Nasional

BMKG: Musim Kemarau Makin Meluas, Potensi Hujan Menurun pada 19-25 Juni 2026

Jumat, 19 Juni 2026 | 14:01 WIB

BMKG: Musim Kemarau Makin Meluas, Potensi Hujan Menurun pada 19-25 Juni 2026

Ilustrasi cuaca di Indonesia. (Foto: dok BMKG)

Jakarta, NU Online

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau akan semakin meluas di berbagai wilayah Indonesia pada paruh kedua Juni 2026. Prakirawan BMKG Adelia Febby menjelaskan bahwa musim kemarau kini telah meluas di sebagian Sumatra, sebagian besar Jawa, sebagian Bali, sebagian besar Nusa Tenggara, sebagian Kalimantan Tengah, sebagian kecil Sulawesi Selatan, sebagian Maluku, serta sebagian kecil Papua Selatan.


“Kondisi ini menandakan berkurangnya curah hujan sehingga masyarakat perlu mewaspadai potensi kekeringan, keterbatasan air, serta perbedaan suhu yang lebih terasa antara siang dan malam hari,” katanya, Kamis (18/6/2026).


Meski demikian, hujan dengan intensitas signifikan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah, terutama di Indonesia bagian utara dan kawasan ekuator. Kondisi tersebut dipengaruhi aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial di wilayah Sumatra, Gelombang Kelvin di sebagian Sumatra dan Kalimantan, serta sirkulasi siklonik di Samudra Hindia barat Sumatra yang membentuk daerah konvergensi dan belokan angin.


Memasuki dasarian III Juni 2026, wilayah yang mengalami musim kemarau diprakirakan semakin bertambah. Curah hujan secara umum diprediksi berada pada kategori bawah normal, terutama di sebagian besar Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.


“El Niño Southern Oscillation (ENSO) menunjukkan kecenderungan menuju fase hangat dengan intensitas moderat di wilayah Samudra Pasifik tropis bagian tengah hingga timur. Kondisi ini ditunjukkan oleh indeks Niño 3.4 sebesar +0,92 dan Southern Oscillation Index (SOI) sebesar -23,1,” jelasnya.


“Kondisi tersebut mengindikasikan kecenderungan berkurangnya curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia. Meski demikian, potensi hujan masih dapat terjadi karena pengaruh kondisi atmosfer regional dan faktor lokal yang mendukung pertumbuhan awan hujan,” lanjutnya.


Adelia juga menyampaikan bahwa dalam sepekan ke depan pola siklonik diprediksi terbentuk di Samudra Pasifik utara Papua Barat dan Samudra Hindia barat Sumatra. Kondisi tersebut dapat memicu perlambatan dan pertemuan angin yang mendukung pembentukan awan hujan.


Selain itu, atmosfer yang masih labil diperkirakan terjadi di Aceh, Riau, Sumatra Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Maluku Utara, dan Papua.


Periode 19-21 Juni 2026

BMKG memprediksi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat berpotensi terjadi di Aceh, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Bengkulu, Lampung, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Maluku, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua.


Sementara itu, hujan lebat hingga sangat lebat diprakirakan terjadi di Sumatra Utara dan Kepulauan Bangka Belitung. Adapun potensi angin kencang diprediksi terjadi di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.


Periode 22-25 Juni 2026

Pada periode ini, hujan sedang hingga lebat diprakirakan terjadi di Aceh, Sumatra Barat, Kepulauan Riau, Sumatra Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Tengah, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Sulawesi Tenggara, Maluku, Papua Barat Daya, Papua Barat, Papua Tengah, dan Papua.


Sementara itu, hujan lebat hingga sangat lebat berpotensi terjadi di Papua Pegunungan. Potensi angin kencang diprakirakan terjadi di Nusa Tenggara Timur dan Maluku.


BMKG mengimbau masyarakat untuk terus memantau perkembangan cuaca karena dinamika atmosfer masih berlangsung. Warga di wilayah yang telah memasuki musim kemarau diminta menjaga kecukupan cairan tubuh, menggunakan pelindung dari paparan sinar matahari saat beraktivitas di luar ruangan, serta menyiapkan pakaian hangat ketika berada di dataran tinggi atau beraktivitas pada malam hingga pagi hari.


“Kewaspadaan perlu lebih ditingkatkan di wilayah yang masih berpotensi mengalami hujan beserta dampak turunannya, seperti genangan, banjir, tanah longsor, pohon tumbang, gangguan perjalanan, dan berkurangnya jarak pandang. Masyarakat juga diimbau menghindari berteduh di bawah pohon, papan reklame, atau bangunan rapuh saat hujan disertai angin kencang dan petir,” pungkasnya.