Sirah Nabawiyah

Kisah Keberanian Imam Hasan al-Bashri Melawan Tirani al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi

Jumat, 19 Juni 2026 | 08:00 WIB

Kisah Keberanian Imam Hasan al-Bashri Melawan Tirani al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi

Ilustrasi melawan tirani. Sumber: Freepik.

Di masa kekhalifahan Bani Umayyah (661 – 750 M | 41 – 132 H), terdapat salah satu gubernur yang sangat ditakuti karena kekejaman dan kesewenang-wenangannya. Dia adalah Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi (661 – 714 M | 40 – 95 H), salah seorang penguasa era kekhilafahan Umayyah di Irak yang terkenal kontroversial karena kebijakannya yang sewenang-wenang hingga melampaui batas, serta kepribadiannya yang sangat kejam.


Di tengah suasana penuh ketakutan itu, hanya sedikit orang yang berani bersuara keras dan lantang menentang kezalimannya. Karena ketika ada yang mencoba menantang kebijakannya, ia akan menghadapi ancaman dan hukuman dari penguasa.


Namun demikian, terdapat salah satu ulama yang tidak gentar terhadap kekejaman al-Hajjaj. Dia adalah Imam Hasan al-Bashri. Ia termasuk segelintir tokoh yang berani menghadapi tirani al-Hajjaj, menyampaikan kebenaran di hadapan banyak orang, serta melontarkan kecaman atas perbuatan-perbuatan buruknya tanpa rasa takut.


Kisah ini kemudian diabadikan oleh Syekh Dr. Abdurrahman al-Basya, salah satu ulama berkebangsaan Syiria, dalam kitab Shuwarun min Hayati at-Tabi’in, cetakan Darul Adab al-Islami, halaman 101-103; juga dikisahkan oleh Syekh Dr. Tahsin Ali Syirwani dalam kitab Alfu Qashshatin wa Qishshah, cetakan al-Manhal Yordania, halaman 21.


Dalam kisahnya, suatu ketika Al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi membangun sebuah istana megah dan indah untuk dirinya sendiri di kota Wasith, Irak. Setelah pembangunan selesai, ia mengundang seluruh penduduk untuk bersama-sama datang guna melihat keindahan bangunan tersebut, sekaligus mendoakan keberkahan bagi dirinya.


Melihat betapa antusiasnya masyarakat saat itu, Imam Hasan al-Bashri tidak ingin melewatkan kesempatan ketika banyak orang berkumpul di satu tempat. Ia pun datang ke lokasi tersebut dengan tujuan memberi nasihat, mengingatkan mereka, serta mengajak mereka untuk sama-sama berani menyuarakan kebenaran kepada penguasa.


Saat tiba di tempat yang baru saja dibangun itu, Hasan al-Bashri melihat kerumunan orang yang sedang mengelilingi istana megah yang menjulang tinggi. Mereka tampak terpesona oleh keindahan bangunan, takjub akan luasnya ruangan-ruangan di dalamnya, dan terpukau oleh seni ukir serta hiasan yang menghiasi bangunan tersebut.


Melihat keadaan itu, Hasan al-Bashri pun berdiri di tengah-tengah mereka kemudian berpidato. Dan di antara ucapan yang ia sampaikan adalah sebagai berikut:


لَقَدْ نَظَرْنَا فِيْمَا ابْتَنَى أَخْبَثُ الْأَخْبَثَيْنِ، فَوَجَدْنَا أَنَّ فِرْعَوْنَ شَيَّدَ أَعْظَمَ مِمَّا شَيَّدَ، وَبَنَى أَعْلَى مِمَّا بَنىَ، ثُمَّ أَهْلَكَ اللهُ فِرْعَوْنَ وَأَتَى عَلىَ مَا بَنىَ وَشَيَّدَ... لَيْتَ الْحَجَّاجُ يَعْلَمُ أَنَّ أَهْلَ السَّمَاءِ قَدْ مَقَتُوْهُ، وَأَنَّ أَهْلَ الْأَرْضِ قَدْ غَرُّوْهُ


Artinya, “Sungguh, kami telah melihat apa yang pernah dibangun oleh orang-orang paling jahat. Maka kami menemukan bahwa Firaun pernah mendirikan bangunan yang jauh lebih besar, dan membangun tempat tinggal yang jauh lebih tinggi dari apa yang dibangun orang ini. Namun akhirnya Allah membinasakan Firaun, dan menghancurkan segala yang ia bangun dan ia dirikan.
 

Seandainya Al-Hajjaj tahu bahwa sesungguhnya penghuni langit sangat membenci perbuatannya, dan penghuni bumi hanyalah orang-orang yang telah tertipu olehnya.”


Imam Hasan al-Bashri terus berbicara dengan nada tegas. Sampai akhirnya, banyak orang terkesan dan bertepuk tangan, dan ada juga yang merasa khawatir serta takut Hasan al-Bashri akan terkena murka al-Hajjaj. Maka orang-orang yang khawatir itu pun berkata kepadanya,


Cukup, wahai Abu Said (Hasan al-Bashri)… cukup sudah engkau berbicara demikian.”


Namun alih-alih berhenti dari pidatonya, Imam Hasan al-Bashri justru menjawab dengan tegas:


لَقَدْ أَخَذَ اللهُ الْمِيْثَاقَ عَلىَ أَهْلِ الْعِلْمِ لِيُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلاَ يَكْتُمُوْنَهُ


Artinya, “Sesungguhnya Allah telah mengambil janji dengan para ahli ilmu, bahwa mereka wajib menjelaskan kebenaran kepada manusia dan tidak boleh menyembunyikannya.”


