Ramadhan

Kultum Ramadhan: Hidup Tenang bersama Allah tanpa Takut dan Sedih

Senin, 9 Maret 2026 | 03:05 WIB

Kultum Ramadhan: Hidup Tenang bersama Allah tanpa Takut dan Sedih

Kultum Ramadhan (Freepik)

Rasa takut dan sedih adalah hal yang wajar dimiliki setiap manusia. Tidak ada seorang pun yang hidupnya bebas dari kedua perasaan ini. Justru, merasakannya adalah bagian dari kodrat kita sebagai manusia.

 

Para sahabat Nabi pun pernah mengalaminya. Namun, dengan bimbingan Nabi, mereka belajar menghadapi ketakutan itu, sehingga Islam bisa terus berkembang hingga hari ini. Salah satu contohnya terjadi saat ada kabar bahwa Nabi akan dibunuh oleh orang-orang Quraisy. Nabi pun bersama Abu Bakar al-Shiddiq bersembunyi di gua Tsur.



Ketika mereka melihat kaki orang-orang kafir yang mencari mereka, Abu Bakar mulai cemas dan takut ketahuan. Nabi menenangkannya dengan kata-kata yang luar biasa: “Bagaimana menurut mu, jika ada dua orang dan yang ketiga adalah Allah?”

 

Peristiwa tersebut juga terekam dalam Al-Quran yang berbunyi:


إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ


Artinya, "Ketika Nabi Muhammad berkata kepada temannya (Abu Bakar): ‘jangan sedih, sesungguhnya Allah bersama kita’, kemudian Allah menurunkan ketenangan terhadapnya." (QS. al-Taubah 40).

 

Menurut Wahbah al-Zuhaili dalam kitab Tafsir al-Munir (juz 10, hal. 16), ketenangan (sakinah) yang dimaksud di sini adalah perlindungan dan keistimewaan kenabian Muhammad. Jadi, ketika Nabi meminta Abu Bakar untuk tenang, Allah langsung mewujudkannya.

 

Kisah ini mengingatkan kita bahwa dalam menghadapi rasa takut, iman dan kepercayaan kepada Allah bisa menjadi perlindungan terbaik, terutama saat berada dalam situasi yang paling menegangkan sekalipun.

 

Lalu, apakah Nabi sendiri tidak pernah merasakan sedih? Jawabannya, sebagai manusia biasa, Nabi Muhammad tentu pernah mengalami kesedihan. Salah satu contohnya terjadi pada peristiwa yang dikenal dengan ‘Amul Huzn atau “Tahun Kesedihan.”

 

Di tahun itu, istri tercinta Nabi, Siti Khadijah, wafat. Hanya dua bulan kemudian, paman yang selalu menjadi pelindung dan penjamin keamanan Nabi, Abu Thalib, juga meninggal dunia.

 

Peristiwa ini menunjukkan bahwa kesedihan adalah bagian dari kehidupan, bahkan bagi seorang Nabi sekalipun. Namun, cara Nabi menghadapi duka dan cobaan selalu penuh keteguhan dan keimanan, menjadi teladan bagi setiap manusia.


Ditinggal pergi selamanya oleh dua orang yang selalu mendukung dan melindungi membuat Nabi sedih yang cukup mendalam. Nabi sebagai makhluk yang paling mulia tetap saja merasakan sedih karena beliau manusia biasa, sehingga kesedihan tersebut memperkuat pengakuan Nabi yang sering disabdakan pada banyak kesempatan: ‘saya ini manusia seperti kalian.’


Dengan demikian, PR selanjutnya adalah mengelola rasa takut dan sedih. Sebab bila tidak dikelola dengan baik akan berdampak pada kehidupan sehari-hari, yang bahkan bisa ke orang lain sehingga menjalani kehidupan ini menjadi tidak terkondisikan.


Dalam Islam, sikap berlebihan dinilai buruk, apa pun itu, termasuk rasa takut dan sedih. Ketika takut mengambil keputusan karena melihat dampak-dampaknya bila sampai gagal, sikap seperti ini akan membuat stagnan dan tidak berkembang. Ini biasanya akibat dari apa yang dikenal hari ini sebagai over thinking.


