Humor Kiai: KH Wahab Chasbullah soal ‘Talafuz Binniyah’
Kiai Wahab justru menilai, ketika hanya duduk di luar kabinet, ulama hanya bisa teriak-teriak tanpa bisa melakukan apa-apa. “Mungkin, bahkan dituduh sebagai pengacau,” tegas Kiai Wahab.
Kumpulan artikel kategori Humor
Kiai Wahab justru menilai, ketika hanya duduk di luar kabinet, ulama hanya bisa teriak-teriak tanpa bisa melakukan apa-apa. “Mungkin, bahkan dituduh sebagai pengacau,” tegas Kiai Wahab.
Agak terkejut atas perintah yang tidak masuk akal itu, RR berkata: “Gus, mohon maaf, apa tidak salah meminta saya membenahi IPTN?” tanya RR.
Gus Dur menyoroti pemberian nama sekolah dengan menyematkan tokoh-tokoh NU. Ia menyayangkan jika nama-nama besar yang dipasang tidak sesuai dengan mutu sekolah atau universitasnya.
Pada suatu sore, ketika Abu Nawas sedang mengajar murid-muridnya, wanita tua dan pemuda Mesir tersebut datang ke rumah Abu Nawas.
Ada sekitar 13 penghargaan dan 10 gelar doktor honoris causa yang diberikan kepada Gus Dur. Sehingga Gus Dur tercatat sebagai tokoh besar dengan gelar doktor honoris causa terbanyak.
Hasan dan Husein adalah kakak beradik dengan selisih umur terpaut sedikit. Di antara pelajaran agama yang sangat dihafal kedua pelajar SD ini adalah hadits “Surga itu di bawah telapak kaki ibu.” Mereka selalu ingat hadits itu terutama di momen Hari Ibu 22 Desember.
Si Menteri ini memberikan sambutan di hadapan warga Madura mengenai prestasi anak bangsa yang mampu merakit pesawat sendiri bahkan bisa merakit pesawat yang bisa turun ke bulan.
Langkah Gus Dur yang dianggap banyak orang nyeleneh, lain daripada yang lain. Apalagi Gus Dur menemui kelompok dalam kongres tersebut.
Atas kondisi badannya itu, Naim memilih untuk memeriksakan diri ke sebuah klinik dokter 24 jam tidak jauh dari tempat tinggalnya.
Jamaah yang terdiri dari campuran anak muda dan orang-orang tua itu terlihat khusyuk menyimak penjelasan Kiai Romdoni selama kurang lebih dua jam.
Pada keesokan harinya, Abu Nawas melihat lalat-lalat mulai menyerbu makanan yang sudah basi itu. Lalu ia bergegas menuju istana dengan membawa makanan basi yang sudah dipenuhi lalat itu sembari membawa pentungan besi.
Suatu ketika Gus Dur didatangi seorang tamu, pemuda dari kota. Setelah mengaji kebangsaan kepada Gus Dur, pemuda tersebut bertanya tentang sebutan yang melekat pada diri Gus Dur.