Tafsir

Nashrum Minallah wa Fathun Qarib: Menjemput Pertolongan Allah di Tengah Jalan yang Terjal

Ahad, 28 Juni 2026 | 20:52 WIB

Nashrum Minallah wa Fathun Qarib: Menjemput Pertolongan Allah di Tengah Jalan yang Terjal

Nashrun Minallah wa Fathun Qarib (Magnific)

Ada masa-masa ketika perjuangan terasa begitu panjang. Kita sudah berusaha menjaga kejujuran, tetapi kebohongan justru tampak lebih menguntungkan. Kita berupaya mempertahankan nilai-nilai agama, tetapi arus zaman seolah bergerak ke arah yang berlawanan. Kita ingin tetap istiqamah, namun godaan datang dari segala penjuru.

 

Dalam situasi seperti itu, manusia sering bertanya: apakah perjuangan ini akan berbuah? Apakah pengorbanan yang dilakukan selama ini benar-benar akan menemukan titik terang?

 

Al-Qur'an menjawab kegelisahan tersebut dengan sebuah kalimat yang singkat, tetapi sarat harapan. Dalam surat Ash-Shaff ayat ke-13, Allah berfirman;

 


نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّر الْمُؤْمِنِينَ

 

Nashrum minallâhi wa fat-ḫung qarîb, wa basysyiril-mu'minîn
 

Artinya, “(Yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin.” (QS. Ash-Shaff, [61]: 13).

 

Korelasi dengan Ayat sebelumnya


Namun sebelum membahas lebih lanjut perihal tafsir dari ayat di atas, penting untuk dipahami bahwa ayat ini tidak berdiri sendiri dan tidak bisa dilepaskan dari rangkaian ayat-ayat sebelumnya. 


Oleh sebab itu, mengetahui ayat-ayat sebelumnya yang memiliki hubungan dengannya akan menjadikan pemahaman kita lebih utuh dan lebih sempurna. Berikut ini adalah ayat-ayatnya:

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ (10) تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ (11) يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ (12) وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ (13)

 

Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang (dapat) menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (Caranya) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.


 
(Jika kamu beriman dan berjihad,) niscaya Allah mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan ke tempat-tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn.

 

Itulah kemenangan yang agung. (Ada balasan) lain yang kamu sukai, (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin.” (QS. Ash-Shaff, [61]: 10-13).

 

Setelah mengetahui keterikatan ayat di atas dengan serangkaian ayat-ayat sebelumnya, mari kita lanjut pada pembahasan pokok sesuai dengan judul tema ini, mulai dari sebab turunnya ayat (asbabun nuzul), hingga menelusuri penafsiran dari frasa ayat “nashrum minallâhi wa fat-ḫung qarîb” di atas.

 

Sebab Turunnya Ayat dan Penafsirannya


Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa ayat 10 hingga 13 dalam surat Ash-Shaff di atas merupakan satu rangkaian pembahasan yang saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan antar satu dengan yang lain. Karena itu, pembahasan ini tidak dapat disederhanakan hanya dengan membahas asbabun nuzul ayat ke 13 tetapi juga perlu melihat ayat 10. Dan berikut uraiannya:

 

Merujuk penjelasan Imam Abu Jarir at-Thabari, dengan mengutip riwayat yang berasal dari Abu Shalih, bahwa sebab turunnya ayat ini berawal dari keinginan para sahabat untuk mengetahui amalan yang paling dicintai dan paling utama di sisi Allah. Maka mereka bertanya kepada Nabi:

 

“Seandainya kami mengetahui amalan apa yang paling disenangi oleh Allah dan lebih utama di sisi-Nya, sudah pasti kamu akan melakukannya.”

 

Pertanyaan para sahabat tersebut kemudian mendapatkan jawaban langsung dari Allah swt dengan menurunkan beberapa ayat Al-Qur’an, mulai dari ayat ke-10 hingga ayat ke-13 surat Ash-Shaff di atas. Simak sebagian kutipan dari penjelasan at-Thabari berikut ini:

 

عَنْ أَبِي صَالِحٍ قَالَ: قَالُوا: لَوْ كُنَّا نَعْلَمُ أَيّ الْأَعْمَالِ أَحَبّ إِلىَ اللهِ وَأَفْضَلُ، فَنزلَتْ: يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

 

Artinya, “Dari Abu Shalih ia berkata: Mereka (para sahabat) berkata, ‘Seandainya kami mengetahui amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah dan paling utama?’ Maka turunlah ayat: ‘Wahai orang-orang yang beriman, maukah kamu Aku tunjukkan suatu perdagangan yang (dapat) menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?’” (Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an, [Makkah: Dar at-Tarbiyah, t.t.], jilid XXIII, halaman 354).