Masalah finansial, misalnya, atau kebijakan yang menyangkut banyak pihak maka selama sudah melakukan pertimbangan yang sangat matang dan cermat, tidak perlu khawatir lagi akan dampak buruknya. Sebab berhasil atau gagal itu pada umumnya berbanding lurus dengan usaha, yang dalam hal ini berupa memperhatikan berbagai pertimbangan itu.


Rasa sedih juga seperti itu. Islam tidak melarang umatnya bersedih. Agama yang mulia ini hanya mengatur cara mengelola rasa sedih itu. Maka ketika ditimpa musibah, bahkan musibah itu tampak tidak kelihatan ujungnya, di situlah Islam datang membawa ajaran bernama sabar.


Sabar di sini bukan sekedar menerima musibah yang terjadi, melainkan juga mengingat dan menyandarkan kepada Dzat yang Maha Mengatur. Hal ini sebagaimana dianjurkan dalam surat Al-Baqarah ayat 156:

 

الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُون


Artinya, "(orang sabar itu) yaitu orang-orang di mana ketika ditimpa musibah akan berkata sesungguhnya kami milik Allah dan kami akan kembali kepada-Nya."


Imam Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya, Tafsir al-Quran al-‘Azhim, juz 1 h. 467 mengatakan bahwa ucapan istirja’ tersebut merupakan bentuk pengakuan bahwa Allah yang memiliki dan mengatur hamba-hamba-Nya sesuai kehendak-Nya.


Dengan kata lain, kita harus sadar sepenuhnya bahwa kejadian di alam semesta ini, bahkan termasuk dirinya sendiri berada di bawah kekuasaan Allah. Maka sudah seyogyanya kita meminta kepada-Nya agar dianugerahi nasib yang baik dan dijauhkan dari hal-hal buruk.


Selain itu, bila kita sudah sepakat atas kesadaran ini maka kita akan senantiasa mengandalkan-Nya dalam segala aspek kehidupan kita. Rasa takut dan sedih menjadi lebih mudah dijinakkan sehingga tidak memegang penuh kendali atas diri kita.


Ketika kita sudah mengandalkan Allah dalam seluruh urusan maka hidup kita akan tenang. Seberat dan sebanyak apa pun ujian hidup yang menimpa kita tidak akan membuat putus asa sebab kita menyadari bahwa itu berasal dari Allah semata.


Kita tidak akan stres hanya karena keinginan belum terwujud, meskipun kita sudah berusaha semaksimal mungkin. Sebab kita sudah tahu kalau tugas kita itu berusaha, dan hasil itu hak prerogatif-Nya. Maka kita akan, mungkin, sedih dan kecewa, tapi tidak akan berlarut-larut sebab kita meyakini itu adalah yang terbaik dari Allah untuk kita.


Selain dengan mengingat-Nya, rasa takut dan sedih bisa disikapi dengan bersikap tenang. Dalam artian, tidak dilampiaskan dengan perbuatan-perbuatan tercela, apalagi sampai merugikan orang lain. Sikap seperti ini malah justru mendatangkan masalah baru, sehingga bisa membuat kedua rasa itu berlarut-larut.


Padahal dalam menyikapi rasa takut dan sedih memerlukan pikiran yang jernih. Dengan kejernihan itulah seseorang mampu membedakan antara kenyataan dan kekhawatiran yang dibesar-besarkan oleh imajinasi. Ia belajar memberi jeda pada diri sendiri, menata napas, lalu menimbang langkah dengan pertimbangan yang matang.  Dari sikap tenang lahir keputusan yang lebih bijak, dan dari keputusan yang bijak tumbuh keteguhan hati. 

 


Pada akhirnya, rasa takut dan sedih bukan lagi musuh yang menekan, melainkan isyarat yang mengarahkan kita untuk semakin dekat kepada-Nya dan semakin dewasa dalam menyikapi kehidupan.

 

-----
M. Syarofuddin Firdaus, Dosen Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus-Sunnah Ciputat