NU di Tengah Politik Masyumi
Walaupun NU mendapat kedudukan Istimewa di partai Masyumi sebagai Dewan Syura, karena mempunyai pendukung terbanyak dalam partai Islam itu, tetapi sejak Kongres partai 1949, posisi NU banyak dipangkas. Dewan Syura yang diketuai Kiai Wahab Hasbullah tidak lagi memiliki kewenangan pengambilan keputusan, tetapi hanya sebagai dewan penasehat. Masyumi telah menjadi oligarki, hanya dikuasai oleh sekelompok orang yang menamakan diri sebagai kelompok intelektual dan professional yang sebenarnya adalah kelompok Islam modernis.
Demikian juga dalam pembagian kekuasaan semua jatah kabinet diambil secara keseluruhan oleh kelompok modernis. Kelompok NU hanya dijadikan mesin pengumpul suara, tetapi tidak diberi suara apalagi jabatan. Hal itu yang membuat Masyumi mengalami krisis dan konflik intern. Bahkan akhirnya akses NU ke partai benar-benar disumbat, contohnya Kiai Wahab berusaha ingin memberi masukan tetapi ditolak, karena ia bukan anggota DPP, urusan politik yang menjadi wewenang ketua partai, dewan syura hanya boleh mengurusi fatwa agama.
Rabu, 16 Juni 2004 | 00:03 WIB