Khutbah Jumat: Membuka Jendela Dunia Melalui Budaya Membaca
Kamis, 23 April 2026 | 15:35 WIB
Tanggal 23 April 2026, diperingati sebagai Hari Buku Sedunia. Momentum ini seyogianya menjadi kesempatan bagi kita untuk melakukan refleksi diri terkait sejauh mana kecintaan kita terhadap buku dan pengetahuan.
Berangkat dari hal tersebut, khutbah Jumat kali ini mengangkat tema: “Meneladani Iqra: Membuka Jendela Dunia Melalui Budaya Membaca.” Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon cetak berwarna merah yang tersedia di bagian atas atau bawah artikel (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat.
Khutbah I
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ، وَهَدَى الْإِنسَانَ إِلَى سُبُلِ الْعِلْمِ وَالْفَهْمِ، نَحْمَدُهُ عَلَى نِعْمَةِ الْعِلْمِ، وَنَسْتَغْفِرُهُ مِنْ آفَاتِ الْغَفْلَةِ وَالْجَهْلِ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، مُعَلِّمِ الْبَشَرِ وَمُرْشِدِهِمْ إِلَى سَبِيلِ الرَّشَادِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ، فَاتَّقُوا اللَّهَ وَتَزَوَّدُوا، فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji hanyalah milik Allah. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga dan para sahabatnya. Selanjutnya, marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah Swt., agar kehidupan kita menjadi lebih baik dari hari ke hari.
Salah satu bentuk ketakwaan yang sangat mendasar, namun kerap kita abaikan, adalah kesungguhan dalam menuntut ilmu. Di antara pintu utama menuju ilmu tersebut adalah membaca. Dengan membaca apa pun jenis dan temanya, sejatinya kita sedang mengamalkan ajaran Islam: belajar dan memperluas wawasan pengetahuan.
Sebagaimana kita tahu, ketika Allah ta'ala pertama kali menurunkan wahyu kepada Nabi Muhammad Saw., perintah yang diberikan bukanlah sesuatu yang berat, melainkan sebuah perintah yang sederhana, namun sarat dengan makna yang mendalam, yaitu:
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Artinya, "Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan," (QS. Al-'Alaq: 1).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Apabila kita renungkan lebih dalam, perintah iqra’ bukan sekadar membaca teks semata. Perintah tersebut merupakan ajakan untuk membuka diri terhadap ilmu, memahami kehidupan, serta merenungi tanda-tanda kebesaran Allah Swt. Inilah fondasi utama peradaban Islam, yaitu peradaban yang dibangun di atas ilmu dan tradisi literasi.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kita sering mendengar ungkapan bahwa membaca adalah jendela dunia. Dengan membaca, kita dapat menjelajahi berbagai pemikiran, memahami beragam pengalaman manusia, serta memperluas wawasan tanpa harus berpindah tempat. Orang yang gemar membaca akan memiliki cara pandang yang lebih luas, lebih bijak dalam bersikap, dan lebih matang dalam mengambil keputusan.
Kesadaran seperti ini perlu terus kita bangun, terlebih di tengah derasnya arus media sosial saat ini. Kita menyaksikan bagaimana banyak orang merasa berhak berbicara dalam berbagai hal, meskipun tidak memiliki kapasitas yang memadai. Fenomena ini, salah satunya, merupakan dampak dari melemahnya budaya membaca. Akibatnya, tidak sedikit yang berpikir sempit, mudah terpengaruh, dan kesulitan membedakan antara kebenaran dan kesalahan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim disebutkan:
مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ
Artinya: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.”
Hadits ini menegaskan bahwa setiap upaya dalam mencari ilmu, termasuk membaca, merupakan bagian dari perjalanan menuju rida Allah dan surga-Nya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Jika kita menengok sejarah para ulama, kita akan menemukan teladan yang luar biasa dalam hal membaca dan menulis. Salah satunya adalah Imam an-Nawawi, yang wafat pada usia relatif muda, yaitu 45 tahun.
Beliau dikenal menghabiskan hampir seluruh hidupnya untuk ilmu. Waktunya diisi dengan belajar, mengajar, membaca, dan menulis, hingga hampir tidak menyisakan ruang untuk urusan duniawi seperti menikah. Beliau termasuk ulama yang tidak sempat menikah karena seluruh waktunya tercurah untuk ilmu dan pengetahuan.
