NU Online
Keislaman
Advertisement Banner
600×80
Hikmah

Ramadhan: Ladang Subur bagi yang Menanam dan Penyesalan bagi yang Lalai

NU Online·
Ramadhan: Ladang Subur bagi yang Menanam dan Penyesalan bagi yang Lalai
Ilustrasi takjil. Sumber: NU Online.
Sunnatullah
SunnatullahKolomnis
Bagikan:

Bagaimana mungkin seorang mukmin tidak bergembira, sementara pintu-pintu surga dibukakan? Bagaimana mungkin seorang yang penuh dosa tidak berbahagia, sementara pintu-pintu neraka ditutup rapat? Dan bagaimana mungkin seorang yang berakal tidak bersukacita, sementara pada waktu itu setan-setan dibelenggu? Maka bulan manakah yang dapat menandingi kemuliaan bulan Ramadhan ini?

Demikian sebagian catatan yang ditulis oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali (wafat 795 H) dalam salah satu karya monumentalnya, Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif, cetakan Dar Ibnu Hazm, tahun 2004, halaman 158.

Pada penjelasan di atas, Ibnu Rajab hendak mengajak untuk merenungkan kembali keistimewaan bulan Ramadhan dengan kalimat pertanyaan retoris. Ia seolah bertanya, masih adakah alasan untuk tidak berbahagia pada bulan ini, saat di mana surga dibuka seluas-luasnya, neraka ditutup serapat-rapatnya, dan setan sebagai sumber bisikan kejahatan dibelenggu.

Namun, kebahagiaan itu tidak cukup hanya berhenti pada perasaan saja, tetapi juga harus dibuktikan dengan tindakan nyata. Dan berkaitan dengan hal ini, Ibnu Rajab menggambarkan Ramadhan sebagai ladang tempat setiap orang menanam. Untuk mendapatkan hasil yang sempurna, sebuah tanaman perlu dijaga, disiram, dipupuk, dan dirawat dengan benar hingga tiba masa panen.

Demikian pula dengan Ramadhan. Ia merupakan tempat umat Islam menanam kebaikan. Untuk mendapatkan pahala yang banyak dan hasil yang sempurna, ia perlu merawatnya dengan disiplin ibadah, menjaga lisan dari perkataan yang sia-sia, menundukkan pandangan dari hal-hal yang diharamkan, dan menahan tangan untuk tidak berkomentar jelek dan buruk di media sosial.

Perlu diingat bahwa siapa saja yang hanya menanam tanpa merawat dan tanpa menjaganya dengan baik, maka yang akan ia dapatkan hanyalah penyesalan ketika tiba hari tuai. Simak syair yang ditulis oleh Ibnu Rajab al-Hanbali berikut ini:

أَتَى رَمَضَانُ مَزْرَعَةَ الْعِبَادِ *** لِتَطْهِيرِ الْقُلُوبِ مِنَ الْفَسَادِ *** فَأَدِّ حُقُوقَهُ قَوْلًا وَفِعْلًا *** وَزَادَكَ فَاتَّخِذْهُ لِلْمَعَادِ *** فَمَنْ زَرَعَ الْحُبُوبَ وَمَا سَقَاهَا *** تَأَوَّهَ نَادِمًا يَوْمَ الْحَصَادِ

Artinya, “Ramadhan telah tiba sebagai ladang bagi hamba-hamba Allah *** untuk membersihkan hati dari segala kerusakan *** Maka tunaikanlah hak-haknya, baik dengan ucapan maupun perbuatan *** dan jadikanlah ia sebagai bekal untuk hari kembali (akhirat) *** Maka siapa pun yang menanam benih-benih (kebaikan) namun tidak menyiraminya *** pasti ia akan mengeluh penyesalan di hari panen tiba.” (Lathaiful Ma’arif fima li Mawasimil ‘Am minal Wazhaif, [Beirut: Dar Ibnu Hazm, 2004 M], halaman 159).

