Tanya Jawab Imam Asy’ari dan Kalangan Muktazilah soal Siksa Kubur
Selasa, 14 April 2026 | 06:00 WIB
Mu’tazilah merupakan aliran teologis Islam yang muncul dan berkembang pada seperempat awal abad ke-2 Hijriah atau pada abad ke-8 Masehi. Ajaran ini dipelopori oleh Wasil bin ‘Ata’ (w. 131H/747M), seorang murid dari Hasan al-Bashri, yang kemudian mengambil jalan berbeda dari garis pemikiran gurunya. Karena sikap tersebut, kelompok ini dikenal dengan sebutan Mu’tazilah, yang berasal dari kata i’tazala yang bermakna memisahkan diri atau keluar dari arus utama pemahaman umat Islam.
Dalam perkembangan ajarannya, Mu’tazilah tidak hanya berbeda dalam aspek metodologi berpikir, tetapi juga dalam sejumlah pokok keyakinan. Salah satu pandangan yang cukup menonjol adalah penolakan mereka terhadap adanya azab kubur, yakni keyakinan bahwa manusia yang telah meninggal dunia tidak mengalami siksaan di alam kubur sebelum hari Kiamat. Pandangan ini menjadi salah satu titik perbedaan mendasar antara Mu’tazilah dan mayoritas ulama Ahlusunnah wal Jamaah.
Tokoh yang pertama kali mengemukakan pengingkaran eksistensi azab kubur adalah Dhirar bin ‘Amr, salah satu sahabat dari Wasil bin ‘Ata’. Mereka yang meyakini hal tersebut, berargumentasi:
و إنما ينكرون قول طائفة فى الجملة، إنهم يعذبون و هم موتى، لأن دليل العقل يمنع من ذلك، وإذا كان مع قرب عهه بحسه و لما دفن يعلمون بأنه لا يسمع و لا يبصر ولا يدرك و لا يلتذ. فكيف يجوز عليه المساءلة و المعاقبة مع الموت، و ما يروى من أن الموتى يسمعون، فلا يصح إلا أن يراد أنهم في تلك الحال يسمعون، بأنهم أحياهم الله و قوى سمعهم
Artinya, "Mereka secara umum menolak pendapat bahwa orang yang telah mati tetap diazab dalam keadaan kematian. Penolakan ini berangkat dari anggapan bahwa dalil akal tidak mendukungnya. Sebab, secara inderawi terlihat bahwa orang yang telah dikuburkan tidak lagi dapat mendengar, melihat, memahami, ataupun merasakan.
Lalu bagaimana mungkin orang yang telah mati masih bisa ditanya dan diberi hukuman, sementara ia berada dalam kondisi demikian? Adapun riwayat yang menyatakan bahwa orang mati dapat mendengar, tidak dianggap sahih kecuali jika dipahami bahwa pada kondisi tertentu mereka dapat mendengar, yakni ketika Allah menghidupkan kembali dan menguatkan pendengaran mereka." (Al-Qadhi Abdul Jabbar, Fadhlul I’tizal wa Thabaqat al-Mu’tazilah, [Beirut: Al-Ma’had al-Amani, 2018] hal. 167)
Namun, apa yang diyakini oleh kelompok Mu’tazilah ini dibantah oleh Imam Asy’ari (w. 324H), salah satu pelopor atau ahli teologis yang beraliran Ahlussunnah. Bantahan ini tidak hanya dijawab dengan retorika-logika saja. Akan tetapi, dengan landasan kuat yang bersumber dari Nash. Apa saja bantahannya? Simak tulisan ini dengan cermat.
Bantahan yang dilakukan oleh Imam Asy’ari ini, termaktub dalam kitab Al-Ibanah ‘an Ushulid Diyanah, hal. 247-250, diterbitkan oleh Darul Anshar, Kairo, pada tahun 1397 H.
Imam Asy’ari mengawali bantahannya dengan mengatakan, bahwa banyak riwayat hadits yang bersumber dari Nabi Muhammad SAW, berasal dari para sahabatnya secara umum, dan tidak ada satu pun informasi yang bersumber dari mereka yang menetapkan, kalau “Azab kubur itu tidak ada”. Namun, sebaliknya, mereka meyakini kenyataan dari azab kubur tersebut.
1. Bantahan Pertama: Nabi SAW Pernah Memerintahkan Sahabatnya untuk Memohon Perlindungan dari Azab Kubur
Dalam salah satu hadits, disebutkan bahwa Nabi SAW pernah berpesan kepada umatnya, agar mereka berdoa kepada Allah untuk diberikan perlindungan dari azab kubur. Hadits tersebut, dikutip oleh Al-Asy’ari:
عن أبي هريرة رضي الله عنه، قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: تعوذوا بالله من عذاب القبر
Artinya, "Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Nabi Muhammad SAW bersabda: 'Mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab kubur'."
