Nasional

Lakpesdam PBNU Siapkan Ekosistem Inovasi Digital bagi Santri dan Nahdliyin

Sabtu, 20 Juni 2026 | 20:00 WIB

Lakpesdam PBNU Siapkan Ekosistem Inovasi Digital bagi Santri dan Nahdliyin

Road to Nahdliyin Innovation Summit (NIAS) 2026 yang digelar di Pondok Pesantren Al Badrul Falah Ploso, Mojo, Kediri, Sabtu (20/6/2026). (Foto: NU Online/Suwitno)

Kediri, NU Online

 

Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU bersama Badan Pengembangan Inovasi Strategis (BPIS) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggelar Talkshow Inovasi II bertajuk "The Future of Nahdliyin: Peluang, Tantangan, dan Transformasi di Era AI". 

 

Acara ini merupakan bagian dari rangkaian program Road to Nahdliyin Innovation Summit (NIAS) 2026 yang digelar di Pondok Pesantren Al Badrul Falah Ploso, Mojo, Kediri, Sabtu (20/6/2026).

 

Forum ini menjadi ruang bagi santri dan kader Nahdlatul Ulama (NU) untuk memahami perkembangan teknologi sekaligus menyiapkan diri menghadapi era digital.

 

Kegiatan yang diselenggarakan Lakpesdam PBNU itu mendapat sambutan antusias dari para peserta, khususnya kalangan santri pesantren salaf yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap isu-isu teknologi mutakhir.

 

Salah seorang peserta, Nisrina Wafda, santri Al Badrul Falah, mengaku kegiatan tersebut membuka wawasannya tentang perkembangan teknologi, terutama kecerdasan buatan atau AI.

 

“Sebagai santri pondok salaf, acara seperti ini menambah wawasan. Awalnya kami tidak terlalu melek teknologi, tetapi setelah mengikuti kegiatan ini jadi tahu bahwa santri juga harus mulai memahami perkembangan teknologi,” ujarnya.

 

Menurut Nisrina, pembahasan mengenai AI membuat para santri lebih memahami perkembangan zaman yang bergerak sangat cepat. Ia berharap kegiatan serupa dapat kembali digelar, bahkan disertai pelatihan yang lebih mendalam.

 

“Harapannya ada talkshow seperti ini lagi. Kalau bisa ada pelatihan tambahan tentang teknologi karena kadang dalam satu kegiatan waktunya terbatas, sementara kami ingin belajar lebih banyak,” katanya.

 

Senada dengan itu, peserta lainnya, Farikha Maya, menilai pemahaman tentang AI perlu terus diperdalam agar masyarakat tidak sekadar mengikuti tren tanpa memahami manfaat dan risikonya.

 

“Ketika sekarang banyak orang membicarakan AI, kita perlu belajar lebih dalam agar tahu bagaimana menyikapinya ke depan,” ujarnya.

 

Sementara itu Sekretaris Lakpesdam PBNU Ufi Ulfiyah, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian menuju Nahdlatul Ulama Innovation Summit (NIAS) yang akan digelar PBNU.

 

Menurutnya, sebelum forum puncak berlangsung, PBNU melakukan sosialisasi dan diskusi di berbagai daerah untuk menyebarluaskan gagasan inovasi sekaligus menghimpun ide-ide kreatif dari kader-kader NU.

 

"Melalui kegiatan ini kami ingin menghimpun ide-ide kreatif, aksi-aksi inovatif yang dimiliki kader-kader NU. Nantinya berbagai gagasan itu akan menjadi bagian dari NIAS,” jelasnya.

 

Ufi mengatakan, NIAS diharapkan menjadi platform yang mempertemukan kader-kader NU yang memiliki gagasan dan inisiatif kreatif dengan publik serta berbagai pemangku kepentingan.

 

Menurutnya, inovasi tidak cukup hanya mengandalkan individu, tetapi memerlukan ekosistem yang mendukung agar ide-ide tersebut dapat berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas.

 

"Kader Nahdliyin memiliki banyak ide kreatif dan inovatif. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang mendukung agar kreativitas dan inovasi itu bisa tumbuh,” katanya.

 

Ia menambahkan, upaya membangun ekosistem inovasi tersebut sejalan dengan visi transformasi yang diusung Ketua Umum PBNU, KH Yahya Cholil Staquf. Dengan jumlah warga yang sangat besar, NU membutuhkan platform yang efektif dan efisien untuk memperkuat kolaborasi, pengembangan gagasan, serta pemanfaatan teknologi digital.

 

Ufi juga menilai sejumlah agenda strategis yang dibahas dalam Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) NU memiliki irisan kuat dengan penguatan transformasi digital dan pengembangan ekosistem inovasi di lingkungan Nahdlatul Ulama.

 

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Suara Surabaya, Rudi, menyoroti besarnya potensi digital Indonesia yang harus dibaca oleh generasi muda, termasuk kalangan santri. Ia menyebut Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah pengguna internet terbesar di dunia.

 

"Lebih dari 80 persen penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan internet. Kita juga termasuk empat besar negara dengan populasi pengguna internet terbesar di dunia,” ujarnya.

 

Selain itu, tingkat kepemilikan perangkat yang terhubung dengan internet di Indonesia juga sangat tinggi. Berdasarkan data April 2026, sekitar 90 persen masyarakat telah memiliki perangkat yang terkoneksi dengan internet.

 

Menurut Rudi, kondisi tersebut membuat kemampuan memahami teknologi digital menjadi kebutuhan yang tidak bisa dihindari, terutama ketika para santri nantinya terjun ke masyarakat dan dunia kerja.

 

"Ketika teman-teman keluar dari pondok, apa pun profesinya, baik menjadi entrepreneur maupun profesional, akan berhadapan dengan calon konsumen dan masyarakat yang sangat melek internet,” katanya.

 

Ia menambahkan, penggunaan Artificial Intelligence (AI) kini telah menjadi bagian penting dalam berbagai bidang pekerjaan. Karena itu, generasi muda perlu memahami teknologi tersebut agar mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

 

"Penggunaan AI sekarang menjadi sangat mandatori di berbagai pekerjaan. AI akan mempermudah apa yang kita lakukan, termasuk dalam kreasi, inovasi, dan pengembangan kreativitas," jelasnya.