Maka setelah memahami perumpamaan luar biasa ini, kira-kira menjadi petani seperti apa yang kita inginkan di bulan Ramadhan? Petani tekun yang setiap hari datang ke ladang untuk menyiram dengan penuh kesabaran? Atau petani musiman yang datang dengan semangat membara di awal, lalu mulai lalai di pertengahan, dan hanya tinggal nama di penghujung? Atau bahkan membiarkan ladangnya terbengkalai karena lebih memilih sibuk dengan urusan yang lain?

Maka sungguh beruntung mereka yang memilih menjadi petani pertama, yaitu petani tekun yang setiap hari datang ke ladang untuk merawat dan memastikan tanamannya baik-baik. Ia akan menuai banyak pahala dan balasan dari Allah swt kelak, karena pada bulan inilah setiap amal ibadah dan kebajikan dilipatgandakan pahalanya oleh Allah.

Puasa, shalat malam, tilawah, sedekah, hingga sekecil-kecil kebaikan yang dilakukan, semuanya bernilai lebih tinggi daripada hari-hari biasa. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah SAW bersabda:

فَاتَّقُوا شَهْرَ رَمَضَانَ فَإِنَّ الْحَسَنَاتِ تُضَاعَفُ فِيهِ وَكَذَلِكَ السَّيِّئَاتُ

Artinya, “Maka bertakwalah kalian pada bulan Ramadhan, karena sesungguhnya kebaikan-kebaikan dilipatgandakan di dalamnya, demikian pula keburukan-keburukan.” (HR. At-Thabrani).

Sebaliknya, sungguh merugi mereka yang memilih menjadi petani musiman. Semangatnya memang membara di awal Ramadhan, namun perlahan meredup seiring berjalannya waktu. Bahkan ia lalai dalam merawat tanamannya, sehingga benih-benih kebaikan yang telah ditanam layu dan tidak menghasilkan buah apa-apa.

Sungguh lebih celaka lagi mereka yang memilih menjadi petani ketiga, yang membiarkan ladangnya terbengkalai sejak awal karena lebih sibuk mengejar urusan lain yang fana dan melupakan musim yang penuh berkah ini. Ia tidak menanam dan tidak pula merawat, karena Ramadhan baginya hanya lewat sebagai rutinitas tanpa makna apa-apa.

Jika di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini saja ia tidak mampu mengubah dirinya menjadi lebih baik, lalu bulan mana lagi yang bisa diharapkan? Mari simak dan renungkan sebagian kutipan dari Ibnu Rajab berikut ini:

يَا مَنْ دَامَتْ خَسَارَتُهُ، قَدْ أَقْبَلَتْ أَيَّامُ التِّجَارَةِ الرَّابِحَةِ. مَنْ لَمْ يَرْبَحْ فِي هٰذَا الشَّهْرِ فَفِي أَيِّ وَقْتٍ يَرْبَحُ؟ مَنْ لَمْ يَقْرُبْ فِيهِ مِنْ مَوْلَاهُ فَهُوَ عَلَى بُعْدِهِ لَا يَرْبَحُ

Artinya, “Wahai orang yang terus berada dalam kerugian, telah datang hari-hari perniagaan yang menguntungkan. Siapa saja yang tidak meraih keuntungan pada bulan (Ramadhan) ini, maka pada waktu kapan lagi ia akan meraih keuntungan? Siapa saja yang tidak mendekat kepada Tuhannya di dalamnya, maka dalam keadaan jauhnya itu ia tidak akan memperoleh keuntungan.” (Ibnu Rajab, 159).

Oleh karena itu, mari manfaatkan bulan Ramadhan yang mulia ini sebaik-baiknya. Raihlah kebaikan dan pahala sebanyak-banyaknya, karena kesempatan ini tidak datang setiap saat. Jadikanlah setiap waktu di bulan Ramadhan sebagai investasi untuk akhirat, agar kelak tidak termasuk orang-orang yang merugi dan menyesal di kemudian hari. Wallahu a’lam bisshawab.

Sunnatullah, Pengajar di Pondok Pesantren Al-Hikmah Darussalam Durjan Kokop Bangkalan Jawa Timur.

Kolomnis: Sunnatullah

Artikel Terkait