Bahkan dalam riwayat lain, disebutkan, bahwa pesan Nabi SAW, “Mohonlah perlindungan kepada Allah dari azab kubur”, disejajarkan dengan pesan beliau kepada umatnya agar mereka memohon perlindungan juga terhadap siksaan api neraka, fitnah manusia, dan fitnah Dajjal. (Imam Muslim, Shahih Muslim, [Turki, Darut Thaba’ah al-Amirah, 1334H], jilid 8, hal. 160)
2. Bantahan Kedua: Nabi Pernah Memohon Agar Dirinya Terpelihara dari Azab Kubur
Selanjutnya, Imam Asy’ari membantah pernyataan Mu’tazilah dengan kenyataan, bahwa Nabi SAW pernah berdoa kepada Allah SWT, supaya dirinya terhindar dari azab kubur. Al-Asy’ari mengutip hadits:
ثنا موسى بن عقبة قال: حدثتني أم خالد بنت خالد بن سعيد بن القاضي رضي الله عنها أنها سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يتعوذ من عذاب القبر أعاذنا الله منه
Artinya: "Telah meriwayatkan kepada kami Musa bin ‘Uqbah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ummu Khalid binti Kholid bin Sa‘id bin al-Qadhi RA, bahwa ia mendengar Rasulullah SAW, berdoa memohon perlindungan dari azab kubur, semoga Allah melindungi kita darinya."
3. Bantahan Ketiga: Nabi Muhammad SAW Mampu Mendengar Suara Orang yang Disiksa dengan Azab Kubur
Kemudian, Al-Asy’ari memberikan bantahan dengan menjelaskan, bahwa Nabi SAW pernah membuat pernyataan, kalau seandainya umatnya tidak saling menguburkan (yakni, ketika salah seorang dari mereka meninggal dunia), maka ia akan memohon kepada Allah, supaya umatnya juga diperdengarkan suara orang yang terkena azab kubur. Al-‘Asy’ari mengutip hadits yang bersumber dari Anas bin Malik:
وروى أنس بن مالك رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: لولا أن تدافنوا لسألت الله عز وجل أن يسمعكم من عذاب القبر ما أسمعني
Artinya: Diriwayatkan dari Anas bin Malik RA, dari Nabi SAW, bahwa beliau bersabda: “Andai kalian tidak saling menguburkan (mayat orang-orang di sekitar kalian), niscaya aku akan memohon kepada Allah SWT, agar Dia memperdengarkan kepada kalian sebagian dari azab kubur sebagaimana yang Dia perdengarkan kepadaku.”
4. Bantahan Keempat: Orang Kafir yang Telah Meninggal Dunia Diperlihatkan Azab Neraka Di Dalam Kubur Setiap Pagi dan Sore Hari
Sementara itu, bantahan keempat yang menguatkan bahwa eksistensi azab kubur itu benar-benar nyata ialah kenyataan yang mengatakan bahwa orang-orang kafir itu diperlihatkan siksa api neraka, setiap pagi dan sore hari. Sebagaimana firman Allah Ta‘ala dalam QS. Ghafir ayat 46:
اَلنَّارُ يُعْرَضُوْنَ عَلَيْهَا غُدُوًّا وَّعَشِيًّا ۚوَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ ۗ اَدْخِلُوْٓا اٰلَ فِرْعَوْنَ اَشَدَّ الْعَذَابِ
Artinya, “Neraka diperlihatkan kepada mereka (di alam barzakh) pada pagi dan petang. Pada hari terjadinya kiamat, (dikatakan,) “Masukkanlah Fir‘aun dan kaumnya ke dalam sekeras-keras azab!”
Demikianlah empat bantahan Imam Asy’ari terhadap argumentasi Mu’tazilah yang mengatakan, bahwa, “Azab kubur itu tidak ada”. Padahal sebaliknya, penyiksaan Allah SWT terhadap hamba-Nya yang ingkar di Alam Barzakh itu benar-benar nyata.
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam Asy’ari, bahwa: 1) Nabi SAW pernah memerintahkan umatnya untuk berdoa kepada Allah, agar mereka diberikan perlindungan dari azab kubur, 2) Nabi SAW pernah berdoa untuk dirinya sendiri, agar terhindar dari azab kubur, (meskipun kita tahu, bahwa Nabi itu Ma’shum: terhindar dari dosa), 3) Nabi SAW mampu mendengar suara peristiwa azab di dalam kubur, dan 4) Orang-orang kafir, diperlihatkan gambaran siksa neraka di kubur, setiap pagi dan sore hari. Wallahua’lam.
Ustadz Muhaimin Yasin, Alumnus Pondok Pesantren Ishlahul Muslimin Lombok Barat dan Pegiat Kajian Keislaman