Khutbah

Khutbah Jumat: Heningkan Ego, Hormati Pendapat Pasangan

Kamis, 18 September 2025 | 11:00 WIB

Khutbah Jumat: Heningkan Ego, Hormati Pendapat Pasangan

Ilustrasi suami istri. (Foto: NU Online/Freepik)

Dalam membangun keluarga sakinah, kehangatan bukan hanya soal cinta, tetapi juga kesanggupan merendahkan ego dan mendengar dengan adil. Rumah tangga tumbuh kuat ketika dua hati saling memberi ruang, berdialog dengan tenang, dan menghargai perbedaan sebagai jalan menuju kesepahaman.

 

Teks khutbah Jumat berikut berjudul: “Khutbah Jumat: Heningkan Ego, Hormati Pendapat Pasangan.” Untuk mencetak naskah khutbah, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat! (Redaksi).

 

Khutbah I

 

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ العَزِيزِ الْحَمِيْدِ، اَلْمُبْدِئِ الْمُعِيدِ، عَلَّامِ الغُيُوبِ، فَعَّالٍ لِّمَا يُرِيدُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُ اللّٰهِ وَرَسُولُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ، فَقَدْ قَالَ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ: وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةًۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

 

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah, 

Dari mimbar yang mulia ini khatib berwasiat, khususnya untuk diri sendiri, marilah kita meneguhkan ketakwaan kepada Allah ta’ala dengan istiqamah menjalankan perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.

 

Perlu kita renungi bersama, tanda nyata dari takwa itu tidak hanya tampak dalam ibadah ritual semata, melainkan juga dalam akhlak keseharian kita. Salah satu cerminannya adalah bagaimana kita berakhlak di rumah, memperlakukan keluarga dengan kelembutan, menahan ego dan ke-aku-an, serta menghormati pendapat pasangan. 

 

Karena, jamaah sekalian, rumah tangga adalah tempat pertama dan ranah privat di mana takwa kita semua diuji. Apakah kita benar-benar mampu menghadirkan kasih sayang, kesabaran, dan penghormatan satu sama lain demi terciptanya sakinah, mawaddah, wa rahmah.

 

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah,

Betapa banyak pasangan suami-istri yang akhirnya bertengkar karena masing-masing lebih mengedepankan ego. Lebih parah lagi, jika pertengkaran itu melebar hingga melibatkan keluarga besar, atau berubah menjadi sikap saling mendiamkan, bahkan, na’udzubillah, berujung pada pertengkaran fisik maupun kekerasan rumah tangga. Semua itu tentu harus kita hindari, karena rumah tangga sejatinya dibangun di atas rahmat, bukan permusuhan.

 

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik menunjukkan, pada tahun 2024 tercatat hampir 400 ribu kasus perceraian di Indonesia. Mayoritas disebabkan oleh perselisihan dan pertengkaran terus-menerus, disusul oleh faktor ekonomi, pasangan yang meninggalkan kewajiban, kekerasan dalam rumah tangga, hingga judi online. Angka ini menjadi pengingat bagi kita semua, bahwa menjaga rumah tangga tidak cukup hanya dengan cinta, tetapi juga membutuhkan komunikasi yang sehat, kesabaran, dan komitmen kuat dari kedua belah pihak.

 

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah,

Menghentikan ego dan menghargai pendapat pasangan adalah kunci keharmonisan rumah tangga. Rasulullah menjadi teladan dalam hal ini. Beliau bukan hanya mendengar, tetapi juga memahami perasaan istrinya dengan penuh kepekaan dan kelembutan. Hal ini tergambar jelas dalam sebuah hadits yang dituturkan oleh sayyidah Aisyah RA:

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنِّي لَأَعْلَمُ إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً، وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى. قَالَتْ: فَقُلْتُ: مِنْ أَيْنَ تَعْرِفُ ذَلِكَ؟ فَقَالَ: أَمَّا إِذَا كُنْتِ عَنِّي رَاضِيَةً، فَإِنَّكِ تَقُولِينَ: لَا وَرَبِّ مُحَمَّدٍ، وَإِذَا كُنْتِ عَلَيَّ غَضْبَى، قُلْتِ: لَا وَرَبِّ إِبْرَاهِيمَ. قَالَتْ: قُلْتُ: أَجَلْ، وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا أَهْجُرُ إِلَّا اسْمَكَ.

 

Artinya, “Dari Aisyah ra. berkata: Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Sesungguhnya aku tahu kapan engkau ridha kepadaku, dan kapan engkau marah kepadaku.’ Aku (Aisyah) berkata, ‘Dari mana engkau mengetahui hal itu?’ Beliau bersabda, ‘Jika engkau ridha kepadaku, engkau mengatakan: “Tidak, demi Tuhan Muhammad.” Tetapi jika engkau marah kepadaku, engkau mengatakan: “Tidak, demi Tuhan Ibrahim”.’ Aisyah berkata, ‘Benar, demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak meninggalkanmu, kecuali hanya tidak menyebut namamu (sementara waktu)’, ” (HR Bukhari).

 

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah,

Hadits di atas menunjukkan bahwa perbedaan dan rasa marah dalam rumah tangga adalah hal yang manusiawi. Namun, Rasulullah mengajarkan cara mengelola marah dengan tetap menghormati pasangan. Bahkan ketika marah, Aisyah tetap menjaga cinta dan penghormatan.

 

Seperti dijelaskan Ad-Dihlawi dalam Lama‘atut Tanqih jilid 6 halaman 114, maksud ucapan Aisyah “Aku tidak meninggalkanmu kecuali hanya namamu” adalah bahwa marahnya terbatas pada ungkapan lahiriah, sedangkan hatinya tetap menjaga rasa cinta. Ath-Thayyibi menegaskan bahwa ini adalah bagian dari dinamika rumah tangga yang semestinya diisi dengan cinta dalam hubungan suami-istri.

 

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah,

Dalam upaya kita untuk saling menghormati pendapat pasangan, baik istri terhadap suami maupun suami terhadap istri, ada satu hal mendasar yang harus tertanam dalam hati kita. Bahwa dalam pernikahan, suami dan istri sama-sama memiliki hak sekaligus kewajiban. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam Al-Qur’an, tepatnya dalam surat Al-Baqarah ayat 228:

 

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِيْ عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوْفِۖ

 

Artinya, “Mereka (para perempuan) mempunyai hak seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang patut.”

 

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah,

Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsirul Munir jilid 2 halaman 330 ketika menafsirkan ayat tadi menjelaskan:

 

لَيْسَ الزَّوَاجُ فِي الْإِسْلَامِ عَقْدَ اسْتِرْقَاقٍ وَتَمْلِيْكٍ، وَإِنَّمَا هُوَ عَقْدٌ يُوْجِبُ حُقُوْقًا مُشْتَرَكَةً وَمُتَسَاوِيَةً بِحَسَبِ الْمَصْلَحَةِ الْعَامَّةِ لِلزَّوْجَيْنِ، فَهُوَ يُوْجِبُ عَلَى الزَّوْجِ حُقُوْقًا لِلْمَرْأَةِ، كَمَا يُوْجِبُ عَلَى الْمَرْأَةِ حُقُوْقًا لِلزَّوْجِ.

 

Artinya, “Pernikahan dalam Islam bukanlah akad perbudakan atau kepemilikan. Akan tetapi ia adalah ikatan suci yang menimbulkan hak-hak bersama yang seimbang, sesuai dengan kemaslahatan umum bagi suami dan istri. Ia mewajibkan suami untuk menunaikan hak-hak istrinya, sebagaimana istri pun berkewajiban menunaikan hak-hak suaminya.”

 

Maka dari itu, jamaah yang dimuliakan Allah, sudah sepatutnya kita memandang pernikahan sebagai amanah yang luhur, bukan arena untuk saling menguasai. Suami maupun istri dituntut untuk saling menunaikan hak dan kewajiban dengan adil, penuh kasih sayang, dan tanpa merendahkan satu sama lain.

 

Jamaah kaum Muslimin yang dirahmati Allah,

Marilah kita belajar dari teladan Rasulullah SAW, yang mengajarkan bahwa keharmonisan rumah tangga terletak pada saling menghormati, saling memahami, dan saling menjaga cinta. Ketika ada perbedaan, hadapilah dengan sabar, dengan dialog yang tenang, bukan dengan amarah atau saling menyakiti.

 

Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang sakinah, mawaddah, dan rahmah. Semoga Allah membimbing para suami untuk menunaikan kewajibannya dengan sebaik-baiknya, dan memudahkan para istri untuk menunaikan hak-haknya dengan penuh keikhlasan. Dan semoga Allah menjadikan rumah tangga kita cahaya yang menenangkan hati di dunia, sekaligus menjadi jalan menuju surga-Nya di akhirat. Amin ya rabbal ‘alamiin.

 

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَلَّ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ، إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ


Khutbah II

 

اَلْحَمْدُ للهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيْهِ كَمَا يُحِبُّ رَبُّنا ويَرْضَى، لَهُ الْحَمْدُ فِي الدُّنيَا وَالأُخْرَى، لَا نُحْصِي ثَنَاءً عَلَى رَبِّنَا هُوَ كَمَا أَثْنَى عَلَى نَفْسِهِ بِأَسْمَائِه الْحُسْنَى وَصِفَاتِهِ الْعُلَى، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إلهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ذُوْ الْعِزَّةِ وَالْجَبَرُوْتِ، لَا يُعْجِزُهُ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّماءِ، وَأَشْهَدُ أنَّ نَبِيَّنَا وَسَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُصْطَفَى الْمَبْعُوْثُ بِالرَّحْمَةِ وَالْهُدَى، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَخَلِيْلِكَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ البَرَرةِ الْأَتْقِيَاءِ

 

أمَّا بَعْدُ: فَاتَّقُوا اللهَ ـ أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ بِفِعْلِ مَا أَمَرَكُمْ بِهِ، وَتَرْكِ مَا نَهَاكُمْ عَنْهُ؛ فَمَنِ اتَّقَى اللهَ وَقَاهُ، وَصَرَفَ عَنْهُ مِنَ الْمَهَالِكِ وَالشُّرُوْرِ مَا يَخشَاهُ، وَأَحْسَنَ عَاقِبتَهُ فِي دُنْيَاهُ وَأُخْرَاهُ، فَجَعَلَ الجَنَّةَ مَأْوَاهُ. وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

 

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

 

Amien Nurhakim, Redaktur Keislaman NU Online dan Dosen Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam, Universitas PTIQ Jakarta.

 
Konten ini merupakan kerja sama Program Family Orientation at the Mosque’s Site (FOREMOST), yang diinisiasi oleh Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan (BP4) Pusat serta Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Pusat, Bimas Islam Kementerian Agama RI.