 

Melalui ayat lanjutannya, Allah kemudian memberikan jawaban atas pertanyaan para sahabat tersebut, yang amalan ini disebut sebagai perdagangan (tijarah) menguntungkan yang dapat dilakukan oleh setiap manusia. 


Adapun amalan yang menguntungkan itu setidaknya ada tiga dalam ayat ini, yaitu: (1) beriman kepada Allah swt; (2) beriman kepada Rasulullah; dan (3) berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa.

 

Kemudian setelah Allah menjelaskan amalan-amalan paling utama dan paling dicintai oleh-Nya, Dai kembali menegaskan bahwa amalan itulah yang terbaik bagi mereka jika mereka benar-benar mengetahui hakikat kebaikan yang sesungguhnya (dzâlikum khairul lakum ing kuntum ta’lamûn).

 

Selanjutnya setelah menyebutkan amalan-amalan mulia berupa iman kepada-Nya, iman kepada Rasulullah, dan berjihad dengan harta dan jiwa, Allah kemudian memberikan jaminan agung sebagaimana ditegaskan dalam ayat 12 di atas, berupa ampunan atas dosa-dosa mereka, dimasukkan ke dalam surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, serta tempat tinggal yang indah di dalam surga Adn.

 

Tak hanya memberikan jaminan berupa ampunan dosa, dimasukkan ke dalam surga, hingga tempat tinggal di dalamnya, Allah juga menjanjikan karunia lain yang sangat disukai dan diharapkan oleh orang beriman, karunia itu adalah nashrum minallâhi wa fat-ḫung qarîb, yaitu pertolongan yang datang langsung dari-Nya serta kemenangan dalam waktu yang dekat.

 

Apa maksud dari nashrum minallâhi wa fat-ḫung qarîb

 

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa frasa ayat “nashrum minallâhi wa fat-ḫung qarîb” ini merupakan bagian dari janji Allah kepada hamba-hamba-Nya yang beriman kepada-Nya, beriman pada apa yang dibawa oleh Rasul-Nya, serta berjihad di jalan-Nya menggunakan harta dan jiwa mereka.

 

Maka siapa saja yang melakukan amalan tersebut, dia akan segera mendapatkan jaminan nashrum minallâhi wa fat-ḫung qarîb. Salah satu contohnya adalah sebagaimana yang didapatkan oleh para sahabat Rasulullah.

 

Setelah mereka beriman kepada-Nya, beriman pada ajaran yang dibawa Rasul-Nya, serta tulus dengan ikhlas berjihad dengan harta dan jiwa mereka, Allah benar-benar menganugerahkan pertolongan dan kemenangan kepada mereka sebagaimana yang dijanjikan dalam ayat ini.

 

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syekh Ahmad ibn Ajibah al-Hasani, pertolongan dan kemenangan yang diraih oleh para sahabat di antaranya adalah penaklukan Kota Makkah (Fathu Makkah) dan kemenangan kaum muslimin atas kaum Quraisy. Bahkan pada masa-masa berikutnya, pertolongan Allah juga terwujud dalam keberhasilan mereka menaklukkan wilayah-wilayah besar seperti Persia dan Romawi.

 

Simak penjelasannya berikut ini:

 

قَوْلُهُ: نَصْرٌ مِّنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ. أَيْ: عَاجِلٌ، وَهُوَ فَتْحُ مَكَّةَ، وَالنَّصْرُ عَلىَ قُرَيْشٍ، أَوْ فَتْحُ فَارِسَ وَالرُّوْمِ

 

Artinya, “Firman Allah: ‘pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat’. Artinya, kemenangan yang segera datang, yaitu penaklukan Kota Makkah dan pertolongan atas kaum Quraisy, atau dapat juga dimaksudkan dengan penaklukan wilayah Persia dan Romawi.” (Al-Bahrur Madid fi Tafsiril Qur’anil Majid, [Beirut: Darul Kutub Ilmiah, 2002 M], jilid VIII, halaman 56).