Keesokan harinya, al-Hajjaj masuk ke ruang kerjanya dengan wajah memerah karena menahan amarah. Ia pun berkata kepada orang-orang yang ada di hadapannya:


“Celaka dan binasa akan menimpa kalian semua! Kemarin ada seorang hamba dari penduduk Bashrah yang berani berdiri dan mengatakan apa saja yang ia kehendaki tentang kami, namun tidak ada satu pun di antara kalian yang berani menegur dan membantahnya. Demi Allah, sungguh akan aku buat kalian semua meminum darahnya, wahai sekumpulan orang penakut!”


Setelah mengatakan demikian, al-Hajjah memerintahkan agar pedang dan alas pemenggalan kepala disiapkan dan diletakkan di hadapannya. Tak cukup hanya itu, ia juga memanggil algojo agar berdiri siap di depannya. Kemudian, ia mengutus beberapa pengawalnya untuk menjemput Hasan al-Bashri dan membawanya ke hadapannya.


Tak lama setelah itu, Hasan al-Bashri pun datang. Semua mata tertuju kepadanya, dan hati orang-orang yang ada di tempat itu berdebar-debar karena takut. Sejurus kemudian, al-Hajjaj meminta Hasan al-Bashri untuk mendekatinya. Namun, ketika ia melihat pedang, alas pemenggalan kepala, serta algojo yang sudah siap, ia menggerakkan bibirnya seolah sedang membaca doa.


Kemudian, ia pun berjalan menghadap al-Hajjaj dengan penuh wibawa. Namun, ketika al-Hajjaj melihat sosok Hasan al-Bashri yang tampak tenang dan berwibawa, ia justru merasa sangat segan dan takut kepadanya. Maka ia yang awalnya sangat marah, tiba-tiba berkata dengan penuh lembut,


Mendekatlah ke sini, wahai Abu Said... mendekatlah ke sini.”


Melihat Al-Hajjaj yang terus menyuruhnya mendekat dengan bahasa yang lembut, orang-orang yang melihatnya merasa heran dan takjub dengan sikapnya. Bagaimana mungkin sosok al-Hajjaj yang sebelumnya naik pitam, bahkan bersumpah akan memenggal kepalanya dan meminumkan darahnya kepada pejabat-pejabatnya saat itu. Bahkan, ia mempersilakan Hasan al-Bashri untuk duduk di tempatnya sendiri.


Setelah Hasan al-Bashri duduk, al-Hajjaj menoleh kepadanya dan mulai bertanya tentang beberapa hal yang berkaitan dengan agama. Setiap pertanyaan yang disampaikan kepada Hasan al-Bashri ia jawab dengan jawaban yang jelas dan detail. Dan setelah semua itu selesai, al-Hajjaj berkata kepadanya:


أَنْتَ سَيِّدُ الْعُلَمَاءِ يَا أَبَا سَعِيْدٍ


Artinya, “Engkau adalah pemimpin para ulama, wahai Abu Said.”


Kemudian ia memanggil pelayannya untuk membawakan minyak wangi yang sangat harum kepadanya, lalu mengoleskan minyak tersebut pada Hasan al-Bashri, dan akhirnya mengantarkannya pergi dengan penuh hormat.


Setelah Hasan al-Bashri keluar dari ruangan tersebut,, kepala pengawal al-Hajjaj mendatanginya dan berkata: “Wahai Abu Said, sesungguhnya al-Hajjaj memanggilmu dengan niat berbeda dari apa yang akhirnya ia lakukan kepadamu. Aku melihatnya tadi saat engkau datang. Kemudian engkau melihat pedang serta alas pemenggalan kepala; engkau menggerakkan bibirmu. Apa yang engkau baca saat itu?”


Imam Hasan al-Bashri pun menjawab, “Aku membaca doa ini:


يَا وَلِيَّ نِعْمَتِي وَمَلاَذِي عِنْدَ كُرْبَتِي، اجْعَلْ نِقْمَتَهُ بَرْدًا وَسَلاَمًا عَلَيَّ كَمَا جَعَلْتَ النَّارَ بَرْدًا وَسَلاَمًا عَلىَ إِبْرَاهِيْمَ


Artinya, “Wahai Pemelihara segala nikmatku dan tempat berlindung saat aku dilanda kesempitan, jadikanlah kemurkaannya itu menjadi kesejukan dan keselamatan bagiku, sebagaimana Engkau menjadikan api menjadi sejuk dan selamat bagi Nabi Ibrahim.”


Itulah kisah Imam Hasan al-Bashri yang dengan berani menantang kesewenang-wenangan al-Hajjaj bin Yusuf ats-Tsaqafi, yang kemudian kisahnya diabadikan oleh Syekh Dr. Abdurrahman al-Basya dalam kitab Shuwarun min Hayati at-Tabi’in, cetakan Darul Adab al-Islami, halaman 101-103; serta oleh Syekh Dr. Tahsin Ali Syirwani dalam kitab Alfu Qashshatin wa Qishshah, cetakan al-Manhal Yordania, halaman 21.


Dalam kisah tersebut, Imam Hasan al-Bashri dengan berani menyuarakan kebenaran di hadapan penguasa yang kejam, meski nyawanya terancam. Dan kisah ini juga membuktikan bahwa iman dan ketergantungan penuh kepada Allah merupakan kekuatan besar yang mampu meredakan amarah penguasa paling bengis sekalipun. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bisshawab.


Ustadz Sunnatullahpengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop, Bangkalan, Jawa Timur.