Home Tafsir Mimpi Haji, Umrah & Qurban Doa Tasawuf/Akhlak Jenazah Khutbah Ekonomi Syariah Ilmu Hadits Shalawat/Wirid Lainnya Doa Bahtsul Masail Ilmu Tauhid Nikah/Keluarga Zakat Hikmah Tafsir Sirah Nabawiyah Ubudiyah

Keutamaan Syukur Nikmat Dibanding Sabar atas Musibah

Keutamaan Syukur Nikmat Dibanding Sabar atas Musibah
Imam Al-Ghazali membawa riwayat Sayyidina Ali perihal keutamaan nikmat dibanding musibah atau bala.
Imam Al-Ghazali membawa riwayat Sayyidina Ali perihal keutamaan nikmat dibanding musibah atau bala.

Imam Al-Ghazali menjelaskan keutamaan nikmat dibanding musibah bagi umat Islam. Dari banyak dalil keutamaan sabar, kita seakan memahami bahwa musibah atau bala lebih utama. Lalu apakah kita meminta musibah?


Imam Al-Ghazali menerangkan bahwa nikmat lebih utama daripada bala atau musibah. Tidak ada jalan bagi kelebihan musibah atau bala di atas nikmat karena Nabi Muhammad SAW dan para nabi sebelumnya selalu meminta kebaikan dunia dan akhirat.


عن رسول الله صلى الله عليه وسلم أنه كان يستعيذ فى دعائه من بلاء الدنيا وبلاء الآخرة وكان يقول هو والأنبياء عليهم السلام ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة  وكانوا يستعيذون من شماتة الأعداء وغيرها


Artinya, “Dari Rasulullah SAW, ia memohon perlindungan dalam doanya dari bala dunia dan bala akhirat. Ia dan para nabi berdoa, ‘Tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat,’ (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan An-Nasai). Mereka juga berlindung dari caci maki musuh dan keburukan lain,” (Imam Al-Ghazali, Ihya Ulumiddin, [Beirut, Darul Fikr: 2018 M/1439-1440 H], juz IV, halaman 140).


Imam Al-Ghazali membawa riwayat Sayyidina Ali perihal keutamaan nikmat dibanding musibah atau bala. Suatu hari Sayyidina Ali berdoa, “Ya Allah, aku memohon kesabaran.” Rasulullah kemudian mengoreksinya. “Kau tadi meminta bala kepada Allah? Mintalah afiat kepada-Nya,” kata Rasulullah SAW, (HR At-Tirmidzi). (Al-Ghazali, 2018 M: IV/140).


Sayyidina Abu Bakar As-Siddiq ra meriwayatkan hadits Rasulullah SAW yang memerintahkan, “Mintalah kesehatan kepada Allah. Tidak ada pemberian untuk seseorang yang melebihi kesehatan selain keyakinan,” (HR Ibnu Majah). Keyakinan yang dimaksud dalam hadits ini adalah kesehatan batin dari penyakit hati seperti kebodohan dan keraguan.


Imam Al-Ghazali juga mengutip Imam Al-Hasan Al-Bashri yang mengatakan, “Kebaikan yang tidak mengandung kekurangan padanya adalah kesehatan yang disertai syukur nikmat. Pasalnya, berapa banyak orang yang dianugerahi nikmat tidak mensyukurinya?”


Mutharrif bin Abdullah, kutip Imam Al-Ghazali, mengatakan, “Aku sehat dan aku mensyukurinya lebih kusukai daripada aku diberi musibah dan aku bersabar.” (Al-Ghazali, 2018 M: IV/141).


Rasulullah dalam doanya yang diriwayatkan Ibnu Ishak dalam sirahnya mengatakan, “Ya Allah, nikmat sehat dari-Mu lebih aku sukai.” (Al-Ghazali, 2018 M: IV/141).


Dari berbagai riwayat ini, Imam Al-Ghazali menyimpulkan bahwa syukur atas nikmat lebih utama daripada sabar atas bala atau musibah. Artinya, kalau boleh memilih kondisi, tentu kita memilih kondisi pertama sebagaimana doa para nabi. Tetapi tetap saja, ketika kenyataannya kita mengalami musbah, kita harus bersabar dan ridha. Wallahu a’lam. (Alhafiz Kurniawan).


Terkait

Tasawuf/Akhlak Lainnya

Terpopuler

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya