Cara Al-Qur’an Menguatkan Nabi Muhammad saat Dakwahnya Ditolak
Selasa, 23 Juni 2026 | 10:00 WIB
Hidup tidak selalu berjalan dalam satu warna. Ada siang dan malam, senang dan sedih, lapang dan sempit, berhasil dan gagal. Tidak ada seorang pun yang benar-benar bebas dari masalah. Orang kaya punya ujiannya sendiri, orang biasa pun demikian. Orang saleh diuji, orang yang belum baik pun diuji.
Karena itu, yang membedakan seseorang bukan terletak pada apakah ia punya masalah atau tidak, melainkan pada bagaimana ia bersikap ketika masalah itu datang. Ada orang yang runtuh karena masalah, tetapi ada pula yang justru semakin matang, semakin dekat dengan Allah, dan semakin kuat menjalani hidup.
Menariknya, Al-Qur’an memiliki cara tersendiri untuk mendidik manusia agar mampu menghadapi masalah. Cara itu tidak selalu hadir dalam bentuk nasihat panjang atau perintah langsung. Sering kali, Al-Qur’an mendidik melalui kisah. Dari kisah itulah manusia diajak untuk melihat, merenung, lalu menemukan kekuatan baru.
Bahkan, sasaran pertama pendidikan itu adalah manusia paling mulia, yaitu Baginda Nabi Muhammad SAW. Melalui kisah para nabi terdahulu, Allah menguatkan hati beliau ketika dakwahnya ditolak dan ketika kesedihan yang begitu berat dirasakan.
Saat Nabi Muhammad Bersedih karena Dakwahnya Ditolak
Ada anggapan yang kadang muncul di tengah masyarakat bahwa para nabi tidak pernah merasa sedih atau kecewa. Seolah-olah, karena mereka dekat dengan Allah, mereka tidak merasakan luka batin sebagaimana manusia pada umumnya.
Padahal, para nabi tetap manusia. Mereka merasa sedih, kecewa, berat, dan lelah. Bedanya, mereka tidak menyerah pada perasaan itu. Mereka tetap berjalan dalam bimbingan Allah.
Baginda Nabi Muhammad SAW pun demikian. Beliau pernah mengalami kesedihan yang sangat dalam ketika dakwahnya ditolak oleh kaum Quraisy. Bukan hanya ditolak, beliau juga dimusuhi, dihina, dan dituduh dengan berbagai tuduhan yang menyakitkan.
Kesedihan itu sampai diabadikan oleh Allah dalam surah asy-Syu‘ara’ ayat 3:
لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَلَّا يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
Artinya, “Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan) karena mereka (penduduk Makkah) tidak beriman.” (QS. asy-Syu‘ara’ [26]: 3)
Imam Abu Muhammad Sahl bin Abdullah at-Tustari (w. 283 H) dalam Tafsir at-Tustari menjelaskan ayat ini dengan sangat menyentuh:
لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ أَيْ مُهْلِكٌ نَفْسَكَ بِاتِّبَاعِ الْمُرَادِ فِي هِدَايَتِهِمْ، وَقَدْ سَبَقَ الْحُكْمُ مِنَّا بِمَا يَكُونُ مِنْ إِيمَانِ الْمُؤْمِنِ وَكُفْرِ الْكَافِرِ، فَلَا تَغْيِيرَ وَلَا تَبْدِيلَ، وَبَاطِنُ ذَلِكَ أَنَّكَ شَغَلْتَ نَفْسَكَ عَنَّا بِالِاشْتِغَالِ بِهِمْ حِرْصًا عَلَى إِيمَانِهِمْ، مَا عَلَيْكَ إِلَّا الْبَلَاغُ، فَلَا يَشْغَلْكَ الْحُزْنُ فِي أَمْرِهِمْ عَنَّا
Artinya, “‘Boleh jadi engkau (Nabi Muhammad) akan membinasakan dirimu (dengan kesedihan)’; yakni engkau sedang membinasakan dirimu dengan terus mengikuti keinginanmu agar mereka mendapat hidayah, padahal keputusan telah Kami tetapkan sejak awal—tentang siapa yang beriman dan siapa yang kafir, dan itu tidak dapat diubah atau diganti.
Sedangkan makna batinnya adalah: engkau telah menyibukkan dirimu dari Kami dengan terlalu larut memikirkan mereka karena besarnya keinginanmu agar mereka beriman. Tugasmu hanyalah menyampaikan; jangan biarkan kesedihan atas urusan mereka memalingkanmu dari Kami.” (Sahl bin Abdullah at-Tustari, Tafsir at-Tustari, [Baerut, Lebanon, Dar al-Kutub al-Ilmiyah: 1423 H/2002 M] hlm. 115)
Penjelasan at-Tustari ini memuat pesan yang sangat mendalam. Di satu sisi, Allah mengingatkan bahwa hidayah ada dalam ketetapan-Nya. Nabi hanya bertugas menyampaikan, bukan memaksa hati manusia untuk beriman.
Di sisi lain, Allah juga menegur dengan penuh kasih. Jangan sampai kesedihan atas manusia membuat seseorang terlalu jauh dari ketenangan bersama Allah. Dakwah memang penting, perjuangan memang mulia, tetapi hati tetap harus bersandar pada Allah, bukan pada hasil yang tampak di hadapan manusia. Pesan inilah yang kemudian dijelaskan dalam Al-Qur’an melalui cara yang khas, yaitu kisah para nabi terdahulu.
Al-Qur’an Menguatkan Nabi dengan Kisah Nabi Musa
Ketika menenangkan Baginda Nabi, Allah tidak hanya memberi nasihat secara langsung. Allah juga mengajak beliau melihat perjalanan nabi-nabi sebelumnya. Seakan-akan, Allah memperlihatkan bahwa jalan dakwah memang berat, dan Nabi Muhammad SAW tidak sendirian dalam menghadapi penolakan.
Kisah pertama yang dihadirkan dalam surah Asy-Syu'ara' adalah kisah Nabi Musa 'alaihissalam. Allah menampilkan perjuangan panjang Nabi Musa melawan Fir'aun, hingga akhirnya Allah menyelamatkan beliau dan kaumnya dari kejaran musuh.
Allah berfirman dalam surah asy-Syu'ara' ayat 63-67:
فَأَوْحَيْنَا إِلَى مُوسَى أَنِ اضْرِبْ بِعَصَاكَ الْبَحْرَ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيمِ ﴿٦٣﴾ وَأَزْلَفْنَا ثَمَّ الْآخَرِينَ ﴿٦٤﴾ وَأَنْجَيْنَا مُوسَى وَمَنْ مَعَهُ أَجْمَعِينَ ﴿٦٥﴾ ثُمَّ أَغْرَقْنَا الْآخَرِينَ ﴿٦٦﴾ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ ٦٧
Artinya, “Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu.’ Maka terbelahlah laut itu, dan setiap belahan seperti gunung yang sangat besar. Dan di sana Kami dekatkan (ke tepi laut) golongan yang lain. Dan Kami selamatkan Musa beserta orang-orang yang bersamanya semuanya. Kemudian Kami tenggelamkan golongan yang lain. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda (kekuasaan Allah), tetapi kebanyakan mereka tidak
beriman.” (QS. Asy-Syu'ara' [26]: 63-67)
Bagian akhir ayat ini penting untuk diperhatikan: “tetapi kebanyakan mereka tidak beriman.” Kalimat ini seakan mengingatkan Nabi Muhammad SAW bahwa Nabi Musa juga pernah menghadapi penolakan. Tidak semua orang yang melihat tanda-tanda kekuasaan Allah langsung beriman.
Namun, penolakan itu tidak membuat perjuangan Nabi Musa menjadi sia-sia. Pada akhirnya, Allah menyelamatkan beliau dan orang-orang yang beriman bersamanya. Dari sini, Nabi Muhammad SAW dikuatkan agar tidak mengukur dakwah hanya dari banyaknya atau sedikitnya orang yang menerima saat itu juga.
Kisah Nabi Ibrahim dan Kesedihan yang Lebih Berat
Setelah kisah Nabi Musa, Allah menghadirkan kisah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam. Dalam kisah ini, Nabi Ibrahim berhadapan langsung dengan ayah dan kaumnya yang menyembah berhala.
Allah berfirman dalam surah asy-Syu‘ara’ ayat 69-77:
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ إِبْرَاهِيمَ ﴿٦٩﴾ إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوْمِهِ مَا تَعْبُدُونَ ﴿٧٠﴾ قَالُوا نَعْبُدُ أَصْنَامًا فَنَظَلُّ لَهَا عَاكِفِينَ ﴿٧١﴾ قَالَ هَلْ يَسْمَعُونَكُمْ إِذْ تَدْعُونَ ﴿٧٢﴾ أَوْ يَنْفَعُونَكُمْ أَوْ يَضُرُّونَ ﴿٧٣﴾ قَالُوا بَلْ وَجَدْنَا آبَاءَنَا كَذَلِكَ يَفْعَلُونَ ﴿٧٤﴾ قَالَ أَفَرَأَيْتُمْ مَا كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ ﴿٧٥﴾ أَنْتُمْ وَآبَاؤُكُمُ الْأَقْدَمُونَ ﴿٧٦﴾ فَإِنَّهُمْ عَدُوٌّ لِي إِلَّا رَبَّ الْعَالَمِينَ ﴿٧٧
Artinya, “Dan bacakanlah kepada mereka kisah Ibrahim. Ketika dia berkata kepada ayahnya dan kaumnya, ‘Apakah yang kamu sembah?’ Mereka menjawab, ‘Kami menyembah berhala-berhala dan kami senantiasa tekun menyembahnya.’ Ibrahim berkata, ‘Apakah berhala-berhala itu mendengar kamu ketika kamu berdoa? Atau (dapatkah) mereka memberi manfaat atau mencelakakan kamu?’
Mereka menjawab, ‘Bukan, tetapi kami mendapati nenek moyang kami berbuat demikian.’ Ibrahim berkata, ‘Sudahkah kamu pikirkan apa yang kamu sembah, kamu dan nenek moyangmu yang terdahulu? Sesungguhnya mereka semua adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam.’” (QS. Asy-Syu'ara’ [26]: 69-77)
Mengapa kisah Nabi Ibrahim dihadirkan setelah kisah Nabi Musa?
Imam Fakhruddin ar-Razi (w. 606 H) dalam Mafatihul Ghayb menjelaskan:
اعْلَمْ أَنَّهُ تَعَالَى ذَكَرَ فِي أَوَّلِ السُّورَةِ شِدَّةَ حُزْنِ مُحَمَّدٍ ﷺ بِسَبَبِ كُفْرِ قَوْمِهِ، ثُمَّ إِنَّهُ ذَكَرَ قِصَّةَ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ لِيَعْرِفَ مُحَمَّدٌ أَنَّ مِثْلَ تِلْكَ الْمِحْنَةِ كَانَتْ حَاصِلَةً لِمُوسَى، ثُمَّ ذَكَرَ عَقِبَهَا قِصَّةَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ لِيَعْرِفَ مُحَمَّدٌ أَيْضًا أَنَّ حُزْنَ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ بِهَذَا السَّبَبِ كَانَ أَشَدَّ مِنْ حُزْنِهِ، لِأَنَّ مِنْ عَظِيمِ الْمِحْنَةِ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ أَنْ يَرَى أَبَاهُ وَقَوْمَهُ فِي النَّارِ وَهُوَ لَا يَتَمَكَّنُ مِنْ إِنْقَاذِهِمْ إِلَّا بِقَدْرِ الدُّعَاءِ وَالتَّنْبِيهِ
Artinya, “Ketahuilah bahwa Allah menyebut di awal surah ini beratnya kesedihan Nabi Muhammad SAW akibat kekufuran kaumnya. Kemudian Allah menghadirkan kisah Nabi Musa AS agar Muhammad tahu bahwa cobaan semacam itu pernah juga menimpa Musa.