 

Namun pertanyaannya, bagaimana cara mengimplementasikan ayat “tujâhidûna fî sabîlillâhi bi’amwâlikum wa anfusikum” (berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu) dalam konteks zaman sekarang? Begini caranya:

 

Implementasi Jihad dalam Konteks Sekarang


Perlu diketahui bahwa dalam konteks ayat ini, jihad tidak harus selalu dipahami sebagai perang, tetapi ia memiliki cakupan makna yang lebih luas, di antaranya adalah jihad melawan hawa nafsu, yaitu dengan berusaha mengendalikan diri dari berbagai syahwat yang terlarang, menahan diri dari sifat tamak, serta menumbuhkan kepedulian dan kasih sayang kepada sesama.

 

Penjelasan ini sebagaimana disampaikan oleh Syekh Wahbah bin Musthafa az-Zuhaili ketika menafsiri kata jihad pada ayat di atas, ia mengatakan:

 

وَالْجِهَادُ نَوْعَانِ: جِهَادُ النَّفْسِ، وَهُوَ مَنْعُهَا عَنِ الشَّهَوَاتِ، وَتَرْكُ الطَّمَعِ، وَالشَّفَقَةُ عَلَى الْخَلْقِ وَرَحْمَتُهُمْ. وَجِهَادُ الْعَدُوِّ، وَهُوَ مُقَاوَمَةُ الْأَعْدَاءِ وَرَدُّ عُدْوَانِهِمْ مِنْ أَجْلِ نَشْرِ دِينِ اللهِ تَعَالَى

 

Artinya, “Jihad itu ada dua. Pertama, jihad melawan diri sendiri, yaitu menahannya dari berbagai syahwat, meninggalkan sifat tamak, serta menumbuhkan rasa kasih sayang dan belas kasih kepada sesama makhluk. Kedua, jihad melawan musuh, yaitu menghadapi para musuh dan menolak agresi mereka demi menegakkan dan menyebarkan agama Allah Ta’ala.” (Tafsir al-Munir, [Damaskus: Darul Fikr, 1991 M], jilid XXVIII, halaman 176).

 

Dengan demikian,Hari ini, jihad mungkin bukan lagi mengangkat pedang di medan perang. Jihad bisa berupa perjuangan seorang guru yang terus mendidik di tengah minimnya penghargaan. Jihad bisa berupa upaya orang tua menjaga keluarganya dari kerusakan moral yang semakin masif. 


Jihad bisa berupa keberanian seorang pemuda mempertahankan integritas ketika lingkungan mengajaknya untuk curang. Bahkan jihad bisa berupa perjuangan melawan hawa nafsu yang setiap hari mengajak manusia menjauh dari Allah.

 

Sementara itu, maksud jihad yang berarti perang dalam konteks zaman sekarang adalah didelegasikan kepada tentara yang dilatih dan digaji secara profesional atas perintah kepala negara terkait ancaman keamanan dan pertahanan dari luar negeri dan terikat hukum perang internasional. 

 


Karena itu, kemenangan yang dijanjikan Allah pun tidak selalu berbentuk penaklukan wilayah. Ada kemenangan yang lebih sunyi tetapi jauh lebih mendasar: kemenangan atas diri sendiri. 

 

Seseorang yang berhasil mengalahkan kesombongannya telah meraih kemenangan. Orang yang mampu meninggalkan kemaksiatan yang selama bertahun-tahun membelenggunya juga telah meraih kemenangan. Sebuah masyarakat yang berhasil menumbuhkan keadilan, kepedulian, dan solidaritas sosial sejatinya sedang merasakan buah dari pertolongan Allah.

 

Mungkin itulah sebabnya Al-Qur'an tidak hanya mengatakan fathun qarīb (kemenangan yang dekat), tetapi juga menyebut nashrun minallāh (pertolongan dari Allah). Sebab kemenangan sejati bukan semata hasil kekuatan manusia, melainkan perpaduan antara ikhtiar yang maksimal dan pertolongan Allah yang turun pada waktu yang paling tepat.

 

Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian ini, seorang mukmin hidup dengan keyakinan bahwa tidak ada perjuangan yang sia-sia di sisi Allah. Setiap tetes keringat dalam menegakkan kebenaran, setiap pengorbanan untuk agama, dan setiap usaha menjaga iman akan menemukan balasannya. Wallahu a’lam bisshawab.


----------------
Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Kokop Bangkalan Jawa Timur.