Di antara karya beliau yang sangat dikenal di kalangan kita adalah Arba’in an-Nawawi, Riyadhus Shalihin, al-Minhaj Syarh Shahih Muslim, dan al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab. Karya-karya ini hingga hari ini menjadi rujukan utama dalam bidang hadis dan fiqih. Hal ini menunjukkan kesungguhan beliau dalam menuntut ilmu sekaligus kepakarannya yang mendalam.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Imam al-Khatib al-Baghdadi dalam al-Jami' li Akhlaqir Rawi (Juz 1, halaman 106) mengatakan:
يَنْبَغِي لِطَالِبِ الْعِلْمِ أَنْ يَجْعَلَ كُتُبَهُ أَعَزَّ أَشْيَائِهِ
Artinya: “Seorang penuntut ilmu hendaknya menjadikan buku sebagai sesuatu yang paling berharga baginya.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Namun, jika kita melihat realitas hari ini, budaya membaca masih menjadi tantangan besar di tengah masyarakat kita. Banyak di antara kita yang lebih banyak menghabiskan waktu untuk hal-hal yang kurang bermanfaat, sementara membaca sering kali dianggap sebagai aktivitas yang berat.
Padahal, jika kita ingin membuka jendela dunia, memperbaiki kualitas diri, dan meningkatkan keimanan, maka salah satu jalannya adalah dengan membangun kebiasaan membaca. Kita dapat membaca berbagai jenis buku sesuai dengan minat dan kesukaan kita.
Kita bisa memulainya dari hal-hal yang sederhana, seperti membaca Al-Qur’an dengan pemahaman, membaca kitab-kitab keagamaan, serta buku-buku yang menambah wawasan. Bahkan, buku-buku fiksi seperti novel dan hikayat pun dapat memberikan manfaat, baik dalam memperluas wawasan maupun mengasah imajinasi.
Memang, sebagian orang masih memandang remeh jenis bacaan tertentu. Namun, sejatinya, setiap jenis buku memiliki manfaatnya masing-masing. Setidaknya, melalui itu kita membangun kebiasaan membaca, sehingga wawasan kita terus bertambah dari hari ke hari.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita menjadikan membaca sebagai bagian dari rutinitas harian, walaupun hanya beberapa halaman setiap hari. Sebab, amalan yang sedikit namun konsisten lebih baik daripada banyak tetapi terputus. Tentu hal ini jauh lebih bermanfaat dibandingkan dengan menghabiskan waktu berjam-jam untuk berselancar di media sosial yang sering kali dilalaikan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Meneladani perintah iqra’ berarti menjadikan membaca sebagai budaya hidup. Dengan membaca, kita tidak hanya memperoleh ilmu, tetapi juga membentuk cara berpikir, memperhalus akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.
Jika kita ingin menjadi umat yang kuat, maka kita harus menjadi umat yang berilmu. Dan umat yang berilmu adalah umat yang mencintai membaca. Marilah kita memohon kepada Allah SWT agar diberikan kecintaan terhadap ilmu, kemudahan dalam belajar, serta keberkahan dalam setiap bacaan kita.
بَارَكَ الله لِي وَلَكُمْ فِي اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.
Khutbah II
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ إِرْغَامًا لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الْخَلَائِقِ وَالْبَشَرِ، اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا، أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ، وَاتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ، إِنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ، فَقَالَ قَوْلًا كَرِيْمًا: ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠّٰﻪَ ﻭَﻣَﻼَﺋِﻜَﺘَﻪُ ﻳُﺼَﻠُّﻮْﻥَ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻨَّﺒِﻲِّ، ﻳَﺎ ﺃَﻳُّﻬَا ﺍﻟَّﺬِﻳْﻦَ ﺁﻣَﻨُﻮْﺍ ﺻَﻠُّﻮْﺍ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَلِّمُوْﺍ ﺗَﺴْلِيْمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ،
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْنَا وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا، وَأَصْلِحْ مَنْ فِي صَلَاحِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، وَأَهْلِكْ مَنْ فِي هَلَاكِهِمْ صَلَاحُنَا وَصَلَاحُ الْمُسْلِمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَارْزُقْنَا وَإِيَّاهُمْ زِيَادَةَ التَّقْوَى وَالْإِيْمَانِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُونِيْسِيَّا خَاصَّةً وَسَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللّٰهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ،
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
M. Syarofuddin Firdaus, Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat.