Kisah Dai Penggerak 3T Hadirkan Dakwah di Keseharian Suku Anak Dalam
Selasa, 15 September 2026 | 07:00 WIB
Dai penggerak bersama warga dan jamaah di Punti Kayu 2 Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Sarolangun, Jambi, awal September 2026 (NU Online Institute)
Jambi, NU Online
Kedatangan Satrio Galih Widigdyo sebagai salah satu Dai Penggerak Nusantara yang dikirim NU Online Institute untuk berdakwah di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) di Punti Kayu 2 Desa Bukit Suban, Kecamatan Air Hitam, Sarolangun, Jambi sekaligus menjadi awal dari kehidupan yang jauh berbeda dari kesehariannya di Jember.
Air sulit ditemukan karena kawasan tersebut sedang mengalami kemarau. Untuk mandi dan mencuci, Galih bersama warga dan dai lainnya harus menuju embung yang berjarak sekitar satu kilometer dari tempat tinggal.
"Untuk minum dan memasak, harus membeli air galon. Listrik belum tersedia. Sinyal komunikasi juga tidak mudah ditemukan," cerita Galih kepada NU Online, Ahad (13/9/2026).
"Ketika membutuhkan tempat mandi, para dai juga harus menuju rumah warga yang berjarak sekitar empat kilometer dari lokasi dakwah," lanjutnya.
Kondisi tersebut membuat Galih harus beradaptasi dengan kehidupan yang jauh dari berbagai fasilitas yang selama ini mudah ditemui.
Tetapi keterbatasan fasilitas tidak membuat ia merasa sendiri. Warga Punti Kayu 2 membantu para dai dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka juga antusias menyambut kehadiran dai baru untuk menemani dan membimbing masyarakat.
Galih kemudian berusaha menjalani kesehariannya dengan berbaur bersama warga. Ia membantu di ladang saat panen maupun ketika membersihkan ladang. Pada malam hari, ia mengajar mengaji kepada anak-anak secara kondisional.
Galih lalu menuturkan, pada malam Jumat dan malam Ahad, ia bersama masyarakat mengikuti Dzikir Jama'i. Dari keseharian itu, Galih mulai mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Suku Anak Dalam.
Bertahan dari Sawit dan Berburu
Pagi hari di Punti Kayu 2, kehidupan masyarakat Suku Anak Dalam (SAD) berjalan dengan cara yang tidak selalu sama dengan masyarakat pada umumnya. Sebagian warga masih memilih melangun, yakni bepergian jauh dan berpindah-pindah tempat tinggal.
"Mereka tidak semuanya mau tinggal di rumah yang telah dibangun pemerintah. Kebiasaan berpindah tempat tersebut masih menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan nenek moyang," kata Galih.
Ketika melangun yakni pergi atau berpindah dari tempat tinggal untuk sementara waktu karena mengalami duka, terutama setelah ada anggota keluarga atau kerabat yang meninggal dunia, mereka membuat tempat tinggal sementara di hutan atau kebun warga. Rumah singgah itu sederhana. Alasnya menggunakan daun sawit yang sudah layu, sedangkan atapnya menggunakan terpal.
"Orang tua membawa anak-anak mereka menjalani kehidupan sehari-hari di tempat tersebut. Ada anak yang mengikuti orang tuanya melangun, ada pula yang mulai mau bersekolah," tutur Galih.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, sebagian masyarakat SAD bekerja di ladang, termasuk menanam kelapa sawit. Mereka juga mencari buah sawit yang tersisa setelah kebun dipanen pemiliknya.
Brondolan atau buah sawit yang ditemukan dikumpulkan untuk dijual. Dari hasil itulah mereka mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian lainnya masih menjalani kehidupan dengan berburu. Hewan yang diburu antara lain rusa, burung truwok, dan babi untuk memenuhi kebutuhan makan. Namun, kehidupan masyarakat SAD di Bukit Suban tidak sepenuhnya seragam.
"Ada yang masih hidup berpindah-pindah di hutan. Ada pula yang sudah memilih menetap di rumah. Mereka yang menetap mulai bekerja dengan menanam sawit dan menjadi buruh. Dalam kesehariannya, mereka juga sudah mengenakan pakaian seperti masyarakat pada umumnya," cerita Galih.
Sementara sebagian masyarakat yang masih menjalani kehidupan tradisional memiliki cara berpakaian berbeda. Perempuan yang belum menikah menggunakan penutup dada dan penutup celana. Perempuan yang sudah menikah tidak menggunakan penutup dada. Sementara laki-laki menggunakan celana yang terbuat dari kain yang dirajut.
Menurut Galih, di Punti Kayu 2, perubahan dan tradisi berjalan berdampingan. Sebagian masyarakat mulai menetap, bekerja, dan menyekolahkan anak. Sebagian lainnya masih memilih melangun dan mempertahankan kehidupan yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Dakwah yang Hadir dalam Keseharian
Selama lebih dari tiga minggu, Galih tinggal bersama masyarakat dan menjalani keseharian di tengah keterbatasan fasilitas. Dakwah baginya tidak hanya berlangsung ketika mengajar mengaji.
Ia hadir dalam keseharian masyarakat, membantu pekerjaan di ladang, mengikuti kegiatan warga, dan berusaha memahami kehidupan yang dijalani masyarakat SAD.
Dari sana, Galih melihat bahwa masyarakat Punti Kayu 2 sedang berada di antara tradisi dan perubahan. Di tempat itu, ia belajar bahwa dakwah tidak selalu dimulai dari mimbar.
Catatan Redaksi: Program Dai Penggerak 3T merupakan wujud nyata khidmat jamiyah Nahdlatul Ulama untuk menyebarkan ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah ke pulau-pulau terluar Indonesia.
Program ini didukung oleh dana infak atau donasi yang dihimpun melalui NU Online Super App. Bagi masyarakat yang ingin berkontribusi, silakan klik https://filantropi.nu.or.id/galang-dana/mari-hadirkan-dai-penggerak-di-pelosok-nusantara.