Home Tafsir Mimpi Haji, Umrah & Qurban Doa Tasawuf/Akhlak Jenazah Khutbah Ekonomi Syariah Ilmu Hadits Shalawat/Wirid Lainnya Doa Bahtsul Masail Ilmu Tauhid Nikah/Keluarga Zakat Hikmah Tafsir Sirah Nabawiyah Ubudiyah

Kajian Tafsir: Cara Mensyukuri Nikmat yang Tak Terbatas

Kajian Tafsir: Cara Mensyukuri Nikmat yang Tak Terbatas
Mensyukuri nikmat yang tak terbatas
Mensyukuri nikmat yang tak terbatas

Membahas nikmat yang Allah swt berikan, sama halnya membahas sesuatu yang tidak akan pernah selesai. Sebab Allah sendiri selalu mencurahkan nikmat terhadap hamba-Nya. Karena begitu banyak nikmat yang diberikan, maka tidak bisa dihitung jumlah dan bentuknya. Manusia hanya bisa menerima, menjalankan, mensyukuri, atau ada pula yang mengingkari. Dalam Al-Qur’an ditegaskan:


وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوها، إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ. (النحل: 18)


Artinya, “Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Surat an-Nahl ayat 18).


Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan, ketidakmampuan manusia menghitung nikmat yang diterimanya disebabkan semua manfaat dan kenyamanan yang dinikmati oleh tubuhnya, yang digunakan untuk menarik manfaat dan menolak keburukan, nikmat yang Allah ciptakan di muka bumi kemudian menjadikan manusia merasa senang, nyaman dan tentram, demikian pula setiap hal yang menjadikan seseorang terhindar dari maksiat, semua itu adalah nikmat. Semua manfaat yang ada di muka bumi atau yang menjadi media untuk meraihnya, sejatinya adalah nikmat. Sebab, dengan adanya manfaat atau media kemanfaatan tersebut seseorang menjadi lebih semangat melakukan ketaatan dan mendekat diri kepada-Nya. Imam ar-Razi mengatakan:


فَثَبَتَ أَنَّ جَمِيعَ مَخْلُوقَاتِهِ سُبْحَانَهُ نِعَمٌ عَلَى الْعَبِيدِ


Artinya, “Maka dipastikan, semua ciptaan Allah subhanâhu wa ta’âlâ adalah nikmat bagi hamba-Nya.” (Fakhruddin ar-Razi, Tafsîr Mafâtîhul Ghaib, [Beirut, Dârul Ihyâ’-it Turâtsi, 1998], juz III, halaman 474).


Sementara Syekh al-Khazin mengatakan, jika dilihat dari segi jenis, maka nikmat terbagi menjadi beberapa bagian. Di antaranya nikmat dunia dan nikmat agama, seperti nikmat Islam dan iman. Ada nikmat yang tampak dan bisa dirasakan (dhâhir), ada nikmat yang tidak nampak (bâthin), ada nikmat suatu manfaat, da nada pula nikmat seseorang dijauhkan dari maksiat dan keburukan. Masing-masing jika dirinci akan menjadi sangat banyak. Misalnya, dalam nikmat yang tampak dan bisa dirasakan, manusia oleh Allah diberikan nikmat kesehatan badan dan kesejahteraan. Manusia diberi penglihatan yang baik tanpa cacat, dan diberi akal sempurna, diberi pendengaran yang dengannya bisa memahami suatu ucapan, bacaan dan lainnya. Nikmat kekuatan tangan, nikmat kemampuan berjalan menggunakan dua kaki, dan lainnya. (‘Alauddin ‘Ali bin Muhammad bin Ibrahim al-Baghdadi al-Khazin, Tafsîrul Khâzin, [Beirut, Dârul Fikr: 1992], juz IV, halaman 84).


Melihat penjelasan Syekh al-Khazin di atas, sangat wajar jika manusia tidak mampu menghitung semua nikmat yang mereka terima. Sebab, menghitung satu jenis nikmat yang di dalamnya terdapat ratusan cabang-cabang nikmat yang lain, manusia tidak akan mampu. Apalagi jika menghitungnya dengan detail, tentu lebih tidak mampu.


Syekh Nawawi Banten memiliki pandangan berbeda perihal ayat di atas, menurutnya, yang dimaksud tidak mampu menghitung pada ayat di atas, adalah menghitung secara sempurna, bukan tidak bisa menghitung secara menyeluruh. Sebab, manusia tidak mengetahui semua nikmat-nikmat yang Allah berikan kepadanya, mereka hanya mengetahui sebagiannya saja. Akibatnya, dengan ketidaktahuan ini, manusai tidak bisa mensyukuri nikmat secara sempurna. Hal ini juga memberikan warning bahwa akal yang dimiliki manusia hanya memiliki kapasitas yang sangat terbatas ketika harus memuat dan menghitung semua nikmat Allah yang sangat banyak.


Cukup sebagai contoh dan pelajaran bahwa akal manusia sangat terbatas bila dibandingkan dengan nikmat Allah yang sangat luas adalah ketika manusia sedang sakit. Ia akan merasa bingung dan selalu berharap kesembuhan. Namun ia tidak mengetahui ada di bagian mana inti penyakit dan bagian mana pula yang harus diobati. Sementara itu Allah mengatur kondisinya dengan cara-Nya yang sangat sempurna. Manusia tidak mengetahui di bagian mana yang Allah sembuhkan, dan bagaimana pula cara mengobatinya. Setelah itu oleh Allah ia disembuhkan dari penyakit tersebut bahkan penyakitnya dihilangkan. Yang semestinya dijadikan pelajaran dan renungan adalah, saat Allah menyembuhkan manusia dari penyakit, ia sering tidak menyadari atas nikmat yang Allah berikan saat itu. Pikirnya, yang penting sudah sembuh, tanpa berpikir bagaimana cara Allah menyembuhkannya. (Nawawi al-Bantani, Marahu Labidin li Kasyfi Ma’ânil Qur’ânil Majîd, [Beirut, Dârul Kutubil ‘Ilmiyyah: 1999], juz I, halaman 589).


Cara Mensyukuri Nikmat yang Tak Terbatas
Sudah jelas bahwa semua nikmat yang Allah berikan sangat banyak, sangat rinci, dan begitu luas tidak mampu manusia hitung dengan detail pula. Lantas bagaimana cara mensyukurinya?


Mensyukuri semua nikmat yang diberikan oleh Allah adalah bagian yang sangat penting untuk dilakukan manusia, baik mensyukuri nikmat secara global atau dengan detail. Bersyukur adalah bagian dari manifestasi keimanan kepada Allah Sang Maha Pemberi, serta sebagai bukti ketaatan pada perintah-Nya. Dalam Al-Qur’an Allah memerintahkan manusia untuk bersyukur atas nikmat yang telah diberikan dan melarang mengingkarinya:


فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ. (البقرة: 152)


Artinya, “Maka ingatlah kalian kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu; dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kalian mengufuri-Ku.” (QS Al-Baqarah: 152).


Sayyid Muhammad Ali Thanthawi mengatakan, meski nikmat yang Allah berikan tidak terhitung jumlahnya dan manusia tidak mampu menghitungnya, bukan kemudian menghilangkan kewajibannya untuk bersyukur. Syekh Thanthawi mengatakan:


وَمَا دَامَ الْأَمْرُ كَذَلِكَ، فَاشْكُرُوْهُ عَلَيْهَا مَا اسْتَطَعْتُمْ، وَأَخْلِصُوْا لَهُ الْعِبَادَةَ وَالطَّاعَةَ

 

Artinya, “Selama keadaan seperti itu (tidak mampu menghitung semua nikmat), maka syukurilah nikmat (yang diterima) semampunya, serta ikhlaskan ibadah dan ketaatan kepada-Nya.” (Sayyid Thanthawi, Tafsîrul Wasîth, [Beirut, Dârul Fikr: 2014], halaman 2509).


