Majidah Al-Qurasyiyah, Sufi Perempuan yang Mengejar Ridha Ilahi
NU Online · Kamis, 6 Februari 2020 | 16:45 WIB
Majidah hamba Allah yang waspada atas pergantian waktu. Ia merasa maut terus mendekat seiring perubahan waktu. Ia mengatakan, “Tiada sebuah gerakan yang terdengar dan langkah kaki yang berderap melainkan aku merasa ajalku tiba sesudah itu.”
Majidah tidak habis pikir atas kelalaian kebanyakan manusia di dunia yang fana ini. Baginya, kebanyakan manusia lalai atas perjalanannya yang sangat singkat di dunia. Sering kali mereka menyaksikan bukti-bukti kematian orang-orang di sekitar mereka. Meski demikian, mereka merasa bukti itu tidak dialamatkan kepada mereka.
“Betapa kurangnya akal pikiran ini. Penghuni dunia ini diberitahukan untuk pindah. Tetapi mereka malah bingung dan memacu diri mereka begitu lambat. Seolah bukan mereka yang dituju. Pemberitahuan itu seakan bukan untuk mereka dan yang dituju pada perintah tersebut seolah selain mereka.” (As-Sya’rani, At-Thabaqatul Kubra: 66).
Majidah bukan tipikal hamba Allah yang senang melewatkan waktu tanpa aktivitas ibadah. Menurutnya, ganjaran surga dan ridha Ilahi didapat bukan dengan tangan kosong, tetapi melalui keringat dan jerih payah ibadah.
“Para hamba Allah yang taat itu tidak mendapatkan surga dan ridha Allah kecuali dengan aktivitas ibadah hingga terasa letih.” (As-Sya’rani, At-Thabaqatul Kubra: 66).
Abdurrahman Ibnul Jauzi mengutip Iyas bin Hamzah, seorang penduduk Bahrain, yang bercerita bahwa ada seorang perempuan dari Quraisy yang bernama Majidah. Perempuan yang terkenal salehah itu mengatakan, “Terbit dan tenggelam matahari telah menyusutkan angan-anganku yang panjang. Tiada sebuah gerakan yang terdengar dan langkah kaki yang berderap melainkan aku merasa ajalku tiba sesudah itu.”
Salah satu kedunguan ahli maksiat yang paling menyengsarakan, kata Majidah, adalah penundaan dan istidraj yang memperdaya mereka. Mereka menggelar panjang angan-angan, lalu mengabaikan amal saleh. Kalau mereka menegakkan ajal dan memangkas habis angan-angan itu, niscaya amal saleh itu akan terasa ringan. (Ibnul Jauzi, Shafwatus Shafwah: 1979 M).
Menurut Majidah, amal saleh harus dilakukan saat hati senang atau saat hati sedang penat. Sebenarnya, perhatian terhadap hari akhir sudah cukup menyibukkan orang-orang mukmin.
Terpopuler
1
Kepada Pengurus NU, KH Nurul Huda Djazuli: Tetap Ikhlas demi Menghidupkan NU
2
Seruan 13 Kiai Sepuh tentang AHWA Jelang Pembukaan Munas dan Konbes NU 2026
3
Rais Aam PBNU Kembali Gunakan Bahasa Arab dalam Khutbah Iftitah Munas-Konbes NU 2026
4
Muktamar ke-35 NU Digelar 1-5 Agustus 2026, Penentuan Tuan Rumah Gunakan Empat Kriteria
5
Sidang Pleno II Munas-Konbes, Ketum PBNU Sebut Pelatihan Kader NU Jadi Fondasi Meritokrasi
6
KH Nurul Huda Djazuli: Saya Cinta NU, Saya Tak Ingin Melihat Pengurus Bertengkar, NU dan Pesantren Harus Menguatkan
Terkini
Lihat Semua