Sebentar lagi Ramadhan akan berakhir. Tidak lama lagi kita akan menyongsong Hari Raya Idul Fitri. Umat Islam di seluruh dunia merayakan kemenangan atas perjuangannya selama satu bulan menjalankan perintah Allah berupa menahan lapar dan dahaga, serta melawan hawa nafsu. Hakikat dari kemenangan ini adalah mengembalikan manusia kepada fitrah kesucian, bersih dari dosa bagaikan bayi yang baru lahir dari rahim ibunya.
Namun, untuk mencapai kemenangan yang hakiki tersebut, kita perlu mempersiapkan diri sejak sekarang. Kita tidak hanya dituntut untuk melaksanakan ibadah puasa sesuai dengan rukun dan syaratnya serta meninggalkan hal-hal yang dilarang dalam agama ketika berpuasa saja, tetapi kita juga harus membersihkan jiwa dan hati dari kotoran-kotoran nafsu yang dapat menghalangi kesucian tersebut.
Dalam Al-Quran Allah swt menjanjikan kenikmatan abadi bagi orang-orang yang berhasil menundukkan hawa nafsunya. Allah swt berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا (9) وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا
Artinya: "Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya". (QS As-Syams: 9-10).
Dalam ayat tersirat perintah melakukan tazkiyatun nafs, yaitu membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran hati yang dapat menghalangi pantulan cahaya kebenaran. Orang yang mampu membersihkan hatinya akan mendapatkan kemenangan yang hakiki, sebaliknya orang yang membiarkan hatinya kotor dengan berlumuran dosa dan penyakit hati lainnya akan mengalami kerugian yang menyakitkan di dunia dan di akhirat.
Sayyid Muhammad Thanthawi menjelaskan, tazkiyatun nafs dapat diperoleh dengan cara istiqamah melakukan perintah dan ketaatan kepada Allah, serta berusaha semaksimal mungkin untuk membersihkan hati dari perbuatan maksiat dan penyakit hati. Sedangkan kekotoran hati muncul akibat perbuatan maksiat dan dosa-dosa yang terus menerus dilakukan. (Tafsir al-Wasith, [Kairo, Dar Nahdhah: 1998], juz XV, halaman 413).
Ramadhan adalah madrasah ruhani. Selama satu bulan penuh kita ditempa untuk menahan amarah dan hawa nafsu yang kerap kali menjerumuskan manusia ke jurang kenistaan. Setelah kita semua menjalani semua pendidikan yang diberikan Ramadhan, barulah kemudian kita akan menyongsong hari kemenangan, yakni Hari Idul Fitri.
Idul Fitri adalah hari kemenangan di mana semua manusia kembali kepada fitrah kesucian setelah sebulan penuh menjalani pendidikan karakter di bulan Ramadhan. Untuk menggapai kemenangan hakiki, kita juga harus membersihkan hati kita dari kebencian, kedengkian dan kotoran-kotoran lain yang menutupi cahaya hati. Mari kita lepaskan semua beban dan kegelapan yang menyelimuti hati serta saling memaafkan dan kasih mengasihi dengan sesama di hari kemenangan ini.
Begitu pentingnya posisi hati, sampai-sampai ia diibaratkan seperti raja bagi anggota tubuh yang lain. Dalam sebuah negara, presiden yang menjabat sebagai kepala negara memiliki posisi yang penting dan strategis. Kemakmuran dan kemunduran suatu negara sangat bergantung kepada kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh kepala negara. Begitu pula dengan hati. Ia menjadi indikator kebaikan dan kualitas diri seseorang.
Dalam hadis, Rasulullah saw bersabda:
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ، صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ، فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Artinya: "Ketahuilah sesungguhnya di dalam jasad itu ada segumpal daging. Apabila ia baik baik baik pula seluruh badan. Namun, apabila ia buruk maka buruk pula seluruh badan. Segumpal daging itu adalah hati." (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Membiarkan penyakit-penyakit hati terutama di Hari Idul Fitri dapat merusak kesucian yang telah dibentuk dengan susah payah selama satu bulan lamanya. Karenanya, marilah kita berupaya untuk membuang perasaan sombong, iri, dengki serta permusuhan dengan sesama manusia. Jangan sampai momen lebaran ini dijadikan sebagai ajang untuk pamer baju baru, perhiasan baru dan pernak-pernik lebaran lainnya. Karena hal itu dapat memicu perasaan sombong di dalam hati serta memancing sikap iri dari sesama.
Penyakit hati jugalah yang kerap kali menjadi sumber ketidakharmonisan dan lingkungan toxic di sekeliling kita. Orang yang masih menyimpan dendam kepada saudara atau kerabatnya akan merusak momen-momen kebersamaan dan kekeluargaan yang sudah menjadi tradisi di setiap hari lebaran. Karenanya, mari kita jadikan momentum Idul Fitri ini menjadi ajang untuk saling memaafkan dan saling rida terhadap sesama. Karena hati yang legowo untuk meminta dan memberi maaf merupakan salah satu indikasi kebersihan hati seseorang.
Semoga kita semua diberikan kekuatan oleh Allah swt untuk memaksimalkan waktu-waktu terakhir di Bulan Ramadhan ini serta mampu membersihkan hati dari belenggu hawa nafsu, dengan harapan kita mendapat keberkahan bulan suci Ramadhan dan di Hari Raya Idul Fitri nanti kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah. Amin ya Rabbal 'alamin.
Ustadz Muhammad Zainul Mujahid, Alumnus Ma’had Aly Salafiyah Syafi’iyah Situbondo, kini mengabdi di Pondok Pesantren Manhalul Ma’arif Lombok Tengah.