Menurut Syekh Thanthawi, ketidakmampuan seseorang menghitung semua nikmat yang diterimanya, baik nikmat dunia, berupa rejeki yang cukup dan keluarga dalam kondisi sehat; nikmat agama, seperti nikmat Islam dan iman; nikmat yang tampak dan bisa dirasakan; nikmat yang tidak nampak; nikmat berupa manfaat dan nikmat dijauhkan dari maksiat dan keburukan; tidak kemudian menjadi penyebab gugurnya perintah untuk bersyukur kepada Allah swt. Manusia tetap terkena tuntutan untuk bersyukur, sesuai kemampuannya.


Sementara menurut Syekh Nawawi Banten, cara bersyukur harus dilakukan dengan mensyukuri semua nikmat yang diterimanya, baik secara terperinci maupun global. Masalah kemudian ada beberapa nikmat yang luput untuk disyukuri, maka Allah Yang Maha Pengampun. Syekh Nawawi menjelaskan:


ثُمَّ الطَّرِيْقُ إِلَى الشُّكْرِ أَنْ يَشْكُرَ اللهَ عَلَى جَمِيْعِ نِعَمِهِ مُفَصِّلِهَا وَمُجْمَلِهَا، إِنَّ اللهَ لَغَفُورٌ لِلتَّقْصِيْرِ الصَّادِرِ عَنْكُمْ فِي الْقِيَامِ بِشُكْرِ نِعَمِهِ


Artinya, “Kemudian cara bersyukur yaitu dengan bersyukur kepada Allah atas semua nikmat-Nya; baik secara detail maupun secara global. Sungguh Allah Maha Pengampun atas kelalaian yang muncul dari kalian semua dalam melakukan syukur atas nikmat-nikmat-Nya.” (Nawawi al-Bantani, Marâh Labîd, juz I, halaman 590).


Syekh Abu Muhammad al-Husaini bin Mas’ud al-Baghawi, ulama yang memiliki julukan Muhyis Sunnah, memiliki penafsiran berbeda dengan dua penafsiran di atas. Jika dua pendapat yang telah disebutkan lebih menekankan pada ungkapan syukur, maka tidak dengan pendapat Al-Baghawi. Beliau mengatakan, bahwa yang terpenting dalam melakukan syukur bukan tentang ungkapannya, namun lebih pada aplikasinya. Al-Baghawi mengatakan:


يَعْنِي وَاشْكُرُوا لِي بِالطَّاعَةِ وَلَا تَكْفُرُوْنِي بِالْمَعْصِيَةِ، فَإِنَّ مَنْ أَطَاعَ اللهَ فَقَدْ شَكَرَهُ وَمَنْ عَصَاهُ فَقَدْ كَفَرَهُ


Artinya, “Yang dimaksud (ayat syukur), adalah: ‘Bersyukurlah kepada-Ku dengan melakukan ketaatan, dan janganlah kalian ingkar kepada-Ku dengan maksiat’. Karena sungguh orang yang taat kepada Allah maka ia sudah bersykur, dan orang yang bermaksiaat kepada-Nya maka ia telah ingkar.” (Al-Baghawi, Tafsîrul Baghawi, [Dâruth Thayyibah, 1997], juz I, halaman 168).


Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan, bahwa cara bersyukur kepada Allah atas nikmat yang tak terbatas bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama, dengan memuji Allah swt atas segala nikmat yang diberikan kepada manusia, baik nikmat Islam dan iman, sehat rohani dan jasamani, nikmat memiliki anggota tubuh yang sempurna dan lainnya. Kedua, dengan cara menggunakan anggota badan untuk melakukan ketaatan kepada Allah swt. Sebab, dengan melakukan ketaatan artinya seseorang sudah bersyukur dengan segala nikmat yang diterimanya. Wallâhu a’lam bisshawâb

 

Ustadz Sunnatullah, Pengajar di Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan, Kokop, Bangkalan.


Terkait

Tafsir Lainnya

Rekomendasi

topik

Berita Lainnya