadap Allah dalam shalatnya, namun terlintas dalam benaknya keinginan agar orang lain mengetahui ibadah tersebut. Demikian pula seseorang yang bersedekah secara sembunyi-sembunyi, tetapi dalam hatinya membayangkan pujian yang akan ia terima jika perbuatannya diketahui.
Dari penjelasan Ibnu Athaillah ini dapat dipahami bahwa memposting kebaikan di media sosial maupun tidak mempostingnya sama-sama memiliki potensi bahaya. Menampakkan amal dapat memicu keinginan dipuji, sementara menyembunyikannya tetapi berharap diketahui orang lain juga merupakan bentuk riyaโ yang halus.
Membangun Kesadaran dalam Beramal
Dalam lanjutan syarah Al-Hikam, Syekh Said Ramadan al-Buthi menjelaskan bahwa menampakkan amal dapat dibenarkan jika dilandasi niat yang lurus. Di antaranya adalah untuk memberi teladan, menampakkan keindahan Islam, serta mengajarkan kesabaran dalam menghadapi ujian dan musibah.
Dikisahkan bahwa seorang sahabat Anshar bersedekah secara terbuka. Orang-orang yang melihat perbuatannya kemudian terdorong untuk melakukan hal serupa. Rasulullah SAW merespons peristiwa tersebut dengan pujian, bukan celaan, dan menjadikannya sebagai amal jariyah bagi sahabat tersebut.
ู ููู ุณูููู ููู ุงููุฅูุณูููุงู ู ุณููููุฉู ุญูุณูููุฉูุ ูููููู ุฃูุฌูุฑูููุงุ ููุฃูุฌูุฑู ู ููู ุนูู ููู ุจูููุง ุจูุนูุฏูููุ ู ููู ุบูููุฑู ุฃููู ููููููุตู ู ููู ุฃูุฌููุฑูููู ู ุดูููุกู
Artinya: โBarang siapa yang membuat suatu sunnah yang baik dalam Islam, maka ia memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengikutinya setelah itu, tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun.โ (HR. Muslim).
Dalam setiap amal yang hendak diperlihatkan kepada manusia, terdapat satu keharusan yang tidak boleh diabaikan, yaitu kesadaran diri. Kesadaran atas apa yang dilakukan, baik melalui perilaku ibadah maupun dengan menceritakan amal kepada orang lain, menjadi benteng penting agar hati tidak dikuasai nafsu dan godaan setan yang mengarah pada riyaโ.
Dengan demikian, persoalannya bukan semata apakah sebuah kebaikan diunggah lalu otomatis tergolong riyaโ, atau disembunyikan lalu pasti ikhlas. Yang jauh lebih menentukan adalah kesadaran batin atas niat dan tujuan amal tersebut. Hal inilah yang tampak pada sikap sahabat Anshar dalam hadis sebelumnya, yang justru menuai pujian dari Nabi SAW karena lurusnya niat yang melandasi perbuatannya.
Perlu disadari bahwa menceritakan amal kebaikan di hadapan orang lain memiliki potensi riyaโ yang lebih besar. Karena itu, diperlukan kekuatan hati dan kematangan keikhlasan. Seseorang dituntut untuk memandang pujian dan celaan secara seimbang, tidak merasa besar ketika dipuji dan tidak runtuh ketika dicela.
Jika kondisi batin ini telah tercapai dan disertai niat agar orang lain terdorong melakukan kebaikan yang sama, maka menampakkan amal tidak hanya dibolehkan, bahkan bisa bernilai sunnah.
Sebaliknya, apabila hati masih bergantung pada simpati dan pengakuan manusia, mudah goyah oleh penilaian orang lain, serta keikhlasan belum benar-benar stabil, maka menyembunyikan amal justru lebih selamat. Dalam keadaan seperti ini, menampilkan kebaikan berisiko besar menyeret pelakunya ke dalam riyaโ tanpa disadari.
Setiap unggahan kebaikan idealnya diniatkan sebagai sarana dakwah. Tujuannya adalah merangsang orang lain yang melihatnya agar terdorong melakukan kebaikan serupa, serta membuka peluang agar kesempatan beramal saleh yang Allah berikan kepada seseorang juga dapat diikuti oleh yang lain.
Di sisi lain, sikap mawas diri harus senantiasa dihadirkan. Menata hati, menjaga keikhlasan, tidak terlena oleh pujian, dan tidak merasa terhina oleh celaan merupakan bagian dari latihan spiritual yang terus menerus. Seluruhnya diarahkan agar setiap amal benar-benar dilakukan karena Allah SWT semata. Wallahu aโlam.
Ustadz Muhammad Izharuddin, Alumni STKQ Al-Hikam.
Terpopuler
1
Khutbah Idul Fitri 1447 H: Dari Ramadhan menuju Ketakwaan dan Kepedulian Sosial
2
Hilal Belum Penuhi Imkanur Rukyah, PBNU Harap Kemenag Konsisten pada Kriteria MABIMS
3
Kultum Ramadhan: Menghidupkan Hati di Akhir Ramadhan
4
Khutbah Idul Fitri Bahasa Sunda: Ciri Puasa nu Ditampi ku Allah
5
Kultum Ramadhan: Hikmah Zakat Fitrah dalam Islam
6
Kultum Ramadhan: Memaksimalkan Doa 10 Malam Terakhir
Terkini
Lihat Semua