Nasional

Kualifikasi Formal Tak Cukup untuk Kerja, Wisudawan Harus Adaptif

Ahad, 27 September 2026 | 17:00 WIB

Kualifikasi Formal Tak Cukup untuk Kerja, Wisudawan Harus Adaptif

Wisudawan Unusia di TMII Jakarta, Ahad (27/9/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)

Jakarta, NU Online

 

Ketua Tim Kerja Sistem Informasi LLDikti Wilayah 3T Wiji Murdoko meminta lulusan Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) tidak berhenti pada capaian akademik setelah menyelesaikan pendidikan. Para wisudawan dituntut mampu beradaptasi dengan perubahan dunia kerja serta tetap memegang teguh integritas dan adab.

 

Pesan tersebut disampaikan Wiji dihadapan para Wisuda XII Unusia di TMII Indonesia, Jakarta pada Ahad (27/9/2026).

 

Menurutnya, mengelola perguruan tinggi di tengah era transformasi membutuhkan komitmen terhadap penjaminan mutu, pengembangan kapasitas dosen, hingga relevansi kurikulum dengan kebutuhan masyarakat.

 

"Saya mengapresiasi Unusia yang terus memperkuat tata kelola pendidikan sehingga dapat melahirkan sarjana yang siap terjun ke tengah masyarakat," katanya.

 

Wiji mengatakan, arah kebijakan pendidikan tinggi saat ini menekankan pentingnya pendidikan yang memberikan dampak nyata. Perguruan tinggi, kata dia, tidak boleh menjadi menara gading yang terpisah dari persoalan di masyarakat.

 

"Perguruan tinggi tidak boleh lagi menjadi menara gading yang terisolasi dari tantangan riil di lapangan," ujar Wiji.

 

Menurutnya, proses pembelajaran, karya ilmiah, hingga lulusan yang dihasilkan perguruan tinggi harus memberikan dampak yang terukur bagi kemaslahatan publik dan daya saing bangsa.

 

Prinsip tersebut, lanjut Wiji, sejalan dengan semangat pengabdian Unusia yang mengedepankan nilai keislaman moderat dan wawasan kebangsaan. 

 

"Ilmu yang diperoleh di bangku kuliah diharapkan menjadi solusi atas berbagai persoalan masyarakat, mulai dari ekonomi, pendidikan, sosial, hingga dinamika keagamaan," jelasnya.

 

Kepada para wisudawan, Wiji menyampaikan dua pesan sebagai bekal memasuki dunia profesional. Pertama, lulusan perlu memiliki kelenturan dalam beradaptasi. Ijazah sarjana, magister, maupun doktor menjadi penanda selesainya satu jenjang akademik, tetapi bukan akhir dari proses belajar.

 

"Di dunia kerja, kualifikasi formal saja tidak cukup. Dinamika industri berubah sangat cepat. Saudara dituntut memiliki kelenturan berpikir dan keberanian untuk terus belajar," katanya.

 

Ia meminta para lulusan tidak terpaku pada satu keahlian. Kemampuan untuk mempelajari hal baru dan menyesuaikan diri dengan perubahan menjadi bagian penting dalam menghadapi persaingan dunia kerja.

 

Kedua, Wiji mengingatkan pentingnya menjaga integritas, adab, dan nilai kebangsaan. Terlebih, perkembangan kecerdasan buatan dan otomatisasi membuat sejumlah pekerjaan teknis dan operasional dapat dilakukan oleh mesin.

 

"Namun integritas, kejujuran, dan adab tetap menjadi domain eksklusif," ujarnya.

 

Pesan serupa disampaikan Ketua Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) Unusia Jakarta Juri Ardiantoro. Ia mengingatkan lulusan agar tidak hanya mengandalkan capaian akademik, tetapi juga mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja dan kehidupan nyata di masyarakat.

 

Juri mengatakan, para wisudawan merupakan bagian dari angkatan kerja baru yang setiap tahun bertambah sekitar 1,8 juta hingga 2 juta orang. Sementara itu, masih terdapat jutaan penduduk usia produktif yang belum memperoleh pekerjaan.

 

Karena itu, ia berharap lulusan Unusia dapat segera memasuki dunia kerja sekaligus memberikan kontribusi di tengah masyarakat.

 

"Mudah-mudahan lulusan Unusia ini tidak masuk dalam 7,2 juta tadi, tapi langsung masuk ke 155 juta, langsung kerja," tandas Juri.