Lalu setelahnya Allah menghadirkan kisah Nabi Ibrahim AS agar Muhammad juga tahu bahwa kesedihan Ibrahim atas sebab yang sama ternyata jauh lebih berat daripada kesedihannya sendiri.
Karena termasuk ujian terbesar yang menimpa Ibrahim adalah menyaksikan ayah dan kaumnya sendiri berada di neraka, sementara ia tidak mampu menyelamatkan mereka selain sebatas doa dan peringatan.” (Fakhruddin ar-Razi, Mafatihul Ghayb [Tafsir al-Kabir], [Baerut, Lebanon, Dar Ihya at-Turats al-Arabi: 1420 H] juz 21, hlm. 541)
Penjelasan ar-Razi ini memperlihatkan betapa halus cara Al-Qur’an mendidik hati Nabi Muhammad SAW. Allah tidak hanya berkata, “Jangan bersedih.” Allah justru menghadirkan kisah orang-orang mulia yang pernah merasakan beban yang sama.
Kisah Nabi Musa menunjukkan bahwa penolakan merupakan bagian dari perjalanan dakwah. Sementara kisah Nabi Ibrahim menunjukkan bahwa ada kesedihan yang jauh lebih berat, yaitu ketika seseorang menyaksikan orang terdekatnya sendiri menolak kebenaran.
Bagi Nabi Ibrahim, yang menolak bukan hanya orang-orang yang jauh. Ayah dan kaumnya sendiri berada dalam kesesatan. Beliau tidak mampu memaksa mereka menerima kebenaran. Yang bisa beliau lakukan hanyalah berdoa, mengingatkan, dan menyampaikan kebenaran sebaik-baiknya.
Belajar Kuat dari Kisah Orang-Orang Saleh
Di sinilah tampak salah satu metode pendidikan Al-Qur’an yang sangat penting. Ketika seseorang dilanda masalah, Al-Qur’an tidak selalu mengajaknya untuk melupakan masalah tersebut. Al-Qur’an justru mengajaknya untuk melihat masalah tersebut dari sudut pandang yang lebih luas.
Caranya adalah dengan menghadirkan kisah para orang-orang terdahulu. Bukan agar kita membanding-bandingkan penderitaan secara menyakitkan, melainkan agar kita sadar bahwa jalan hidup orang beriman memang tidak selalu mudah.
Para nabi pun pernah ditolak. Mereka pernah disakiti. Mereka pernah kehilangan orang yang mereka cintai. Mereka pernah menghadapi pengkhianatan, permusuhan, dan kesedihan yang dalam. Namun, mereka tetap bertahan karena hati mereka bersandar pada Allah.
Dari sini, kita belajar bahwa masalah yang kita hadapi hari ini bukanlah akhir dari segalanya. Boleh jadi ia berat, tetapi bukan berarti tidak bisa dilalui. Boleh jadi ia membuat hati lelah, tetapi bukan berarti Allah meninggalkan kita.
Kisah para nabi mengajarkan bahwa kesabaran bukan berarti tidak sedih. Sabar adalah tetap berada di jalan yang benar meskipun hati sedang terluka. Sabar adalah tetap percaya kepada Allah meskipun hasilnya belum terlihat. Sabar adalah terus melakukan yang terbaik, sambil menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT.
Maka, ketika kita menghadapi masalah, penolakan, kegagalan, atau kesedihan, salah satu cara Al-Qur’an menguatkan kita adalah dengan mengingatkan bahwa orang-orang terbaik pun pernah melewati jalan yang berat. Jika mereka mampu bertahan dengan pertolongan Allah, maka kita pun semestinya tidak boleh kehilangan harapan.
Semoga Allah SWT membimbing kita agar mampu membaca setiap masalah dengan hati yang lebih jernih, mengambil pelajaran dari kisah para nabi, dan tetap teguh berjalan di jalan-Nya. Amin. Wallahu a'lam.
Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumni Ma'had Aly Situbondo dan pengajar di Ponpes Manbaul Ulum Kabul, Lombok Tengah.