Khutbah

Khutbah Jumat: Hari Bumi Sedunia, Mari Jaga Alam Kita

NU Online  ·  Kamis, 23 April 2026 | 16:10 WIB

Khutbah Jumat: Hari Bumi Sedunia, Mari Jaga Alam Kita

Ilustrasi bumi. Sumber: Canva/NU Online.

Tanggal 22 April kemarin diperingati sebagai Hari Bumi Sedunia. Tujuan diadakannya hari tersebut adalah untuk meningkatkan apresiasi dan kesadaran manusia terhadap planet Bumi, planet yang ditinggali oleh manusia saat ini. Sekaligus momentum untuk mengingatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dan alam.


Teks khutbah Jumat berikut berjudul Khutbah Jumat: Hari Bumi Sedunia, Mari Jaga Alam Kita. Untuk mencetak naskah khutbah Jumat ini, silakan klik ikon print berwarna merah di atas atau di bawah artikel ini (pada tampilan desktop). Semoga bermanfaat.


Khutbah I

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ فِيهِمَا آيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ, وَسَخَّرَ لَنَا مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا مِنْ نِعَمٍ ظَاهِرَةٍ وَبَاطِنَةٍ لِنَكُونَ مِنَ الشَّاكِرِينَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،  وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً وَسَلَامًا مُتَلَازِمَيْنِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ أَمَّا بَعْدُ, فَيَاأَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ اِتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ: ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Merupakan sebuah keniscayaan bagi kita untuk  memanjatkan puji dan syukur kepada Allah Swt yang telah memberikan kita berbagai macam kenikmatan yang tidak dapat kita hitung jumlahnya.


Selanjutnya, tak lupa marilah kita haturkan pula shalawat beserta salam kepada Nabi Muhammad SAW, juga kepada para keluarganya, sahabatnya, dan semoga melimpah kepada kita semua selaku umatnya. Aamiiin ya Rabbal ‘alamin.


Khatib juga mengajak jamaah sekalian sekaligus diri pribadi agar selalu meningkatkan takwa kepada Allah SWT dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Allah Taala berfirman:


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ


Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim." (QS. Ali-Imran: 102).


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Tanggal 22 April setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Bumi sedunia. Tujuannya ialah untuk meningkatkan apresiasi dan kesadaran manusia terhadap planet Bumi, planet yang ditinggali oleh manusia saat ini. Sekaligus merupakan momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan dan alam.


Dalam Al-Qur’an, bumi disebutkan berkali-kali dengan berbagai macam konteks pembahasan di dalamnya. Mulai dari penciptaan bumi, manusia yang diciptakan sebagai khalifah untuk merawatnya, peringatan untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi dan masih banyak yang lainnya. Ini menunjukkan kepedulian Al-Qur’an terhadap alam, sekaligus pengingat bagi kita untuk menjaganya dengan baik.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Dalam salah satu ayatnya, Allah memberikan peringatan kepada kita, umat manusia, bahwa semua kerusakan yang terjadi di muka bumi adalah disebabkan oleh ulah kita sendiri. Kerusakan yang pada akhirnya menimbulkan berbagai macam bencana, penyakit dan masalah lainnya.


Allah Ta’ala berfirman dalam surat Ar-Rum:


ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ

 

Artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. (Melalui hal itu) Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”. (Qs. Ar-Rum: 41).


Pada ayat di atas, Allah menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi di muka bumi disebabkan ulah manusia sendiri. Kerusakan ekologis seperti hutan yang gundul akibat eksploitasi hutan tanpa adanya reboisasi,  air laut yang tercemar oleh limbah pabrik, atau hal sederhana seperti sampah yang dibuang sembarangan di sungai mengakibatkan berbagai macam problem yang kini kita, manusia, nikmati. Banjir, longsor, hewan punah atau kerusakan alam lainnya.


Terkait hal ini, Syekh Nawawi Banten dalam tafsirnya Marah Labid juz 2 hal 231 berkata:


أَيْ تَبَيَّنَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ كَالْجَدَبِ وَكَثْرَةِ الْحَرَقِ، وَالْغَرَقِ، وَمَوْتِ دَوَّابِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ، وَقِلَّةِ اللُّؤْلُؤِ بِسَبَبِ كَسْبِ النَّاسِ الْمَعَاصِيَ


Artinya: “Kerusakan yang terjadi di darat dan laut seperti paceklik, banyaknya terjadi kebakaran dan karam, matinya ekosistem darat dan laut, sedikitnya perhiasan itu disebabkan ulah manusia.

 

Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Sejak dahulu, manusia yang serakah dan berbuat kerusakan terhadap alam akan mendapatkan akibat buruknya. Oleh karenanya, pada ayat setelahnya, Allah memerintahkan untuk selalu mengambil pelajaran terhadap perjalanan umat terdahulunya yang telah berbuat kerusakan di muka bumi dan mendapatkan balasan atas perbuatannya.


Allah Ta’ala berfirman:


قُلْ سِيْرُوْا فِى الْاَرْضِ فَانْظُرُوْا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلُۗ كَانَ اَكْثَرُهُمْ مُّشْرِكِيْنَ

 

Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Bepergianlah di bumi, lalu lihatlah bagaimana kesudahan orang-orang dahulu. Kebanyakan mereka adalah orang-orang musyrik.” (Qs. Ar-Rum: 42)


Pada ayat di atas, Allah memberikan perintah kepada kita untuk tidak hanya tinggal di muka bumi. Allah memerintahkan kepada kita untuk mengambil pelajaran terhadap orang-orang terdahulu.


Jamaah shalat Jumat yang dimuliakan Allah,

Syariat atau aturan-aturan yang ada dalam agama, meski terlihat mengekang, pada dasarnya menjadi rem yang pakem untuk berbuat kerusakan, termasuk pada lingkungan. Oleh karenanya, Al-Qur’an berkali-kali mengingatkan dengan menggunakan kata “Fa’tabiruu” (Ambillah pelajaran), “wadzkur” (Dan ingatlah) dan kata lainnya yang isinya perintah untuk selalu mengambil pelajaran dengan melihat sekitarnya.


Dalam kaitannya dengan menjaga lingkungan, sangat penting untuk mengambil pelajaran dari laku perjalanan generasi sebelumnya atau dapat dikatakan pula dalam hal ini sangat penting untuk berkaca pada alam sekitar. Larangan berbuat kerusakan tersebut semakin jelas dengan adanya perintah untuk tidak berbuat kerusakan di muka bumi.


Allah berfirman dalam surat Al-A’raf ayat 56:


وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ

 

Artinya: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan.” (Qs. Al-A’raf: 56)


Pada momen khutbah Jumat kali ini, lewat perayaan hari bumi sedunia pada tanggal 22 April kemarin, khatib mengajak kepada jamaah sekalian untuk mari bersama-sama menjaga alam dan lingkungan di mana kita tinggal. Lewat kesadaran kolektif, dengan setidaknya tidak berbuat zalim terhadap lingkungan di mana kita tinggal, semisal tidak membuang sampah sembarangan, setidaknya kita berusaha untuk menjaga alam kita.


بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْنَ


Khutbah II

إِنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللهُ تَعَالَى اِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ


اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


عِبَادَ اللهِ اِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَر.ِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرُ


Ustadz Alwi Jamalulel Ubab, Penulis Tinggal di Indramayu